Konten dari Pengguna

Lebih dari Sekadar Tokoh Fiksi: Mengapa Karakter Film Begitu Membekas?

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aas Ulviah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Unsplash

Pernah nggak sih kamu selesai nonton film atau drama, tapi rasanya ada sesuatu yang masih tertinggal? Bukan cuma jalan ceritanya, melainkan sosok karakternya. Entah kenapa, mereka terus muncul di pikiran. Kadang kita jadi penasaran bagaimana kelanjutan hidup mereka, mencari cuplikan filmnya lagi di TikTok, memutar soundtrack-nya berulang-ulang, atau bahkan merasa sedih ketika mengingat akhir ceritanya.

Ada juga yang sampai menangis karena karakter favoritnya meninggal, atau justru kepikiran berhari-hari karena serial yang ditonton masih on going dan nasib tokohnya masih menggantung. Padahal, kita sama-sama tahu kalau mereka hanyalah tokoh fiksi. Lalu, kenapa mereka bisa terasa begitu nyata?

Ternyata, psikologi memiliki penjelasan mengenai fenomena ini. Saat menonton film, kita tidak hanya menyaksikan rangkaian adegan, tetapi juga ikut memahami perjalanan hidup, konflik, dan emosi yang dialami para tokohnya. Tanpa disadari, kita mulai merasa dekat dengan mereka, seolah-olah mengenalnya secara pribadi. Kedekatan emosional inilah yang dikenal sebagai parasocial relationship, yaitu hubungan emosional satu arah yang terbentuk antara seseorang dengan tokoh yang hadir di media, baik tokoh fiksi maupun figur publik (Mahenda & Hutapea, 2025).

Hubungan tersebut tidak muncul begitu saja. Semakin sering kita melihat karakter yang sama, memahami latar belakangnya, menyaksikan perjuangannya, hingga mengikuti perkembangan hidupnya dari episode ke episode, semakin besar pula peluang munculnya rasa keterikatan. Menurut Mahenda dan Hutapea (2025), hubungan parasosial dipengaruhi oleh intensitas paparan media, daya tarik karakter, dan keterlibatan emosional seseorang selama menikmati tayangan.

Pernah merasa karakter tertentu seperti "aku banget"? Misalnya, mereka sama-sama sedang mengejar mimpi, kehilangan orang tersayang, berjuang menghadapi masalah keluarga, atau berusaha bangkit dari masa sulit. Tanpa sadar, kita mulai melihat sebagian diri kita dalam diri mereka. Kesamaan pengalaman itulah yang membuat hubungan emosional menjadi semakin kuat. Akibatnya, ketika karakter tersebut bahagia, kita ikut tersenyum. Sebaliknya, ketika mereka terluka atau kehilangan, kita pun ikut merasa sedih.

Fenomena ini juga berkaitan dengan narrative transportation, yaitu kondisi ketika seseorang benar-benar larut ke dalam dunia cerita. Penelitian Savitri dan Nuha (2021) menjelaskan bahwa cerita fiksi mampu membawa perhatian, imajinasi, dan emosi pembaca maupun penonton masuk ke dalam alur cerita. Ketika hal itu terjadi, empati terhadap karakter akan meningkat sehingga pengalaman emosional yang dirasakan menjadi lebih mendalam.

Itulah sebabnya banyak orang merasa sulit melupakan karakter tertentu setelah film berakhir. Bahkan, tidak sedikit yang masih memikirkan bagaimana kehidupan tokoh tersebut setelah cerita selesai atau merasa sedih karena akhir kisahnya tidak sesuai harapan. Walaupun kita sadar bahwa semuanya hanyalah hasil akting dan skenario, otak tetap memproses pengalaman emosional tersebut sebagai sesuatu yang bermakna.

Menariknya, kedekatan emosional dengan karakter film ternyata tidak selalu berdampak buruk. Berdasarkan hasil tinjauan sistematis Mahenda dan Hutapea (2025), parasocial relationship juga dapat memberikan manfaat psikologis, seperti menghadirkan rasa nyaman, mengurangi kesepian, menjadi hiburan, hingga memberikan inspirasi dan motivasi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selama seseorang masih mampu membedakan antara dunia nyata dan dunia fiksi, hubungan emosional seperti ini merupakan hal yang wajar.

Hal tersebut juga didukung oleh penelitian Sadira dan Vrisaba (2025) yang menemukan adanya hubungan positif antara parasocial relationship dengan subjective well-being pada penggemar K-Pop. Semakin baik hubungan parasosial yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula kecenderungan mereka merasakan kesejahteraan psikologis.

Walaupun penelitian ini dilakukan pada penggemar K-Pop, konsep yang sama juga dapat diterapkan pada keterikatan seseorang dengan karakter film atau serial. Tokoh yang disukai dapat memberikan rasa ditemani, memperbaiki suasana hati, bahkan menjadi penyemangat di masa-masa sulit.

Namun, hubungan emosional tersebut tetap perlu berada dalam batas yang sehat. Jika seseorang mulai kesulitan menerima bahwa cerita telah berakhir, terus-menerus membandingkan kehidupan nyata dengan dunia fiksi, atau sampai mengabaikan aktivitas sehari-hari karena terlalu larut dalam cerita, maka sudah saatnya memberi sedikit jarak. Menikmati film memang menyenangkan, tetapi tetap penting untuk kembali menjalani kehidupan nyata.

Jadi, kalau kamu pernah menangis karena karakter favorit meninggal, kepikiran terus dengan akhir cerita yang menggantung, atau merasa belum bisa move on setelah menyelesaikan sebuah film, itu bukan berarti kamu terlalu baper. Bisa jadi, kamu sedang mengalami keterlibatan emosional yang memang dijelaskan dalam psikologi melalui konsep parasocial relationship, empati, dan narrative transportation. Pada akhirnya, karakter film yang membekas bukan hanya tentang cerita yang bagus, tetapi juga tentang bagaimana cerita tersebut berhasil menyentuh sisi emosional kita sebagai manusia.