Konten dari Pengguna

Pendidikan Sebagai Kunci Kemajuan Bangsa

Lisa Ramadhanty

Lisa Ramadhanty

Univ. Mercu Buana 2019

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lisa Ramadhanty tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan Sebagai Kunci Kemajuan Bangsa
zoom-in-whitePerbesar

Kehebatan suatu bangsa dapat dinilai dari sikap kepedulian masyarakatanya terhadap pendidikan. Pendidikan memiliki peran penting bagi suatu individu maupun kelompok.

Pendidikan menjadi nilai tambah karena dapat mengangkat derajat hidup seseorang hingga mampu memberikan mereka peluang untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki.

Pada dasarnya, sebuah bangsa dapat dikatakan maju apabila memiliki kualitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul. UNESCO menyertakan empat pilar pendidikan yang harus dikuasi lembaga pendidikan formal: 1) Belajar untuk mengetahui, 2) Belajar untuk melakukan sesuatu, 3) Belajar untuk menjadi sesuatu; 4) Belajar untuk hidup bersama.

Mengimplementasikan apa yang sudah digagaskan oleh lembaga-lembaga baik kelas nasional maupun internasional, membutuhkan kejelian dan rasa empati yang kuat yang muncul dari dalam diri. Oleh sebab itu, pendidikan yang baik harus memunculkan motif sehingga pengetahuan yang diberikan dapat dipahami dengan betul esensinya dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melihat di belahan dunia lain, standar pendidikan formal di negara Asia Timur misalnya Jepang, memiliki sistem pendidikan dengan fokus utama pada pengembangan karakter siswa. Nilai-nilai moral penting ditanamkan kepada siswa sejak dini mengingat di Jepang, tingkat bunuh diri cukup mengkhawatirkan. Namun, tata cara yang dikenal dengan istilah gakusei ini memiliki visi untuk membentuk sistem pendidikan yang berakar pada budaya dan karakteristik bangsa Jepang.

Adapun Indonesia yang telah merdeka selama lebih dari 70 tahun harus mampu bersaing secara global. Dibutuhkan pendidikan formal dan informal yang mendukung secara fundamental kegiatan edukatif yang menghibur dan dapat merangkul semua kalangan. Indonesia masih harus memperdalam kembali sistem pendidikan sampai pengaruhnya terhadap kemajuan bangsa.

Secara formal, kurikulum pendidikan di Indonesia telah berganti sejak tahun 1947. Sampai hari ini, sudah tercatat 10 kali adanya pergantian kurikulum. Hal tersebut dinilai baik guna menyesuaikan perubahan zaman dan IPTEK yang semakin berkembang. Namun dengan pesatnya penggunaaan teknologi informasi, apakah pergantian kurikulum ini sudah efektif dalam membangun proses belajar yang ideal?

Perlu ditekankan bahwa tanpa manajemen pendidikan formal yang memadai, akan sulit menelaah informasi yang keluar-masuk dengan cepat. Tanpa kita sadari, pengaruh tersebut sangat mudah menghampiri kita semua lewat perangkat gawai atau media massa yang kita konsumsi.

Peranan media baru yang semakin lama semakin mempengaruhi perilaku masyarakat dunia. Oleh karena itu, penting sekali mempunyai pengetahuan dan sikap yang terarah dalam menggunakan teknologi informasi abad ini.

Dengan populasi terbesar keempat di seluruh dunia, Indonesia saat ini telah didominasi penduduk usia produktif, ini dapat kita jadikan sebagai acuan kebangkitan pendidikan di Indonesia apabila dengan angka sebesar ingin pengelolaannya dapat direncanakan secara maksimal.

Belum lagi, kabar baik tentang bonus demografi yang akan memberikan peluang mempercepat pembangunan merata. Dengan harapan-harapan yang menyasar pada kepentingan di atas, hal utama yang harus dikerjakan adalah dengan membangun cara berfikir masyarakatnya agar bersama pemerintah dapat menjalankan misi bersama untuk membawa Indonesia pada kesempatan emas.

Dalam hal ini, teknologi informasi sangat berfungsi dalam mengawasi kepentingan publik. Dengan boomingnya Youtube pada sekitar tahun 2010-an, para influencer mampu membangkitkan semangat muda-mudi untuk menciptakan karya audiovisual yang dapat dikerjakan sendiri.

Tidak mau kalah, para guru/tutor belomba-lomba menghasilkan konten terbaik untuk para pelanggan setianya. Mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam di depan kamera untuk membicarakan pelajaran yang dahulu hanya dapat dilakukan di kelas dengan banyak murid.

Pendidikan semakin mudah dengan teknologi informasi, salah satunya bisa kita coba melalui Kelasqu. Ketika dulu media massa yang disajikan hanya bersifat satu arah, dengan kehadiran media baru seperti Live Instagram, mereka dapat belajar dan bertanya apabila ada hal yang mengganjal lewat kolom komentar.

Begitu pentingnya kehadiran teknologi saat ini membuat kehidupan menjadi serba cepat. Tidak perlu dijelaskan lagi berapa banyak perubahaan gaya hidup masyarakat saat ini tentu dipengaruhi oleh teknologi.

Jika dicermati, media mainstream yang berada di tengah-tengah masyarakat belum mampu menyampaikan pesan moral yang mendalam bagi khalayak. Pengaruh tersebut bisa dengan mudah merusak tatanan nilai yang sudah diajarkan dalam lingkungan formal.

Contoh tayangan di televisi, terlihat rating tertinggi dari suatu program belum tentu mencerminkan kualitas isi atau konten tayangan yang ramah edukasi. Ini memang bukan kewajiban kita untuk menyalakan pihak-pihak tertentu yang kurang bertanggung jawab dalam menyajikan konten.

Mengutip dari Harold D. Laswell, terdapat tiga fungsi media: 1) Informasi, 2) Mendidik; 3) Menghibur, yang seharusnya dapat diimplementasikan dengan baik sehingga apa yang tengah dicita-citakan oleh bangsa ini dapat terwujud dengan cepat dan memberikan dampak positif bagi semua pihak.

Yang terjadi, media tentu mengikuti keinginan pasar atau menciptakan pasar yang sesuai dengan penerimaan publiknya.

Para pemangku kepentingan di perusahaan media juga harus berpengang teguh pada tujuan utama perilaku penyiaran. Media sebagai pihak yang menjembatani antara kebutuhan pasar dan kepentingan khalayak membutuhkan opinion leader, influencer dan seniman yang mampu menginspirasi lewat berbagai karya yang dihasilkan.

Sebagai penutup, perlu disampaikan bahwa pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab pengajar di sekolah saja melainkan semua pihak yang terlibat di dalamnya terutama di lingkungan rumah dan komunitas terdekat.

Dengan semakin banyak influencer dan orang-orang yang sadar akan pentingnya kemaslahatan pendidikan, maka semakin cepat proses mendapatkan kualitas SDM yang diharapkan dari pendidikan berkarakter.