Konten dari Pengguna

Rekontruksi Pemikiran Terhadap Paradigma Berogansisasi

Wahyudi Kholilullah

Wahyudi Kholilullah

Presiden Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya 2024

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wahyudi Kholilullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ilustrasi mahasiswa beroganisasi di kampus. Sumber : Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ilustrasi mahasiswa beroganisasi di kampus. Sumber : Pixabay

Banyak temuan dari berbagai golongan yang mempertanyakan, “Masih pentingkah berorganisasi?” Pertanyaan semacam ini semakin sering muncul, terlebih di kalangan mahasiswa yang mulai terpengaruh oleh pandangan bahwa organisasi tidak lagi relevan untuk diikuti. Sebagian beranggapan bahwa organisasi mahasiswa hanya menyita waktu, penuh seremonial, dan kurang memberi manfaat nyata bagi perkembangan diri. Padahal, sejak dulu organisasi menjadi wadah pembelajaran kepemimpinan, penguatan karakter, dan ruang aktualisasi diri yang tidak selalu bisa diperoleh di ruang kelas. Persoalannya mungkin bukan pada eksistensi organisasi itu sendiri, melainkan pada cara pandang dan paradigma yang melekat di dalamnya sehingga perlu direkonstruksi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.

Salah satu masalah mendasar dari paradigma lama dalam berorganisasi adalah kecenderungan untuk menekankan hierarki dan formalitas ketimbang substansi. Misalnya, sebuah kegiatan terkadang dibuat hanya demi memenuhi kalender acara tahunan, tanpa evaluasi mendalam apakah kegiatan itu benar-benar memberi dampak bagi mahasiswa maupun masyarakat. Akibatnya, banyak mahasiswa di luar organisasi memandangnya sebagai tempat yang kaku, penuh drama internal, dan jauh dari kebutuhan nyata generasi muda.

Organisasi seharusnya tidak melulu tentang agenda formalitas rutinan, tapi lebih kepada bagaimana mahasiswa lebih peka terhadap kondisi sekitar dan majority yang dibutuhkan. Jika kegiatan selalu monoton dan tidak segera beradaptasi dengan perubahan zaman, maka siap-siap saja kalau nanti mahasiswa lebih memilih untuk mengembangkan potensi dirinya lewat komunitas lain, platform digital, atau bahkan dunia kerja. Saya amati sekarang juga banyak sekali program dari pemerintah yang saya fikir lebih menarik dalam menawarkan kegiatan yang itu sifatnya tidak hanya mengembangkan diri, akan tetapi ada win-win solution yang mereka berikan, salah satu contohnya seperti; magang berdampak yang bisa dikonversi 20 sks.

Paradigma baru dalam berorganisasi seharusnya menekankan kolaborasi, keterbukaan, dan dampak nyata. Organisasi tidak lagi dipandang sebagai ruang eksklusif bagi segelintir elite pengurus, tetapi menjadi wadah yang inklusif, di mana setiap anggota merasa memiliki kesempatan yang sama untuk menyumbangkan ide dan tenaga. Pola pikir seremonial harus digeser menuju pola pikir produktif: kegiatan bukan sekadar ada, melainkan benar-benar memberi manfaat yang dapat dirasakan oleh mahasiswa maupun masyarakat. Dalam era digital, organisasi juga perlu ramah teknologi, memanfaatkan media sosial untuk mendokumentasikan kegiatan, hingga menyebarkan nilai-nilai positif. Dengan paradigma seperti ini, organisasi akan lebih menarik, lebih relevan, dan lebih mudah diterima oleh generasi muda, sebab mereka melihatnya sebagai ruang pengembangan diri sekaligus sarana kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.

Pada satu kondisi, saya tidak sepenuhnya menyudutkan wadah atau organisasi mahasiswa, sebab saya rasa hal ini juga menyangkut individu masing-masing dalam memandang urgensi berorganisasi itu sendiri. Kita harus sepenuhnya sadar bahwa di luar ruang kelas, kita juga perlu menambah pengetahuan dan memperluas wawasan sebagai bekal kita sebagai insan akademisi dalam menghadapi dunia civil society yang sesungguhnya di masa mendatang.

Sudah saatnya kita berani melakukan rekonstruksi paradigma berorganisasi, agar organisasi tidak sekadar hadir di spanduk, baliho, atau postingan media sosial, melainkan benar-benar hidup dalam realitas keseharian mahasiswa dan masyarakat. Organisasi harus menjadi ruang yang relevan, di mana ide-ide segar lahir, kapasitas diri ditempa, dan kontribusi nyata diwujudkan. Tanpa keberanian untuk berubah, organisasi hanya akan menjadi simbol kosong yang ditinggalkan generasi muda. Namun dengan semangat rekonstruksi, organisasi bisa kembali menemukan marwahnya sebagai kawah candradimuka yang melahirkan insan-insan akademisi progresif, siap menghadapi tantangan zaman, dan mampu memberi manfaat sebesar-besarnya bagi lingkungan sekitarnya.