Konten dari Pengguna

Ketika Perselingkuhan dan Fatherless Membunuh Hasrat Menikah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari VARADILLA HAAFIZHA NISA' tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://chatgpt.com/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://chatgpt.com/

Dalam beberapa tahun terakhir, minat anak muda terhadap pernikahan mengalami penurunan yang signifikan. Bukan hanya karena alasan ekonomi atau karier, melainkan karena trauma emosional yang bersumber dari dua fenomena sosial yang kian nyata: perselingkuhan dan fatherless. Bagi sebagian besar generasi muda, pernikahan bukan lagi simbol kebahagiaan atau stabilitas hidup, melainkan potensi luka yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Di era digital, kasus perselingkuhan bukan lagi rahasia keluarga yang disimpan rapat-rapat. Media sosial penuh dengan cerita hubungan yang kandas karena pengkhianatan, mulai dari publik figur hingga pasangan biasa yang kisahnya viral dan menyebar dalam hitungan jam. Kondisi ini menciptakan ketakutan kolektif: jika orang lain bisa diselingkuhi, mengapa tidak saya? Banyak anak muda mengaku tidak lagi yakin pada konsep komitmen seumur hidup. Bahkan, dalam sejumlah survei independen, ketidakpercayaan menjadi alasan utama enggannya seseorang untuk menikah. Rasa takut dikhianati, dihancurkan secara emosional, atau ditinggalkan setelah berkorban segalanya menjadi momok nyata yang menghantui rencana pernikahan mereka.

Lebih jauh, fenomena fatherless turut memperparah krisis kepercayaan ini. Menurut Lembaga Demografi UI, lebih dari 38% anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran atau keterlibatan ayah yang aktif. Ketidakhadiran ini bukan hanya fisik, tetapi juga emosional. Perceraian, hubungan di luar nikah, dan ayah yang tidak menjalankan peran pengasuhan menyebabkan anak-anak tumbuh dengan luka psikologis mendalam. Generasi yang dibesarkan dalam kondisi ini kerap memikul trauma antarkelompok—mereka bukan hanya mempertanyakan makna cinta dan keluarga, tetapi juga meragukan kapasitas mereka sendiri untuk membangun rumah tangga yang utuh.

Kecenderungan ini dapat dijelaskan melalui teori attachment dalam psikologi, yang menyebutkan bahwa kualitas hubungan antara anak dan orang tua di masa awal kehidupan sangat menentukan pola relasi dewasa. Anak-anak dari keluarga disfungsional cenderung tumbuh dengan pola keterikatan yang cemas atau menghindar, yang pada akhirnya tercermin dalam ketakutan terhadap pernikahan. Di sisi lain, budaya patriarkal dan ketimpangan peran dalam pernikahan tradisional semakin membuat banyak perempuan enggan masuk ke dalam institusi yang dianggap tidak aman dan tidak adil. Mereka tidak ingin mengulang cerita ibu mereka yang bertahan dalam rumah tangga beracun demi anak-anak atau norma sosial.

Namun, ini bukan berarti generasi muda anti terhadap cinta atau relasi. Justru sebaliknya, mereka lebih selektif dan sadar. Pernikahan kini dianggap sebagai pilihan sadar, bukan keharusan. Banyak yang lebih memilih untuk membangun karier, mengembangkan diri, atau menjalin hubungan yang sehat tanpa tekanan institusional.

Fenomena ini bukan sekadar masalah pilihan hidup, tetapi cerminan krisis sosial yang perlu ditanggapi serius. Ketika semakin banyak orang takut menikah karena trauma kolektif dari hubungan yang gagal dan keluarga yang rusak, maka yang perlu diperbaiki bukan semangat generasi muda, tapi sistem dan budaya yang telah membentuk pengalaman buruk mereka. Kita butuh lebih banyak contoh keluarga sehat, relasi yang setara, dan sosok ayah yang hadir. Bukan untuk memaksa mereka menikah, tapi agar mereka tahu: mencintai dan membangun keluarga bisa menjadi pilihan yang aman bukan kutukan yang diwariskan.