Mitos atau Fakta: MSG Sebabkan Kebodohan

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Konten dari Pengguna
17 November 2022 10:11
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Vera Ufiza Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Source: Vera Ufiza Putri
zoom-in-whitePerbesar
Source: Vera Ufiza Putri
ADVERTISEMENT
Istilah MSG atau micin sepertinya sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia. Karena sebagian besar masyarakat Indonesia selalu menggunakan MSG di setiap masakannya untuk memberikan rasa gurih. Rasa gurih yang dihasilkan oleh MSG berbeda dengan garam dan rempah-rempah lainnya. Ini yang membuat makanan apapun bisa berbeda rasanya dan kurang spesial jika tidak ditambahkan MSG di dalamnya.
ADVERTISEMENT
Namun menurut isu yang beredar saat ini, MSG adalah bahan penyedap yang harus dihindari karena bisa menyebabkan kebodohan.
Apakah isu tersebut benar adanya? Bagaimana isu tersebut bisa terbentuk? Mengapa MSG sebabkan kebodohan?
Berikut penjelasannya.
Apa itu MSG?
MSG (Monosodium Glutamate) atau yang biasa dikenal dengan micin merupakan penyedap rasa yang terbuat dari garam natrium dan asam glutamat.
Asam glutamat pada micin dapat memberikan rasa gurih yang berbeda dari penyedap makanan lainnya. Rasa tersebut disebut Umami. Umami berasal dari bahasa Jepang, yaitu ‘umai’ yang berarti lezat dan ‘mi’ yang berarti gurih. Kini rasa umami telah diakui oleh kalangan ilmiah dunia sebagai rasa dasar ke-5 setelah manis, asam, pedas dan pahit.
Berdasarkan sejarahnya, MSG pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 1908 oleh seorang professor bernama Kikunae Ikeda. Kikunae Ikeda mengekstrak dan mengkristalkan glutamat dari kaldu rumput laut untuk dijadikan butiran MSG.
ADVERTISEMENT
Bagaimana tanggapan masyarakat mengenai MSG?
Sebenarnya isu mengenai ‘makan micin bisa membuat bodoh’ bermula dari seorang dokter bernama Robert Ho Man Kwok yang menulis surat ke New England Journal of Medicine pada tahun 1968. Dalam surat tersebut ia mengaku mual dan merasakan jantungnya berdebar setelah makan di restoran Cina. Yang mana pada saat itu, restoran Cina terkenal dengan penggunaan MSG.
Dan bagaikan berita yang tidak pernah berhenti dibicarakan, isu ini terus merebak luas dari generasi ke generasi. Hal ini yang membuat masyarakat mulai takut dan khawatir untuk mengonsumsi MSG.
Bahkan para ibu rumah tangga mulai melarang anggota keluarga tercinta untuk membeli makanan yang mengandung MSG.

A: “Jangan kebanyakan makan micin!”

ADVERTISEMENT

B: “Kenapa?”

A: “Bikin bodoh.”

Tidak berhenti disitu, setelah muncul isu tentang ‘makan micin bisa membuat bodoh,’ muncul lagi sebutan ‘generasi micin’ di kalangan milenial.
Bukan tanpa alasan, sebutan generasi micin ditujukan kepada seseorang yang gagal fokus dan lemot dalam menangkap suatu informasi.

A: “Hari ini ada tugas gak?”

B: “Hah..? Oh, kantin masih tutup.”

A: “Ditanya apa, jawabnya apa.”

B: “Oh, salah ya? Emang lo tanya apa?”

A: “Ah dasar lemot, kebanyakan makan micin lo!”

Karena MSG telah dipandang sebagai sesuatu yang negatif oleh masyarakat. Seperti bisa membuat bodoh contohnya. Dengan itu, mereka yang mengalami gagal fokus dan lemot selalu dikaitkan dengan orang yang terkena dampak dari mengonsumsi MSG.
ADVERTISEMENT
Sejak saat itu masyarakat bertambah yakin bahwa micin adalah bahan penyedap makanan yang berbahaya bagi kesehatan terutama kesehatan otak.
Apakah MSG bahaya untuk dikonsumsi?
Berdasarkan isu yang telah beredar di masyarakat luas, Food and Drug Administration (FDA), World Health Organization (WHO), Food and Agriculture (FAO), Kementrian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menyatakan bahwa MSG adalah bahan penyedap makanan yang aman digunakan. Sehingga isu mengenai makan micin membuat bodoh adalah hoaks. Dengan syarat, MSG yang dikonsumsi disesuaikan dengan kebutuhan.
Dalam sehari setiap individu disarankan untuk tidak mengonsumsi micin lebih dari 1,7 gram agar tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya bagi tubuh.
Apa dampak dari mengonsumsi MSG secara berlebihan?
ADVERTISEMENT
Sama halnya dengan bahan penyedap makanan lainnya, jika mengonsumsi garam secara berlebihan bisa meningkatkan tekanan darah. Begitu pun dengan MSG, ketika MSG dikonsumsi dengan batas yang tak wajar, maka kandungan yang ada pada MSG bisa menimbulkan efek samping bagi tubuh, terutama saraf pada otak.
MSG yang dikonsumsi secara berlebihan membuat reseptor pada hipotalamus bekerja secara aktif karena adanya glutamat yang terkandung dalam MSG. Ketika otak bekerja dengan aktif, maka reseptor otak yang berlebihan bisa meyebabkan kematian neuron. Yang mana neuron merupakan kumpulan dari sel saraf yang berfungsi untuk menjalankan fungsi kognitif otak. Dan kematian neuron sendiri akan membuat fungsi kognitif otak menurun dan menyebabkan otak menjadi lemot.
Kesimpulan
Sehingga dapat disimpulkan bahwa isu yang beredar di masyarakat mengenai MSG bisa sebabkan kebodohan adalah hoaks. Karena hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang membenarkan bahwa micin bisa sebabkan kebodohan.
ADVERTISEMENT
Beberapa lembaga berwenang seperti WHO hingga Kementrian RI juga telah mengonfirmasi bahwa MSG adalah bahan penyedap makanan yang aman untuk dikonsumsi.
Meskipun MSG dikatakan aman, hendaknya MSG dikonsumsi dengan batas wajarnya saja agar tidak membahayakan tubuh.
REFERENSI
Adlina, A. (2021, November 24). Adakah Bahaya MSG Berlebihan Bagi kesehatan? SehatQ. Retrieved from https://www.sehatq.com/artikel/msg
Anjani, A. (2022, March 17). Benarkah micin Dapat memperlambat Kerja Otak? Ini Pencerahannya. detikedu. Retrieved November 14, 2022, from https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5987609/benarkah-micin-dapat-memperlambat-kerja-otak-ini-pencerahannya/amp#amp_tf=From%20%251%24s&aoh=16681716969958&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com
Kresnoadi. (2020, June 9). Salah Kaprah soal micin: Benarkah micin Bikin Bodoh?: Biologi Kelas 11. Aplikasi Bimbingan Belajar Online Interaktif Terbaik. Retrieved from https://www.ruangguru.com/blog/micin
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020