Sempat Lesu di Bioskop, Anime Scarlet Garapan Mamoru Hosoda Laris di HBO Max

Film anime bertema fantasi gelap garapan sutradara Mamoru Hosoda, Scarlet, kini menemukan napas baru di platform digital. Meski sempat mengalami kelesuan finansial saat penayangan teatrikal globalnya, film yang terinspirasi dari tragedi klasik Shakespeare ini justru mendapat sambutan hangat dari penonton layar kaca.
Dilansir dari Collider, film ini baru-baru ini berhasil menembus daftar sepuluh besar film terpopuler di HBO Max secara global. Kehadiran film tersebut di peringkat kedelapan membuktikan bahwa medium streaming menjadi penyelamat bagi karya-karya animasi yang kurang bersinar di bioskop konvensional.
Perjalanan dari Festival Venesia hingga Layar Kaca
Perjalanan film ini menuju popularitas tidaklah instan. Film ini pertama kali melakukan penayangan perdana di Festival Film Internasional Venesia pada tahun 2025, sebelum akhirnya resmi masuk ke pasar Amerika Serikat pada Februari 2026. Meskipun didistribusikan secara global, pendapatan box office film ini hanya mampu menyentuh angka sekitar 2 juta dolar AS, sebuah angka yang tergolong minim jika dibandingkan dengan proyek anime raksasa lain.
Di tengah dominasi film layar lebar waralaba besar seperti Demon Slayer atau Chainsaw Man, film orisinal dengan pendekatan artistik yang berbeda sering kali kesulitan menarik massa ke bioskop. Namun, pergeseran tren ke platform digital memberikan kesempatan kedua bagi film ini untuk menjangkau audiens yang lebih luas secara organik.
Adaptasi Tragedi Klasik Berbalut Dunia Mistis
Dari segi cerita, film ini menawarkan narasi yang cukup ambisius dengan memodifikasi drama tragedi terkenal, Hamlet. Kisahnya berpusat pada seorang putri Denmark abad ke-16 bernama Scarlet yang diperankan oleh pengisi suara Mana Ashida. Setelah gagal membalaskan dendam kematian ayahnya kepada sang paman, Claudius, Scarlet justru terbangun di sebuah dunia mistis yang disebut Otherworld.
Di dunia pascakematian tersebut, petualangan Scarlet dimulai ketika ia menyadari bahwa Claudius juga berada di sana dan sedang membangun pasukan roh dengan menjanjikan sebuah tempat bernama Infinite Land. Dalam misi balas dendamnya yang belum usai, Scarlet dibantu oleh Hijiri, seorang paramedis dari era Jepang modern yang tersesat di dimensi yang sama.
Respon Kritikus dan Pencapaian Penghargaan
Walaupun performa komersialnya di bioskop terbilang rendah, kualitas produksi film ini tetap mendapatkan apresiasi dari komunitas pencinta sinema. Karya ini mengantongi skor 71 persen dari para kritikus di situs Rotten Tomatoes, serta meraih nilai audiens sebesar 80 persen. Sebagian besar penonton memuji visualisasi lanskap akhirat yang memanjakan mata khas arahan Mamoru Hosoda, meskipun beberapa pengamat mencatat adanya celah logika dalam penulisan naskahnya.
Di sisi lain, kualitas artistik film ini juga diakui lewat berbagai ajang penghargaan bergengsi. Selain membawa pulang trofi Fanheart3 Award di Festival Film Venesia, karya fantasi ini juga sempat masuk nominasi sebagai Film of the Year dalam ajang Crunchyroll Anime Awards. Pengakuan ini menegaskan bahwa kesuksesan sebuah karya tidak hanya diukur dari angka penjualan tiket di pekan perdana perilisannya saja.

