Konten dari Pengguna

Konvoi Jamaah Haji: Tradisi Lokal Yang Perlu Evaluasi

Wahyudi Kholilullah

Wahyudi Kholilullah

Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya 2024

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wahyudi Kholilullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi arak-arakan kedatangan jamaah haji. Foto : Kompas, dan Bing generator. Edit (pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi arak-arakan kedatangan jamaah haji. Foto : Kompas, dan Bing generator. Edit (pribadi)

Tradisi arak-arakan sepeda motor untuk menyambut kepulangan jamaah haji sudah menjadi pemandangan lumrah di berbagai daerah, termasuk di Madura. Konvoi panjang dengan suara klakson bertubi-tubi, iring-iringan kendaraan, suara knalpot yang bising, bahkan kadang disertai atraksi berisiko, seolah menjadi ekspresi kebanggaan yang berlebihan atas kembalinya anggota keluarga atau kerabat dari tanah suci. Namun, tak sedikit yang mulai mempertanyakan: apakah ini bentuk syukur, atau justru euforia yang kebablasan?

Di satu sisi, tradisi ini memang punya nilai sosial: mempererat silaturahmi dan menunjukkan antusiasme warga terhadap ibadah haji. Tapi di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan bahwa arak-arakan ini kerap menimbulkan kemacetan, mengganggu ketertiban jalan, bahkan bisa membahayakan pengguna jalan lain. Ironisnya, semua itu dilakukan atas nama ibadah yang semestinya mengajarkan kesederhanaan dan kepedulian sosial.

Kritik bukan datang dari luar tradisi, melainkan dari sebagian masyarakat sendiri yang merasa terganggu dan mempertanyakan manfaat nyata dari konvoi tersebut. Apalagi, para jamaah baru saja pulang dari perjalanan spiritual yang sakral. Harusnya ada kesadaran lebih bahwa penyambutan bukan soal kemeriahan di jalan raya, tapi soal meneladani nilai-nilai haji seperti tawadhu', disiplin, dan kepedulian terhadap sesama.

Sebenarnya, masih banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk menyambut jamaah haji tanpa harus mengganggu ketertiban umum. Misalnya dengan mengadakan tasyakuran sederhana di rumah, pengajian bersama, atau bahkan kegiatan sosial seperti berbagi sembako untuk warga sekitar. Bentuk syukur tidak selalu harus ditampilkan dalam bentuk konvoi bising yang justru menodai makna perjalanan spiritual itu sendiri.

Pemerintah daerah dan tokoh agama juga seharusnya mulai mengambil peran aktif untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga nilai ibadah haji, termasuk dalam cara penyambutannya. Tradisi yang baik tentu patut dilestarikan, tapi jika sudah menimbulkan mudarat, maka perlu ada evaluasi bersama. Tidak semua tradisi harus terus dijalankan, apalagi jika tidak lagi relevan dengan konteks sosial saat ini.

Menyambut kepulangan dari tanah suci adalah momen yang membahagiakan, itu tidak salah. Tapi akan jauh lebih bermakna jika kebahagiaan itu dirayakan dengan cara yang tidak hanya menyenangkan bagi keluarga jamaah, tapi juga tidak mengganggu masyarakat lainnya. Karena sejatinya, haji bukan soal status, tapi soal perubahan sikap setelah pulang dari tanah suci. Dan mungkin, evaluasi terhadap konvoi bisa jadi langkah kecil untuk mencerminkan perubahan itu.