BATARA Kawinkan Musik Batak dan HipDut lewat Single Horas Ma Ito

Grup musik pendatang baru, BATARA, meramaikan industri musik Tanah Air lewat peluncuran single perdana bertajuk Horas Ma Ito. Menolak pakem konvensional, BATARA hadir dengan mengawinkan akar budaya Batak dan tren kekinian lewat aransemen hipdut alias Hip Hop Dangdut.
Salah satu daya tarik utamanya terletak pada pertemuan instrumen tabuh tradisional Batak, taganing, dengan hentakan irama hipdut.
Karakter tersebut berpadu dengan penulisan lirik yang menggunakan tiga bahasa sekaligus, yakni bahasa Indonesia, Batak, dan Inggris.
Tak hanya eksperimental secara nada, Horas Ma Ito juga menyuarakan keresahan yang sangat lekat dengan masyarakat Batak, khususnya polemik sinamot atau mahar pernikahan.
Persoalan mahar ini kerap menjadi batu sandungan yang membuat para pemuda Batak harus menunda niat berumah tangga.
Zul, salah satu vokalis BATARA, menuturkan bahwa gagasan lagu ini memang berpijak pada realitas kultural yang kerap mereka saksikan sehari-hari.
“Memang kita angkat lagu ini sesuai realita yang ada. Sering viral soal kenapa orang Batak itu terkenal lama menikah. Karena memang sinamot ini menjadi beban dan perjuangan besar buat doli-doli Batak,” tutur Zul di Jakarta Selatan.
Kendati memotret beban yang berat, BATARA sengaja mengemasnya lewat aransemen yang riang dan bersemangat.
Personel lainnya, Beatrix Tampubolon, menyebut pemilihan genre hipdut dirancang secara matang agar pesan lagu bisa mendarat mulus di telinga Generasi Z hingga Generasi Alpha tanpa kesan menggurui.
"Kami menyemangatinya lewat lagu yang happy, supaya enggak jadi beban saat mengumpulkan mahar. Aransemennya kita buat easy listening dengan irama kopdut karena tren musik sekarang arahnya ke sana, biar bisa masuk ke Gen Z dan Gen Alpha," ujar Beatrix.
Proses lagu ini dirumuskan secara kolektif oleh para personel bersama jajaran manajemen serta pembina untuk memastikan muatan tradisional tetap relevan dengan arus musik pop modern.
Terbentuknya BATARA
Terbentuknya BATARA berawal dari ketidaksengajaan. Robinson Tampubolon dan Lonata Simanjuntak, yang kini bertindak sebagai eksekutif produser sekaligus pembina, awalnya tidak berencana mematenkan kelompok ini sebagai grup musik.
Robinson mengisahkan, inisiatif bermula saat ia diminta menyiapkan grup musik untuk mengisi sebuah acara gereja pada akhir 2025.
"Awalnya saya comot personel dan kalau ditanya band apa, saya jawab ‘Rojali’ alias rombongan jadi sekali," seloroh Robinson.
Namun, kekompakan mereka di atas panggung rupanya berlanjut. Berbagai tawaran panggung luar mulai menghampiri, termasuk kesempatan unjuk gigi di Pekan Raya Sumatera Utara hingga perayaan Hari Jadi Kabupaten Toba.
Melihat chemistry para personel yang makin solid, kelompok ini akhirnya diresmikan dengan nama BATARA, nama yang diambil dari putra Robinson, yakni Fahmi Batara Sakti.
Melalui langkah ini, BATARA mematok ambisi untuk mendobrak batasan lagu kedaerahan di pasar musik nasional.
"Kami ingin menciptakan band Batak yang lagunya bisa dinikmati semua kalangan umur. Bukan sekadar lagu daerah, tapi lagu yang dinyanyikan orang Batak yang bisa menembus skala nasional," tutup Lonata.
