Cerita John Terry yang Dipaksa Ayahnya Gabung Manchester United

Tulisan dari Viral Sport tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelum menghabiskan belasan tahun bersama Chelsea, John Terry ternyata pernah dipaksa berseragam Manchester United. Eks pemain Tim Nasional Inggris tersebut mengisahkan bahwa dahulu ayahnya sempat tak merestui langkahnya untuk memilih Chelsea.
Terry kecil saat itu sudah bergabung dengan tim muda Chelsea pada usia 14 tahun. Sebelumnya, ia berguru dari akademi West Ham United. Tiga tahun bermain untuk tim junior, Terry mulai dipromosikan untuk memperkuat tim utama Chelsea.
Saat itu, Terry sempat menjadi buruan beberapa tim besar Premier League, termasuk Arsenal dan Manchester United. Meski akhirnya ia memilih Chelsea, sang ayah sempat menentang keputusannya tersebut dan mendorongnya untuk berseragam 'Iblis Merah'.
"Saya diminati beberapa tim besar saat itu. Di antaranya, Chelsea, Arsenal, dan Manchester United. Mereka semua adalah tim besar," ucapnya kepada Footballer's Guide to Football podcast, dilansir Goal International.
"Saya dan ayah saat itu ada di lorong stadion. Dari dalam, saya melihat beberapa pemain keluar dari lapangan. Saat itu Glenn Hoddle [eks pemain Chelsea] berjalan melewati kami. Ayah saya sontak berkata 'Kamu tidak akan bermain untuk tim ini. Kita harus mendapatkan kontrak dengan Manchester United'," dirinya menceritakan.
Pemain yang juga pernah membela Aston Villa tersebut mengisahkan bahwa dirinya saat kecil merupakan pribadi yang keras kepala, tetapi memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi.
Keputusannya memilih Chelsea benar-benar membuat ayahnya murka saat itu. Terry, yang kala itu membutuhkan tanda tangan ayahnya dalam kontraknya bersama Chelsea, akhirnya meminta ibunya untuk datang ke markas The Blues dan menyelesaikan segala persoalan administrasi tersebut.
"Saya tetap dengan pilihan saya. Saat itu, saya yakin 100 persen bahwa Chelsea adalah tim yang tepat. Saya berpikir: 'Jika ayah tak mau menandatangi kontrak saya, saya akan menandatangani itu sendiri!' Meski saya yakin itu tak akan mungkin."
"Akhirnya saya meminta ibu untuk datang, dan ayah saya menjadi marah dengan ibu. Lalu ibu berfoto dengan Graham Rix ketika menandatangani kontrak saya. Ayah semakin marah [ketika melihat foto tersebut] dan semua ribut malam itu. Sekali lagi, saya akan mengikuti kata hati saya. Saya yakin Chelsea adalah tim yang tepat," dirinya menambahkan.
"Malam itu seharusnya menjadi malam yang terbaik bagi saya. Namun kenyataannya malah menjadi malam yang kacau bagi anak berusia 14 tahun. Saya selalu mencintai Chelsea sejak hari pertama. Saya tidak pernah menoleh ke belakang. Bahkan, sampai saat ini saya masih mencintai Chelsea dan mengikuti perkembangan mereka," katanya.
Terry akhirnya bisa membuktikan bahwa pilihannya tepat. Pengabdian 19 musim bersama The Blues berakhir manis.
Meski di awal kedatangannya sempat dipinjamkan sebentar ke Nottingham Forest, ia berhasil mempersembahkan sederet trofi bergengsi seperti Premier League dan Liga Champions.
