Konten dari Pengguna

Kala Pandemi Membawa Sepi: Kilas Balik Pengalaman Pandemi di Ibu Kota AS

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vina Novianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Salah satu potret ibu kota AS, Washington, D.C. (Foto: dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu potret ibu kota AS, Washington, D.C. (Foto: dokumentasi pribadi)

Teman-teman, kali ini saya ingin bercerita mengenai sekilas pengalaman saya melewati puncak masa pandemi di ibu kota AS, Washington, D.C., pada tahun 2020.

Di kala itu, kota Washington, D.C. tiba-tiba menjadi sepi. Banyak pekerja kembali ke kampung halamannya dan bekerja dari rumah. Banyak juga yang kehilangan pekerjaan mereka.

Beberapa teman bertutur kepada saya, mereka takut keluar rumah, karena sejumlah warga menolak memakai masker.

Komunikasi publik yang buruk dengan adanya jargon “Chinese virus” membuat beberapa warga cukup dingin atau bahkan hostile kepada warga keturunan Asia. Saya pun sempat beberapa kali mengalami serangan verbal dan manuver menutup lift dengan cepat-cepat seakan saya zombie yang siap menyerang. Untungnya orang Indonesia terbiasa sabar ya, kawan.

Metro (kereta bawah tanah) yang biasanya dipadati penumpang terutama pada rush hour, tidak lagi ramai.

Salah satu stasiun Metro di Washington, D.C. saat pandemi. Sepi ya gaes seperti hati jomblo. (Foto: dokumentasi pribadi)

Pada saat itu, penumpang dapat menaiki bus lokal tanpa membayar, sebagai salah satu kebijakan pemerintah kota D.C. di masa pandemi. Meskipun gratis, bus pun masih lengang atau tanpa penumpang. Bisa membuat kita merasa seperti naik limosin.

Metro D.C. kala pandemi. Bisa banget buat selonjoran bagai sultan. (Foto: dokumentasi pribadi)

Ruas-ruas jalan yang biasanya dipadati mobil lalu-lalang pun menjadi hening.

Apakah akan ada zombie yang tiba-tiba keluar dari sudut jalan? (Foto: dokumentasi pribadi)

Jumlah orang yang dapat masuk pusat perbelanjaan masih dibatasi. Masker wajib dipakai oleh pengunjung. E-commerce pun melambung dan banyak kurir mengeluh pegal-pegal.

Mayoritas restoran tidak menerima makan di tempat maupun pembayaran dengan uang tunai. Metode pembayaran cashless berkembang pesat.

Sedikit keramaian dapat kita temui pada titik-titik tes COVID gratis yang disediakan oleh pemerintah kota D.C.

Antri tes COVID gratis di D.C. (Foto: dokumentasi pribadi)

Kesepian yang dirasakan warga pada saat puncak pandemi ternyata membuat adopsi binatang peliharaan meningkat. Jalan-jalan dengan anjing dan kucing kesayangan menjadi terapi kesehatan mental sebagian warga.

Cari angin segar dengan ajak anabul jalan-jalan. (Foto: dokumentasi pribadi)

Bulan Januari 2021, dengan kemenangan Joe Biden sebagai Presiden AS, Pemerintah AS semakin gencar dalam memerangi pandemi. Dengan meningkatnya vaksinasi, secara perlahan museum-museum gratis di D.C. buka kembali. Bukti vaksinasi menjadi tiket masuk ke restoran-restoran. Wisatawan dan pekerja mulai kembali ke D.C. Kota D.C. perlahan hidup kembali.

Patung di museum pun ikutan pakai masker. (Foto: dokumentasi pribadi)

Di seluruh dunia, kini pandemi mulai memudar. Hikmah yang kita ambil sangatlah besar. Kita sadari peran Pemerintah sangat besar di masa pandemi. Tidak kalah penting peran masyarakatnya dalam mendukung kebijakan Pemerintah. Sekarang saatnya kita songsong musim semi paska-pandemi.