Kumparan Logo

Laura Moane Debut di Genre Horor lewat Film The Doll Ghawiah

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Laura Moane saat acara konferensi pers series A dan Z: InsyaAllah Cinta di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (19/2/2026). Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Laura Moane saat acara konferensi pers series A dan Z: InsyaAllah Cinta di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (19/2/2026). Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Aktris Laura Moane menandai debut di genre horor lewat film terbaru produksi Hitmaker Studios berjudul The Doll Ghawiah. Dalam film karya Guntur Soeharjanto ini, Laura didapuk memerankan karakter Nala, anak bungsu dari pasangan Arya (Darius Sinathrya) dan Evi (Titi Kamal).

Karena penakut, Laura sempat ragu saat pertama menerima tawaran bermain dalam universe horor populer The Doll ini.

"Iya, aku penakut banget. Aku nggak pernah nonton film horor. Makanya pas pertama kali main film ini, aku sempat omong kayak, 'Ih, kok aku mau nerima tawaran, film horor lagi? Muka aku nanti gimana ya?' Terus kayak ya udah, tapi, 'Kamu nonton ini aja, ini aja.' Aku pasti bisa, pasti bisa," ungkap Laura dalam content day di Fatmawati, Jakarta Selatan, Senin (21/9).

Para pemeran The Doll Ghawiah ditemui di Fatmawati, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2026). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Tak sekadar menyajikan mistis, film ini juga menuntut Laura untuk melakoni adegan laga yang cukup intens, termasuk aksi melayang menggunakan tali pengaman (sling).

"Banyak sakit. Sakit tau! Sakit awalnya. Aku nggak bisa kalau pakai sling tuh kayak dinaikin gitu terus diturunin. Sampai kayak, 'Bisa nggak lebih lentur. Kamu kayak peri,' gitu katanya. 'Kurangin princess-nya.' 'Oke, kurangin princess,'" cerita Laura sambil tertawa.

Aktris kelahiran 2006 ini bertekad untuk melakoni sebagian besar adegan laganya sendiri. Kendati tubuhnya sempat mengalami memar akibat gesekan sling, Laura mengaku sangat menikmati proses tersebut.

"Masih ada double. Tapi menurut aku keren aja sih. Mungkin yang pakai double tuh buat scene yang lebih dangerous ya, tapi kalau ya fighting scene biasa sih menurut aku pemainnya bener-bener pengin lakuin sendiri," tuturnya.

Para pemeran The Doll Ghawiah ditemui di Fatmawati, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2026). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Sesuai dengan ciri khas semesta The Doll, film ini juga dipenuhi adegan penuh darah dan prostetik luka. Di bawah Guntur Soeharjanto, seluruh pemain dituntut untuk tampil total demi visual yang mencekam dan realistis.

"Semuanya dapat, The Doll kan keluar, harus. Pak Guntur bilang harus. Seru banget proses syutingnya, proses make-up-nya. Pas sama make-up-nya juga kita udah tahu kayak darahnya bakal di mana aja dan lukanya di mana aja, jadi pas syuting tuh cepat banget, semuanya udah siap," papar Laura.

Laura merasa nyaman syuting film horor karena jadwal kerja yang diterapkan sangat tertib dan sehat. Ia bahkan masih bisa berolahraga bersama lawan mainnya, Aisyah Aqilah, yang berperan sebagai kakaknya, Gita.

"Sama sekali nggak (kapok). Ini sutradaranya seru, krunya seru, cast-nya seru, ceritanya seru, jadi so fun! Dan healthy syutingnya. Kita semua tidurnya lebih dari 8 jam deh kayaknya," tutur Laura.

Film The Doll Ghawiah sendiri mengambil latar tahun 1988 di kawasan Babakan Siliwangi, Bandung, mengangkat misteri arwah anak bernama Uci dan boneka Ghawiah yang berarti 'tersesat'.

Film ini dijadwalkan tayang mulai 29 Oktober 2026 dan akan hadir dalam format layar lebar IMAX.

"Ya, ini salah satu syuting terseru aku. Judul ini bikin aku pengin main film lagi dan main film horor lagi," tutup Laura.