Jujutsu Kaisen Bawa MAPPA Pimpin Industri Anime Global

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi painting, child, toy. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi painting, child, toy. Foto: Pixabay

Industri hiburan global tengah menyaksikan pergeseran besar dalam konsumsi konten visual, dengan anime yang kini memimpin sebagai genre paling diminati di berbagai platform streaming di Asia. Berdasarkan laporan terbaru bertajuk The Anime Economy dari Media Partners Asia (MPA), basis penonton anime tercatat tumbuh jauh melampaui genre hiburan lainnya sepanjang periode Juli 2025 hingga Agustus 2026.

Di tengah lonjakan popularitas ini, waralaba Jujutsu Kaisen sukses membawa studio MAPPA melesat ke posisi puncak sebagai pemimpin pasar produksi anime regional. Fenomena ini sekaligus menandai perubahan strategi platform penyiaran digital yang kini mulai beralih dari sekadar membeli lisensi penayangan menjadi kepemilikan penuh atas kekayaan intelektual (intellectual property).

Dominasi Mutlak MAPPA dan Lonjakan Penonton di Asia

Keberhasilan Jujutsu Kaisen mendominasi daftar tontonan di tujuh dari delapan pasar utama Asia pada paruh pertama tahun 2026 menjadi katalis utama bagi MAPPA. Studio ini berhasil mendongkrak pangsa waktu tonton regional mereka secara drastis, naik dari hanya 6,1 persen pada akhir tahun 2025 menjadi 17,3 persen di awal tahun 2026. Angka tersebut menempatkan MAPPA sedikit di atas kompetitor beratnya, seperti TMS Entertainment yang mengantongi 16,6 persen, Toei Animation sebesar 13 persen, serta judul-judul di bawah bendera Aniplex dengan mendaftarkan angka 12 persen.

Secara keseluruhan, laporan MPA menunjukkan bahwa anime secara konsisten menarik perhatian pengguna layanan video-on-demand (VOD) premium. Sekitar 31 persen hingga 47 persen pengguna aktif bulanan di wilayah Asia rutin menonton anime. Angka dominasi ini bahkan jauh lebih tinggi di negara asalnya, Jepang, di mana persentase penonton anime bulanan menyentuh kisaran 45 persen hingga 59 persen dari total pengguna platform streaming.

Persaingan Ketat Netflix dan Prime Video

Di ranah distribusi, Netflix memegang kendali atas hampir separuh dari total durasi tontonan anime di kawasan Asia selama periode riset berlangsung. Namun, persaingan ketat terjadi di Jepang yang merupakan pasar anime terbesar di dunia. Prime Video yang sebelumnya memimpin dengan pangsa pasar 43 persen pada akhir tahun 2025 kini harus rela berbagi takhta setelah Netflix menyamakan kedudukan dengan masing-masing menguasai 42 persen pangsa pasar pada paruh pertama tahun 2026.

Pertumbuhan durasi tonton anime di Netflix sendiri terbilang sangat masif. Data internal platform menunjukkan konsumsi anime di Jepang merangkak naik dari 3,33 miliar jam pada awal 2023 menjadi 4,64 miliar jam pada pertengahan 2026. Lonjakan sebesar 39 persen ini terjadi di saat pertumbuhan total penonton Netflix secara umum hanya bergerak lambat di angka 4,5 persen pada periode yang sama.

Transisi Strategis Menuju Kepemilikan Hak Cipta

Meskipun sekitar 80 persen konsumsi anime saat ini masih didominasi oleh konten perpustakaan berlisensi lama, arah industri jelas sedang bergeser ke arah kepemilikan waralaba secara mandiri. Langkah strategis ini ditandai dengan kemitraan langsung antara Netflix dan MAPPA yang disepakati pada Januari 2026. Pola ini diproyeksikan akan menjadi standar baru pembiayaan produksi anime dalam beberapa tahun ke depan.

Selain platform penyiaran global, raksasa teknologi seperti Sony juga terus memperkuat cengkeramannya melalui integrasi vertikal. Sony tercatat terlibat dalam tujuh dari 21 transaksi besar di industri anime sejak tahun 2021. Melalui kepemilikan platform streaming khusus Crunchyroll yang kini memiliki 21 juta pelanggan berbayar, bersama dengan kepemilikan saham di Kadokawa dan Bandai Namco, Sony berhasil membangun ekosistem anime ujung-ke-ujung (end-to-end) pertama di dunia.

Direktur Eksekutif MPA, Vivek Couto, menjelaskan bahwa skalabilitas industri anime kini sudah mapan, dan tantangan berikutnya adalah bagaimana mengelola pertumbuhan baru tersebut. Couto memaparkan, “Skala anime kini sudah mapan; pertanyaannya adalah dari mana pertumbuhan berikutnya akan datang dan siapa yang akan menangkap peluang tersebut. Katalis utamanya adalah ekspansi streaming yang semakin dalam ke pasar-pasar baru secara global, adaptasi teatrikal bioskop berskala besar, hingga ekspansi ke dalam produk gim dan merchandise yang membawa waralaba melampaui layar kaca. Arah industri saat ini adalah menuju kepemilikan penuh: platform membiayai produksi secara langsung, kelompok pemilik IP asal Jepang membeli studio produksi, dan kedua belah pihak belajar untuk berkolaborasi.”

Couto juga menambahkan bahwa tantangan terbesar industri saat ini terletak pada kapasitas produksi, bukan pada modal atau permintaan pasar. Menurutnya, “Batasan utamanya adalah kapasitas, bukan permintaan atau modal. Studio-studio yang menghasilkan karya terpopuler sering kali merupakan pihak yang paling tidak mampu melakukan investasi mandiri, dan industri ini masih sangat bergantung pada segelintir waralaba besar saja. Perusahaan yang mampu mengatasi masalah kapasitas produksi serta merangkul para animator dengan baik akan berada di posisi terbaik untuk fase pertumbuhan berikutnya.”