Konten Media Partner

Keris: Produk Budaya Kaya Makna

WartaBromo

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Banyak orang membicarakan keris dari sudut pandang klenik. Padahal, sebagai produk budaya, keris merupakan karya seni tempa kelas tinggi. Pendekatan metalurgi diperlukan agar tak sesat makna.
zoom-in-whitePerbesar
Banyak orang membicarakan keris dari sudut pandang klenik. Padahal, sebagai produk budaya, keris merupakan karya seni tempa kelas tinggi. Pendekatan metalurgi diperlukan agar tak sesat makna.

Laporan Mochammad Asad

MOMENTUM itu terjadi pada November 2005 silam. Ketika itu, melalui sebuah persidangan yang digelar Unesco, organisasi di bawah naungan PBB itu memutuskan untuk memasukkan keris sebagai warisan dunia.

Ada banyak alasan yang menjadikan Unesco mengakui karya adiluhung buatan tangan ini hingga harus dilestarikan. Salah satunya, makna filosofis di setiap bagian keris.

Proses pembuatannya yang sarat dengan perjuangan membuatnya sebagai karya seni kelas tinggi. Karena itu, dibanding produk kebudayaan lainnya, keris bisa jadi satu-satunya yang diterima Unesco bukan saja pada unsur bendawinya, tapi juga nonbendawinya (intangible).

Persoalannya, kondisi sebaliknya justru terjadi dalam negeri. Ketika dunia luar melalui Unesco memberikan pengakuannya, sebagian besar masyarakat justru melihat keris sebagai benda yang sarat dengan klenik. Tak lebih. Imbasnya, aspek metalurgi keris tak jamak diketahui.

“Padahal, ada banyak makna filosofis yang tersimpan di balik setiap bentuk keris,” kata Kanjeng Raden Arya (KRA) Natakusuma Cakra Hadiningrat kepada WartaBromo, akhir pekan lalu.

Pegiat budaya yang akrab disapa Mpu Purwo termasuk orang yang tidak sepakat bila keris hanya dilihat dari unsur mistisnya. Sebab, semakin orang melihat dari sisi mistik atau kleniknya, keris justru akan semakin kehilangan nilainya.

Menurut Mpu Purwo, sebagai sebuah produk budaya, keris dibuat dengan beragam metode. Si pembuat pun, kata dia, harus memahami berbagai disiplin keilmuan. Termasuk, memahami karakter berbagai jenis logam.

Karena itu, seyogyanya keris ia tidak hanya dipandang sebagai benda pusaka tak bermakna. Melihat keris hanya dari sisi mistiknya, kata Mpu Purwo, akan menjauhkan aspek filosofis keris itu sendiri. “Kearifan-kearifan lokal yang ada di balik keris juga tidak akan diketahui,” jelasnya.

Sebagai produk budaya, keris tidak pernah diposisikan sebagai karya seni yang kaya akan makna. Tapi, lebih sebagai benda pusaka yang dipercaya memiliki khasiat tertentu. Akibatnya, banyak pihak menyimpan keris dengan alasan tersebut, ketimbang penghargaan atas keunggulan karya seninya.

Mpu Purwo tak menampik adanya unsur non bendawi pada keris. Tetapi, setidaknya hal itu harus diimbangi pemahaman terhadap aspek metalurgi yang melekat pada keris itu sendiri.

Dikatakan Mpu Purwo, pada zaman dahulu keris mempuyai dua fungsi. Yaitu sebagai senjata perang (Keris Tayuhan) dan sebagai pusaka (Keris Ageman).

Keris pusaka sengaja dibuat bukan untuk senjata perang tapi sebagai spiritual, atau jimat. Sebagai pusaka, keris memang berbeda dengan senjata tajam lainnya. Karena itu, untuk membuatnya, tidak sembarang orang bisa melakukannya.

Si pembuat, kata Mpu Purwo, harus memiliki kemampuan sebagai seorang mpu (pembuat keris, Red). Inilah yang menjadi pembeda antara keris dengan senjata tajam lainnya, seperti pisau atau pedang.

Keris dibuat dengan material benda yang memiliki karakter tertentu. Misal, meteor dan besi. Melalui proses yang penuh peluh, percampuran berbagai logam itulah yang kemudian diolah menjadi keris. Saat proses pengolahan itulah, pemahaman akan karakter masing-masing logam diperlukan guna menyesuaikan energi yang dibutuhkan. Sebab, menurut Mpu Purwo, masing-masing logam memiliki ion atau energi yang boleh jadi berlawanan atau tidak sesuai dengan pemegang keris.

