Kumparan Logo

The Jansen Kenalkan Romantisasi Impulsif, Album yang Menyerupai Film

kumparanHITSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Grup musik asal Bogor The Jansen.  Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Grup musik asal Bogor The Jansen. Foto: Dok. Istimewa

Perjalanan grup band The Jansen tidak dimulai kemarin. Sejak merilis debut EP From Bogor to Japan pada 2016, tajuk tersebut menjadi ramalan yang menjadi kenyataan saat mereka ke berbagai penjuru Asia.

Setelah pondasi kuat yang dibangun melalui album Present Continuous (2017) dan Say Say Say (2019), nama unit punk asal Bogor ini meledak lewat Banal Semakin Binal (2022), hingga akhirnya eksperimen lewat dalam Durja Bersahaja (2024).

Kini, keisengan itu berlanjut ke babak baru yang lebih sinematik. Di awal April 2026, The Jansen, yang kini digawangi Tata dan Adji, memperkenalkan album kelima bertajuk Romantisasi Impulsif.

Karya berisi dua belas lagu ini diposisikan sebagai penutup sebuah trilogi yang dimulai oleh Banal Semakin Binal dan dilanjutkan oleh Durja Bersahaja.

Pakai Pendekatan Film

Romantisasi Impulsif bukan sekadar kumpulan lagu, album ini memiliki pendekatan naratif layaknya sebuah film yang memiliki babak, klimaks, hingga adegan hening. Adji punya gagasan yang cukup provokatif terkait album ini.

"Kami pengin ngasih penawaran lain atas pembacaan album. Kalau album ini bisa kok dijadikan film," ujar Adji, lewat keterangan resmi.

Menurut Adji, dua belas lagu di dalamnya sudah memiliki alur, karakter, konflik, dan resolusi yang lengkap untuk dikemas ke dalam gambar bergerak.

Tokoh utama dalam film audio ini adalah Johan dan Marni. Johan diceritakan sebagai anak orang kaya yang jatuh miskin, sementara Marni adalah orang miskin sejak lama.

Kisah cinta mereka bukan romansa dramatis ala sinetron, melainkan potret dua manusia yang bertahan di tengah kebijakan negara yang tidak ramah dan birokrasi yang menghancurkan ruang hidup mereka.

Album ini bertindak seperti pembawa berita dari pinggir rel dan rumah petakan kaum miskin kota, menyuarakan perlawanan terhadap sistem yang memiskinkan.

Terinspirasi dari Keluarga

Grup musik asal Bogor The Jansen. Foto: Dok. Istimewa

Obsesi The Jansen terhadap pendekatan sinematik ini berakar dari latar belakang keluarga. Tata mengungkap, darah seni peran mengalir di tubuh mereka.

"Kami sejak kecil dekat dengan dunia film. Orang tua kami orang film. Mungkin itu secara tidak langsung mempengaruhi cara kami berkarya," jelas Tata.

Hal ini terlihat dari cara mereka menyusun dinamika lagu, dari sunyi ke ramai, dari jernih ke fuzzy, yang terasa seperti perpindahan visual.

Dari sisi musikalitas, Romantisasi Impulsif menawarkan warna suara yang lebih eklektik dibandingkan pendahulunya.

The Jansen menyerap berbagai pengaruh musik dunia, mulai dari tangga nada Arab yang meliuk, gitar Spanyol bergaya flamenco, hingga skala gitar Tionghoa yang pentatonik.

"Kami selalu senang membuat sesuatu dengan pendekatan yang baru. Kami suka bereksplorasi, mengerjakan sesuatu yang dimulai dari keisengan," tambah Tata.

Proses kreatif album ini sebenarnya telah dimulai sejak 2022, dengan lirik yang digarap oleh Adji dan komposisi musik oleh Tata.

Rekaman dilakukan mandiri pada 2025 di Jansen HQ, rumah kontrakan yang mereka sulap menjadi markas sekaligus studio. Meski dikerjakan komunal di markas sendiri, album ini tetap melibatkan musisi tambahan seperti Daryl Gema (drum), S Yonatan (gitar), Andreas Yendra (akustik), serta Ayu Muthia Zahra yang mengisi vokal latar dan tambourine.

Sebagai jembatan menuju album penuh, The Jansen akan merilis single "bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni)" pada 29 April 2026. Sementara itu, album Romantisasi Impulsif dijadwalkan meluncur secara digital pada 22 Juli 2026.

Menariknya, rilisan fisik album ini menggandeng label internasional. P-Vine Records asal Jepang akan merilis versi CD dan vinyl, sementara Miles Records asal Malaysia akan menangani rilisan dalam format kaset.