The Sounds Project Siap Bawa Line-Up Lebih Besar Tahun Depan

The Sounds Project sukses digelar pada 7, 8, dan 9 Agustus 2026 di Ecovention & Ecopark Ancol, Jakarta. Mengusung tema Beyond Memories, lebih dari 120 musisi Indonesia dan internasional tampil bergantian di tujuh panggung berbeda, menjadikan The Sounds Project Vol. 9 sebagai salah satu perhelatan musik terbesar tahun ini dengan total hampir ratusan ribu penonton selama tiga hari.
Sebuah pencapaian yang menunjukkan bagaimana musik masih memiliki kekuatan untuk mempertemukan begitu banyak orang dari beragam latar belakang dalam satu ruang, satu pengalaman, dan menciptakan sebuah festival yang begitu besar, meriah, dan berkesan.
The Sounds Project Vol. 9 menjadi momen yang istimewa bukan hanya karena deretan musisi yang tampil, tetapi juga karena rangkaian program grassroots yang melibatkan kampus dan komunitas.
Berawal dari sebuah acara kampus kecil, The Sounds Project terus tumbuh hingga menjadi festival berskala besar tanpa meninggalkan semangat untuk memberikan ruang bagi generasi muda.
“Berawal dari sebuah acara kampus kecil, The Sounds Project terus tumbuh hingga menjadi festival berskala besar tanpa meninggalkan semangat untuk memberikan ruang bagi generasi muda. Dengan niat baik, semangat itu yang terus kami bawa hingga sekarang,” kata Festival Director The Sounds Project Gerhana Banyubiru (Ghana).
Semangat melibatkan generasi muda di balik layar sebuah festival juga hadir melalui program volunteer dan internship selama enam bulan. Kesempatan ini diberikan kepada mahasiswa untuk terlibat langsung dalam proses penyelenggaraan festival, mulai dari perencanaan hingga eksekusi.
Tidak hanya menjadi bagian dari penyelenggaraan, mahasiswa juga mendapat ruang untuk mengabadikan dan menceritakan festival melalui TSP Academy, yang menjaring fotografer kampus hasil kolaborasi dengan Live Avenue untuk mendokumentasikan berbagai momen sepanjang festival.
Di sisi keberlanjutan, The Sounds Project Vol. 9 turut bekerja sama dengan Matters Project untuk menjalankan inisiatif pengelolaan sampah. Kolaborasi dengan Matters Project berjalan sepanjang tiga hari festival sebagai bentuk komitmen The Sounds Project terhadap lingkungan di sekitar area acara. Sampah yang terkumpul dikirim ke RDF Plant Rorotan untuk diolah menjadi sebagai bahan bakar dalam proses waste-to-energy (WTE).
Antusiasme terhadap The Sounds Project Vol. 9 terlihat sejak sebelum gerbang dibuka setiap harinya, dengan penonton yang rela datang lebih awal demi menikmati festival sejak menit pertama. Gelombang penonton TSP bukan hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari Malaysia dan Singapura, menjadikan tiga hari ini sebagai perayaan musik yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga menciptakan pengalaman dan memori baru bagi ratusan ribu orang selama tiga hari dari berbagai latar belakang.
Urusan penampil, The Sounds Project selalu berhasil menghadirkan nama-nama yang mengakomodasi selera musik siapa pun yang hadir. Neck Deep (UK), Nusantara Beat (Belanda), dan JET (Australia) menjadi jajaran headliner internasional yang membawa karakter dan energi berbeda ke panggung festival, berpadu dengan ratusan deretan musisi Indonesia terbaik seperti Tulus, Bernadya, Hadad Alwi, Hindia, .Feast, Alkateri, Mahalini, Perunggu, King Nassar, Lomba Sihir, The Adams, Efek Rumah Kaca, For Revenge, Raisa, Yura Yunita, Naykilla, Tenxi, dan lain-lain.
Dengan lebih dari 120 musisi yang tampil bergantian di 7 panggung nyaris tanpa cela selama tiga hari, The Sounds Project Vol. 9 berhasil memuaskan dahaga penonton akan beragam musik dan pengalaman pertunjukan. Mulai dari deretan hits era 2000-an yang dibawakan The Changcuters, Nidji, dan Vierratale, kolaborasi Pee Wee Gaskins dan Rocket Rockers, hingga berbagai kolaborasi spesial yang hadir, baik yang direncanakan maupun tak terduga.
J-Rocks menghadirkan Tribute to L’Arc-en-Ciel, Bilal Indrajaya dan G-Pluck mengajak penonton singalong lagu-lagu The Beatles, Rizky Febian tiba-tiba berkolaborasi dengan Mahalini dan Adrian Khalif, sementara Teenage Death Star tiba-tiba berkolaborasi dengan The Panturas, dan Monkey Boots dengan Wancoy dari Grindboys. Tahun ini, The Sounds Project juga menghadirkan Special Set dari Barasuara, Raisa, dan Isyana Sarasvati yang memberikan pengalaman berbeda dari penampilan reguler mereka.
Ratusan ribu pengunjung, ratusan penampil, dan jutaan memori menjadi gambaran perjalanan panjang The Sounds Project. Angka tersebut juga menjadi pengingat betapa jauh perjalanan festival ini telah berkembang, mengingat kembali The Sounds Project berawal dari sebuah acara kampus kecil pada 2015, dengan satu panggung sederhana dan jumlah penonton yang jauh dari angka hari ini.
Dari sebuah kegiatan yang lahir dari lingkungan kampus, perlahan festival ini tumbuh, melewati berbagai tempat, tantangan, dan perubahan hingga akhirnya menjadi salah satu festival musik yang dikenang, diingat, dan ditunggu lagi kehadirannya di tahun yang akan datang.
"Tidak ada festival yang sempurna. Tahun ini The Sounds Project Vol. 9 telah selesai. Terima kasih untuk seluruh audience yang sudah datang, luar biasa dan benar-benar di luar ekspektasi kami selaku promotor. Kami akan beristirahat sejenak, mengevaluasi festival tahun ini, dan mulai mempersiapkan sesuatu yang lebih baik untuk tahun depan. Kayanya sih, line-up lokal maupun internasional lebih banyak untuk tahun depan," ucap Ghana.
Jika bisa ditarik kesimpulan, sembilan volume dan sebelas tahun kemudian, The Sounds Project bukan lagi sekadar acara musik. Ia telah menjadi contoh nyata perjalanan festival di industri musik, perjalanan panjang tentang mimpi, konsistensi, kerja keras, dan tentunya, tentang menciptakan lebih dari sekadar memori. Mau tidak mau, suka tidak suka, tahun ini The Sounds Project telah menjadi bagian dari ingatan banyak orang.