Sebagai pembuat keris, Mpu Purwo mengaku banyak melakukan penelitian seputar per-keris-an. Dengan begitu, ketika ada yang ingin memiliki keris, pihaknya akan menyesuaikan dengan karakter logam yang dibutuhkan.

“Kalau membuat keris sendiri memang tergantung dari pemesannya. Dia mau keris untuk apa? Kebutuhannya apa, untuk penglaris, kewibawaan atau keselamatan? Karena masing-masing bahan berbeda karakternya,” terangnya.

Bagi Mpu Purwo, keris merupakan produk dari seni tempa dan seni pahat yang kaya akan nilai filosofis. Walaupun banyak yang bilang keris memiliki kandungan mistik, Mpu Purwo mengatakan keris adalah seni budaya yang adiluhung karena bisa dikaji dan dipelajari secara rasional.

“Ada ilmu metalurgi yaitu ilmu mengenai pencampuran besi, karena bahan dari keris sendiri dari berbagai macam besi aji seperti nikel, baja, besi dan meteor digunakan sebagai pamor,” ujarnya. Sebagai produk budaya, sudah selayaknya keris dilestarikan. Bahkan diajarkan agar tidak punah.

Tahapan Pembuatan Keris

Sebagai sebuah senjata pusaka, proses pembuatan keris tidak sama dengan senjata tajam lainnya. Ada tahapan yang harus dilewati sebelum memulai membuat keris. Mulai dari ritual sebelum memulai, hingga pewarangan.

Mpu Purwo mengatakan, proses pembuatan keris sangat bergantung pada jenis keris yang diinginkan. Sebab, beda jenis, beda pula bahan yang dicampur. Bergantung energi atau ion-ion logam.

Sebilah keris pusaka, menurut Mpu Purwo, waktu yang diperlukan bisa mencapai tiga bulan. Sedangkan keris biasa, proses pembuatan hanya memakan waktu 2 minggu sampai 1 bulan.

Meski menasbihkan diri sebagai pembuat keris pusaka, ia tak menolak bila ada yang meminta dibuatkan keris sekadar untuk cenderamata atau souvenir. Untuk keris souvenir ini, ia bahkan mampu membuat 3-4 keris setiap minggunya.

Soal pembuatan keris pusaka yang memakan waktu lebih lama, menurut Mpu Purwo, itu karena ada ‘ritual’ yang harus dijalani. Seperti tirakat dengan berpuasa 3 hari dengan sahur dan buka hanya nasi dan air putih saja. Setelah itu baru menggelar ritual doa-doa.

Setelah itu, baru proses penempaan. Dimana, semua bahan dipanaskan dalam suhu lebih dari 1000 derajat celcius. Proses ini memakan waktu yang cukup lama. Sebab, besi yang bercampur batu meteor itu harus dilipat terus menerus dan dipanjangkan hingga menjadi satu (satonan).

Dari satonan, prosesi dilanjutkan dengan membuat kodokan. Yakni, satonan yang semula hanya berbentuk campuran besi panjang, dipahat membentuk keris.

Setelah keris mempunyai bentuk, baru dilakukan finishing. Proses itu dilakukan dengan mendetailkan sisi pinggir keris agar memiliki nilai seni tinggi. Baru setelah itu, diakhiri dengan pewarangan dengan menyelupkan keris ke cairan yang mengandung arsenic.

Menurut Mpu Purwo, pewarangan itu dimaksudkan untuk memunculkan pamor keris. Tahap akhirnya, adalah mengolesi keris dengan minyak cendana, mawar untuk menghindarkan keris dari korosi atau karatan.

Keris, bagaimanapun juga adalah sebuah karya adiluhung. Sebagai sebuah produk budaya, sudah selayaknya jika warisan leluhur itu terus dilestarikan. Karena itu, ia pun acapkali hadir di sejumlah kegiatan guna membincang soal keris.

“Biar keris tidak hanya dilihat dari perspetif mistik, kami juga banyak mengupas dari perspektif metalurgi. Dan, rata-rata mereka mengaku tertarik karena pendekatan seperti sangat jarang mereka dapatkan,” kata Mpu Purwo.

Bagi Mpu Purwo, keputusan Unesco yang mengakui keris sebagai warisan budaya dunia telah memunculkan kecenderungan sebagian orang untuk lebih tahu tentang keris. Paling tidak, mereka yang sebelumnya acuh terhadap keris, kini lebih berusaha mencari tahu tentang seluk beluk tentang per-keris-an.