Kumparan Logo

Meisya Amira Belajar Bahasa Isyarat demi Perannya di Film Juminten Edan

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jumpa pers Juminten Edan di Epicentrum, Jakarta Pusat, Kamis (16/7).   Foto: Vincentius Mario/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Jumpa pers Juminten Edan di Epicentrum, Jakarta Pusat, Kamis (16/7). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Aktris muda Meisya Amira jadi pemeran utama dalam proyek film produksi Mercusuar Films berjudul Juminten Edan. Jadi Juminten, Meisya dituntut memerankan karakter tunarungu sekaligus tunawicara.

Bagi Meisya Amira, peran ini bukan akting biasa, melainkan upayanya merepresentasikan disabilitas dengan akurat.

"Kalau jadi seorang tunawicara dan juga tunarungu itu menurutku sangat susah, challenging banget karena aku belum pernah belajar sebelumnya, baru kali ini," kata Meisya di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

Demi penampilannya, Meisya bersama jajaran pemain lainnya, termasuk Dimas Aditya dan Sharon Jovian, menjalani proses coaching yang sangat intensif.

Jumpa pers Juminten Edan di Epicentrum, Jakarta Pusat, Kamis (16/7). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Meisya Amira Belajar Bahasa Isyarat untuk Film Juminten Edan

Selama dua minggu, mereka belajar bahasa isyarat dan mendalami cara berinteraksi sebagai penyandang disabilitas pendengaran dan wicara.

"Dan di sini kita emang ada coaching dan juga kita belajar dua minggu sama-sama, sama Mas Dimas juga, sama Sharon juga. Dan itu menurut aku pengalaman yang baru dan pembelajaran yang baru juga," tutur Meisya.

Tantangan yang dirasakan Meisya adalah ketika ia harus menyampaikan emosi yang dalam tanpa bantuan dialog lisan. Ia dituntut untuk memaksimalkan ekspresi wajah dan mata agar pesan yang disampaikan karakternya tetap sampai.

"Yang menurut aku juga challenging adalah gimana aku harus mengekspresikan semuanya tanpa dialog dari mata, emosi, semuanya itu dilakukan dengan bahasa isyarat. Itu salah satu pengalaman baru dan lumayan sulit bagi aku tapi dengan adanya proses, alhamdulillah semuanya bisa berjalan dengan lancar," ucap Meisya.

Jumpa pers Juminten Edan di Epicentrum, Jakarta Pusat, Kamis (16/7). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Menariknya, pihak produksi tidak main-main dalam memberikan fasilitas bagi para pemain. Meisya mengungkap, mereka didampingi oleh pelatih yang merupakan seorang tunarungu asli. Hal ini dilakukan agar setiap gerakan isyarat sesuai dengan realita yang ada di komunitas disabilitas.

"Ya kita ada workshop sama dua minggu itu sama coach yang emang dia itu tunarungu sih sebenernya. Jadi intens belajar dan ada satu hari emang aku khusus belajar bahasa isyarat," ujar Meisya.

Meisya ingin memastikan setiap gerakan tangannya tidak kaku dan terlihat natural layaknya sudah terbiasa berkomunikasi dengan bahasa isyarat sejak lama.

"Jadi di sana juga latihan terus, jadi misalkan besok ada scene apa aku harus latihan dulu hari sebelumnya. Dan lama-lama refleks kayak gitu aja. Terus jadi semuanya bisa," kata Meisya.

Jumpa pers Juminten Edan di Epicentrum, Jakarta Pusat, Kamis (16/7). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Film Juminten Edan digarap oleh Dedy Mercy dengan naskah yang ditulis oleh Alim Sudio, dan diproduseri Jonathan Ozoh.

Selain Meisya Amira, film ini juga menghadirkan jajaran pemain lintas generasi seperti Dimas Aditya, Anne J. Cotto, Kukuh Prasetya, Sharon Jovian, Deden Baskara, Bambang Oeban, hingga Wina Marrino.

Dijadwalkan tayang di bioskop mulai 23 Juli 2026, Juminten Edan mengangkat persoalan keluarga yang kompleks, dinamika hubungan antara mertua dan menantu, hingga potret perjuangan seorang ibu yang rela melakukan pengorbanan apa pun demi kebahagiaan anak tercintanya.