Perbedaan Antara Produktif dan Toxic Productivity Beserta Cara Menanganinya

Mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Binus Universitas
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Wahyuni Sabilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi seorang yang produktif merupakan impian semua orang. Namun, dengan berkembangnya hustle culture di masyarakat saat ini, produktif dan toxic productivity sulit untuk dibedakan sehingga banyak bagian dari masyarakat cenderung terjerumus pada toxic productivity.
Lalu, apa sih perbedaan antara produktif dan toxic productivity? Bagaimana cara membedakannya? Apa penyebab toxic productivity, ciri-cirinya, dan cara menanganinya? Dalam artikel ini, saya akan membahasnya satu per satu.
Pertama, apa sih pengertian dari produktivitas atau produktif?
Menurut KBBI, produktif merupakan suatu sifat yang mampu menghasilkan atau mendatangkan suatu hal yang menguntungkan. Seseorang dapat dikatakan produktif ketika orang tersebut mengerjakan suatu hal secara efisien. Keefisienan sebuah cara dapat dilihat dari sebesar apa waktu dan usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai hasil yang diinginkan. Jika hasil yang diinginkan dapat dicapai dengan mengorbankan sedikit waktu dan sedikit usaha, maka dapat dikatakan bahwa cara yang digunakan oleh orang tersebut merupakan cara yang efektif.
Seseorang yang produktif biasanya terbiasa untuk mengerjakan suatu hal lebih awal sehingga tidak terburu-buru oleh deadline dan masih dapat beristirahat. Selain itu, menggunakan waktu semaksimal mungkin baik untuk bekerja maupun beristirahat merupakan kunci untuk menjadi seseorang yang produktif. Terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhi produktivitas seseorang seperti luasnya pengetahuan yang dimiliki, keterampilan, kemampuan, kebiasaan, serta sikap yang terbentuk, dan usia orang tersebut.
Lalu, apa itu toxic productivity?
Toxic productivity merupakan pola pikir yang terbentuk akibat toxic mindset terhadap produktivitas sehingga seseorang menjadi terobsesi untuk melakukan kegiatan produktif secara berlebihan. Toxic productivity juga biasanya dihubungkan dengan kondisi overworked dan workaholic.
Ciri-ciri dari toxic productivity yakni:
Obsesi dengan produktivitas hingga merasa bersalah jika beristirahat
Tidak pernah merasa puas dengan hasil yang dicapai
Selain itu, beberapa penyebab terjadinya toxic productivity meliputi:
Lahir dan berkembangnya hustle culture di lingkungan kerja
Stres yang disebabkan oleh tekanan-tekanan dari sekitar
Adanya pikiran negatif terhadap nilai diri sendiri
Setelah mengetahui perbedaan antara produktivitas dengan toxic productivity, ciri-cirinya, serta penyebabnya, berikut beberapa hal yang dapat menjadi patokan untuk membedakan antara produktivitas dengan toxic productivity.
Mulai tidak memperhatikan kebutuhan diri sendiri (tidak beristirahat dengan cukup)
Mulai tidak mengikuti kegiatan-kegiatan sosial.
Mulai mengalami burnout namun tetap tidak beristirahat.
Setelah mengetahui cara membedakannya, saya akan membahas tentang beberapa cara saya untuk menangani toxic productivity.
Berikut beberapa cara yang saya terapkan untuk keluar dari toxic productivity:
1. Menentukan target
Untuk keluar dari toxic productivity, saya mulai dari menentukan target. Target yang saya tentukan berfokus dan berprioritas pada apa yang penting dan apa yang mendesak sehingga saya tahu apa yang harus saya kerjakan terlebih dahulu dengan tidak terburu-buru.
2. Menggunakan agenda dan menentukan to-do list
Setelah menentukan target, saya akan menggunakan agenda untuk mencatat jadwal saya dan menentukan to-do-list atas apa yang harus saya kerjakan berdasarkan prioritasnya.
3. Menentukan waktu untuk liburan
Di sela-sela jadwal saya, saya membiasakan diri untuk menentukan waktu-waktu untuk saya pergi liburan atau sekadar untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang saya gemari. Hal ini saya lakukan untuk healing dan recharging diri saya sebelum kembali beraktivitas.
4. Menetapkan batasan
Hal terakhir yang saya lakukan ialah menetapkan batasan. Batasan yang saya tetapkan tidak sekadar membatasi antara waktu pribadi dengan waktu kerja, namun juga memberi jeda waktu di antara kegiatan sehingga saya menjadi jarang mengalami stress.
Pada dasarnya, untuk keluar dari toxic productivity, saya mengubah pola hidup dan pola pikir saya terhadap produktivitas itu sendiri. Mulai dari memahami apa makna sesungguhnya dari produktivitas, mengenal diri saya dengan lebih baik lagi, hingga mengubah pola hidup dan pola pikir yang lebih sehat, saya dapat keluar dari toxic productivity. Maka dari itu, saya harap artikel ini dapat membantu anda untuk keluar dari toxic productivity yang mungkin sedang Anda alami saat ini.
