Konten Media Partner

Jimat dan Minyak ‘Bulu Perindu’ Jadi Media Pelaris PSK di Probolinggo

WartaBromo

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Minyak bulu perindu milik pekerja seks yang diamankan Pol PP Kabupaten Probolinggo.
zoom-in-whitePerbesar
Minyak bulu perindu milik pekerja seks yang diamankan Pol PP Kabupaten Probolinggo.

Geliat bisnis esek-esek masih marak di Kabupaten Probolinggo. Untuk menunjang profesinya dalam dunia tersebut, malah ada beberapa pekerja seks komersial (PSK) yang menggunakan berbagai media pelaris.

Media pelaris untuk menggaet pria hidung belang itu beragam, di antaranya berupa jimat, bahkan minyak ‘bulu perindu’.

Pengakuan dilontarkan oleh SP (36), warga Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo, saat ditemui wartabromo.com di kantor Satpol PP, Minggu (25/8/2019).

SP merupakan satu dari lima pekerja seks yang diamankan oleh petugas penegak Perda di sebuah warung remang-remang daerah Kecamatan Besuk.

Perempuan ini sebelumnya mengungkapkan, tarif yang harus dibayar untuk sekali kencan sebesar Rp 100.000. Namun selayaknya sebuah bisnis, bila kondisi sepi, tak jarang juga ada pelanggan yang menawar Rp 75.000.

Kalau sudah begini, ia hanya bisa menganggukkan kepala, tanda setuju memberikan jasanya. Yang terpenting baginya, ia telah mendapatkan tamu.

Kira-kira di benaknya muncul kalimat: "Daripada modal dandan tak balik, harga turun sedikit tak apa,".

“Kalau sepi tamunya nawar Rp 75.000, tapi kalau sekarang saya patok Rp 100.000. Harga cabai saja naik, masa 'goyangan' enggak,” ungkapnya tanpa malu.

Ia mengaku menikmati pekerjaan yang sudah dilakoni beberapa tahun terakhir itu. Bahkan, SP memiliki sebuah jimat dengan huruf Arab yang menjadi pegangan. Jimat ini tergolong biasa digunakan, dan diyakini dapat menjaga keselamatan.

Selain jimat huruf Arab, ia juga mempunyai batu akik. Tuahnya, katanya sih sebagai pelaris. “Didapatkan dari teman yang lebih dulu bekerja seperti saya,” ujar perempuan dengan dua anak ini.

Selain akik, SP juga melengkapi diri dengan minyak ‘bulu perindu’. Minyak berwarna agak kekuningan dalam botol mirip ampul itu, dipercaya dapat memikat para lelaki hidung belang.

Ia sadar, dengan tubuh yang ‘subur’ dan sudah tak lagi ideal, maka mustahil baginya untuk menarik perhatian lelaki. Kira-kira dengan minyak ini, kepercayaan dirinya tumbuh dan mendapatkan pelanggan.

“Beli pas ke Bali, katanya bisa gaet tamu, tapi jarang saya gunakan. Cara pakainya cuma minyaknya saja dioleskan ke seluruh badan, terutama hidung. Ada hasilnya, tapi tidak selalu dapat pelanggan banyak, kadang-kadang saja,” urainya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh IH. Dirinya menjelaskan, standar upah untuk mendapatkan layanannya berkisar antara Rp 75.000 hingga Rp 100.000. Soal jimat pelaris, IH juga memilikinya.

“Rp 100.000 biasanya kalau banyak pengunjung, kalau sepi kami turunkan jadi Rp 75.000. Itupun untuk sewa kamar Rp 15.000,” terang IH.

Pastinya, meski telah dilengkapi dengan jimat keselamatan dan pengasihan, nyatanya mereka tetap kena 'garuk' Pol PP. Keberadaan mereka dianggap sebagai penyakit masyarakat, sehingga harus ditertibkan.

Pada operasi Pekat (penyakit masyarakat) di Kecamatan Besuk, Satpol PP Kabupaten Probolinggo mengamankan 5 pekerja seks.

Mereka tercatat berinisial BWN (28) asal Krucil, SP (36) asal Tegalsiwalan, IH (22) asal Banyuanyar, dan SF (32) asal Gading, Kabupaten Probolinggo. Satu lagi berinisial AA (31) asal Situbondo.

Selain itu, dua muncikari diciduk masing-masing tempat berbeda di Kecamatan Besuk. Muncikari itu adalah SY (33) asal Desa Tlogosari, Kecamatan Tiris, dan MT (34) asal Desa Besuk Agung, Kecamatan Besuk.

“Untuk masalah penyakitnya, kami koordinasi dengan Dinkes. Pembinaannya kami akan koordinasi dengan Dinsos. Yang muncikarinya, kami akan koordinasi dengan pihak kepolisian,” kata Mashudi, Kasi Operasi dan Pengendalian (Opsdal) Satpol PP Kabupaten Probolinggo.

Laporan: Choirul Umam Effendi, Probolinggo