Konten dari Pengguna

Konten Views Jutaan, Tapi Kenapa Produk Tetap Sepi Pembeli?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Visca Olivia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambar dihasilkan oleh penulis
zoom-in-whitePerbesar
gambar dihasilkan oleh penulis

Kalian pasti pernah deh menghadapi kasus dimana konten jualan yang dibuat dapet views sampai ratusan ribu, bahkan jutaan, tapi produk yang keluar ga ada peningkatan. Di sisi lain, ada juga konten yang views-nya tidak terlalu besar, tapi justru menghasilkan banyak komentar, chat, atau pembelian.

Nah hal seperti ini sering terjadi pada pemasaran secara digital. Banyak orang menganggap konten yang masuk FYP otomatis akan menghasilkan banyak penjualan. Padahal, itu semua belum tentu terjadi. Jumlah views hanya menunjukkan berapa banyak orang yang melihat konten, bukan berarti menunjukkan jumlah penjualan yang masuk.

Data e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia terus berkembang. Indonesia diproyeksikan memiliki gross merchandise value (GMV) hampir USD 100 miliar pada 2025, dengan e-commerce sebagai sektor terbesar yang mencapai sekitar USD 71 miliar.

Besarnya pasar digital membuat media sosial semakin sering digunakan untuk memasarkan produk. Tapi, memiliki akun media sosial dan rutin membuat konten saja belum cukup. Konten juga harus dibuat dengan benar agar apa yang ingin disampaikan bisa diterima dengan jelas oleh penonton.

Lalu, apa yang membuat konten jualan bisa tembus jutaan views tapi belum menghasilkan penjualan?

Views tinggi belum tentu audiensnya tepat

Konten yang viral bisa dilihat oleh banyak orang. Masalahnya, belum tentu mereka merupakan target pasar produk tersebut. Misalnya, sebuah akun yang menjual produk Fashion Petite salah satu videonya viral karena mengikuti tren yang sedang ramai di kalangan remaja. Views-nya mungkin tinggi, tetapi sebagian besar penonton tidak memiliki kebutuhan atau daya beli yang sesuai dengan produk tersebut. Karena itu, jumlah views tidak bisa kita jadikan satu-satunya patokan keberhasilan konten.

Pemilik bisnis perlu melihat siapa yang menonton kontennya. Data seperti usia, jenis kelamin, lokasi, hingga interaksi dengan konten dapat membantu menentukan apakah konten tersebut benar-benar menjangkau target pasar.

Konten harus buat orang berhenti scroll

Di media sosial, beberapa detik pertama sangat penting, biasanya hal ini disebut hook. Pengguna terus menerima berbagai konten dalam waktu singkat. Jika pembuka video tidak menarik perhatian, mereka bisa langsung berpindah ke konten berikutnya. Karena itu, konten jualan perlu memiliki hook yang sesuai dengan target audiens.

Misalnya:

“Outfit udah bagus, tapi kenapa keliatan bantet ya?”

atau

“Ternya ini kesalahan yang bikin fashion kamu keliatan ga match.”

Hook seperti ini memberikan alasan bagi audiens untuk melanjutkan menonton. Namun, hook juga harus sesuai dengan isi konten. Jika pembuka hanya dibuat untuk mendapatkan views tetapi isi videonya tidak sesuai dengan ekspektasi, audiens bisa kehilangan kepercayaan terhadap akun tersebut.

Visual bagus saja belum cukup

Konten jualan memang perlu memiliki visual yang jelas dan enak dilihat. Tapi, visual bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah seseorang akan membeli. Konten juga harus memberikan informasi yang dibutuhkan audiens.

Untuk produk fashion misalnya, audiens mungkin ingin mengetahui bahan, ukuran, harga, detail produk, atau bagaimana produk tersebut terlihat ketika digunakan. Artinya, konten perlu menjawab pertanyaan yang mungkin muncul sebelum seseorang membeli.

Jangan lupa arahkan audiens

Setelah seseorang menonton konten, apa yang ingin kita lakukan selanjutnya? Di sinilah CTA atau Call to Action berperan.

CTA dapat berupa ajakan untuk melihat produk, mengunjungi profil, memberikan komentar, atau melakukan pembelian.

Contohnya:

“Cek detail produknya di keranjang.”

atau

“Kalau mau lihat pilihan warnanya, cek katalog di profil.”

CTA membuat tujuan konten menjadi lebih jelas. Tanpa arahan, audiens mungkin hanya menonton lalu kembali scrolling.

Analisis data yang kita punya

Setelah konten diunggah, jangan hanya melihat apakah videonya FYP atau tidak. Instagram dan TikTok menyediakan data analisis yang dapat digunakan untuk mengevaluasi konten.

Data yang disajikan beberapa di antaranya adalah views, reach, likes, comments, shares, saves, dan watch time.

Misalnya, sebuah video mendapatkan 100 ribu views tetapi hanya menghasilkan sedikit kunjungan ke profil. Sementara video lain hanya mendapatkan 20 ribu views tetapi menghasilkan banyak kunjungan dan komentar yang berkaitan dengan produk. Dari sini, kita bisa melihat bahwa konten dengan views lebih rendah belum tentu tidak berguna.

Tujuan konten jualan bukan sekadar mendapatkan angka views yang besar. Konten perlu membantu audiens bergerak dari melihat, tertarik, mencari informasi, sampai akhirnya melakukan tindakan.

Jadi, sebelum mengatakan konten kita gagal karena tidak FYP, coba lihat lagi datanya.

  • Apakah kontennya sudah menjangkau orang yang tepat?

  • Apakah hook-nya sesuai?

  • Apakah informasi produknya cukup?

  • Apakah ada CTA yang jelas?

  • Dan yang paling penting, apakah audiens melakukan tindakan setelah melihat konten?

FYP memang bisa membantu sebuah produk mendapatkan awareness, tapi hal itu belum tentu berubah menjadi pembelian.

Dalam digital marketing, tantangannya bukan hanya membuat orang melihat konten, tetapi membuat konten tersebut relevan bagi orang yang tepat dan mendorong mereka melakukan suatu tindakan.