Psikolog Jennyfer Berjuang Menepis Stigma Negatif Kesehatan Mental di Indonesia

Univ. Mercu Buana 2019
Konten dari Pengguna
7 September 2021 15:40
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Lisa Ramadhanty tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Psikolog Jennyfer Berjuang Menepis Stigma Negatif Kesehatan Mental di Indonesia (20809)
zoom-in-whitePerbesar
Jennyfer saat jadi narasumber di Kompas TV Dunia Wanita
Kepedulian akan kesehatan mental mengantarkan Jennyfer menjadi psikolog klinis di Jakarta. Dirinya kian populer karena giat mengampanyekan pentingnya kesehatan mental bersama para publik figur maupun influencer di media sosial.
ADVERTISEMENT
Bidang kesehatan mental adalah bidang yang menjadi fokus Jennyfer, M.Psi atau lebih akrab disapa dengan Kak Jen ini. Ia membuka layanan konseling maupun psikotes di klinik pribadinya baik secara tatap muka maupun online.
Perempuan kelahiran Selat Panjang, 24 Februari 1994 ini merupakan seorang kakak yang memiliki dua orang adik. Dirinya berkuliah di Universitas Bina Nusantara dengan jurusan psikologi dan mampu menyelesaikan pendidikan hanya dalam waktu 3,5 tahun saja.
Tidak mudah awalnya bagi Jennyfer untuk meyakinkan keluarganya ketika mengambil jurusan psikologi. Hal itu karena adanya stigma negatif terhadap bidang keilmuan tersebut. Keluarganya semula menyarankan ia untuk mengambil jurusan berkaitan dengan ekonomi.
Namun, pilihan Jennyfer untuk kuliah jurusan psikologi bukanlah tanpa alasan. Dirinya melihat di lingkungan sekitar bahwa orang yang memiliki masalah akan kesehatan mental dianggap sebagai aneh dan sepele. Ketika mencari penanganan psikologis, hal tersebut dianggap tabu dan negatif.
ADVERTISEMENT
Tidak hanya itu saja, dirinya merasakan rasa nyaman ketika mendengarkan dan membantu orang lain. Karena hal inilah, ia tetap berusaha menyakinkan keluarga akan hal tersebut.
Tantangan yang ia hadapi tak menyurutkan langkahnya. Ia berhasil meyakinkan orang tuanya sehingga ia diizinkan untuk mengambil jurusan psikologi. Dalam masa perkuliahan, Jennyfer sangat menyukai bahkan berkeinginan untuk melanjutkan ke tahap profesi.
Hanya saja, ia harus memikirkan mengenai kondisi keuangan keluarga. Dirinya masih memiliki dua orang adik yang membutuhkan biaya untuk sekolah. Tak habis akal, ia mencoba merintis usaha online demi memenuhi kebutuhan kuliah sambil menabung untuk pendidikan profesi.
Jennyfer akhirnya dapat melanjutkan pendidikan profesinya di Universitas Tarumanegara dan lulus dengan predikat summa cumlaude dan IPK 3,8. Jennyfer memulai kariernya sebagai psikolog dengan bekerja part timer di sebuah perusahaan pendidikan di Jakarta.
ADVERTISEMENT
Bagi Jennyfer, kesehatan mental adalah hal yang tidak dapat disepelekan. Sebagaimana keterangan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan mental adalah sebuah keadaan seseorang menyadari kemampuannya, dapat mengatasi tekanan yang ada, bekerja dengan produktif, dan memberikan kontribusi kepada komunitasnya.
Jennyfer percaya bahwa setiap orang memiliki risiko untuk mengalami masalah pada kesehatan mental tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau latar belakang. Sayangnya di kehidupan masyarakat masih menganggap hal ini aneh dan memiliki stigma negatif. Demi menghadapi itu semua, Jennyfer berusaha untuk memberikan edukasi dan memperjuangkan pentingnya kesehatan mental.
Jennyfer aktif memberikan edukasi melalui akun sosial media Instagramnya @jen.psikolog. Dirinya tidak sendiri. Banyak orang yang turut serta membantunya dalam menyebarkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental seperti publik figur dan influencer
ADVERTISEMENT
Kini, Jennyfer tengah merintis sebuah platform bernama FATHOM sebagai wadah bagi psikolog muda maupun yang memiliki jam terbang tinggi untuk saling membantu setiap orang yang membutuhkan penanganan psikologis
Di sini, seseorang dapat berkonsultasi dengan psikolog di platform secara privat. Hal itu tentunya memudahkan klien untuk mendapatkan layanan konseling. Jennyfer berharap, platform tersebut mampu membantu semua orang dari semua kalangan untuk mendapatkan penanganan psikologis yang tepat.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020