Cerita Anggy Umbara Gunakan 28 Kamera di Film 402 Rumah Sakit Angker Korea

Sutradara Anggy Umbara kembali hadir melalui proyek terbarunya, 402 Rumah Sakit Angker Korea. Mengusung teknik found footage, Anggy menggunakan teknik yang belum pernah ia lakukan sebelumnya saat menggarap film.
"Jadi ketika izin gol, bener-bener langsung berjalan bareng antara creativity dan teknis. Kreatif ya ngomong sama Lele (penulis) bahwa harus begini. Jadi kita bener-bener pengin bikin film found footage yang bener-bener prosesnya itu dan hasilnya itu terjaga banget kualitasnya," kata Anggy Umbara dalam jumpa pers di CGV GI, Jakarta.
Anggy menegaskan film 402 Rumah Sakit Angker Korea bukan sekadar simulasi kamera tangan biasa. Untuk mencapai level yang diinginkan, tim produksi membedah aspek teknis sejak dini, terutama dalam pembuatan rigging kamera
"Ya itu yang harus kita bedah terlebih dahulu, membuat rigging di badan para pemain. Itu prosesnya satu tahun untuk membuat body rig gitu. Dari mulai kita bubut, desain dulu pakai besi. Ternyata berat sekali kalau pakai besi, kokoh, tapi berat sekali. Kalau untuk adegan berbahaya itu sangat berbahaya," kenang Anggy.
Mereka sempat mencoba material aluminium, namun ternyata tidak cukup kuat menahan beban perangkat tambahan.
"Kita ganti lagi dengan aluminium. Aluminium lebih ringan, lebih gampang kita bentuknya. Ternyata peyot dan kurang kuat untuk menahan ada kamera, ada lampu, ada transmitter, ada baterai. Semuanya jadi bener-bener harus didesain khusus," ucap Anggy.
Solusi ditemukan melalui teknologi modern, yakni 3D printing. Anggy menjelaskan, setiap komponen rig dibuat detail menggunakan bahan karbon agar kuat namun tetap fleksibel
"Jadi kita bikin dulu secara 3D, terus kita print 3D nya gitu kan dengan bahan resin campur beberapa bahan lainnya agar itu kuat tapi juga enggak lemah," tambah Anggy.
Perangkat tersebut dirancang menyatu dengan tas punggung khusus sepeda gunung (mountain bike) untuk menyimpan baterai dan transmitter. Anggy menyebut, beratnya mencapai lebih dari 5 kilogram.
"Akhirnya jadilah kesatuan pack itu, makanya agak berat, 5 kilogram tergantung isinya gitu kan. Kita cetak hampir 20 lebih kita cetak. Sekali rusak, patah, ya udah kita bikin lagi," tutur Anggy.
Tantangan Visual saat Garap Film 402 Rumah Sakit Angker Korea
Selain beban teknis, tantangan visual muncul saat syuting di lokasi gelap. Karena konsepnya found footage, lampu syuting tidak boleh terlihat dalam kamera, meski sangat krusial untuk membentuk dimensi subjek.
"Kita enggak boleh kelihatan lampu sama sekali. Sedangkan ya harus, kalau enggak, enggak kelihatan shape body-nya atau lokasinya. Jadi kita ngambil beberapa kali. Satu yang tanpa lampu, satu yang pakai lampu. Yang kelihatan lampunya baru kita masking sendiri, kita ilang-ilangin lampunya," ucap Anggy.
Dengan total 28 kamera yang merekam secara bersamaan, proses penyuntingan menjadi mimpi buruk yang sangat kompleks bagi Anggy.
"Biasanya syuting cuma satu atau dua kamera, ini 28 kamera. Itu meng-assemble hasil syutingnya itu berhari-hari. Kalau biasa kan assemble 4 jam atau 6 jam, ini enggak, 3 hari gitu. 24 jam dikali 3," tutup Anggy.
Namun, kerja keras Anggy dan tim terbayar lunas. Film horor produksi MD dan Umbara Brothers Films ini World Premiere di Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) 2026.
Film 402 Rumah Sakit Angker Korea dibintangi Arbani Yasiz, Saputra Kori, Jang Hansol, Diandra Agatha, Lea Ciarachel, dan Aylena Fusil. Film ini siap tayang di bioskop pada 9 Juli 2026.
