Konten dari Pengguna

Nazar Reni untuk Hutan yang Tak Boleh Gundul

Welhelmus Poek

Welhelmus Poek

Welhelmus Poek seorang aktivis NGO yang sangat intens advokasi isu-isu Hak Asasi Manusia terutama hak-hak kelompok marginal, secara spesifik memperjuangkan hak-hak anak muda, gender dan keadilan sosial lainnya. Lahir di Pulau Rote, 17 Juni 1981.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Welhelmus Poek tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari kursi lurah hingga barisan pohon kopi di Lelogama, perempuan ini memilih satu warisan yang tidak bisa dibeli: hutan yang lestari untuk anak cucunya.

Pagi itu di Lelogama, perempuan bertubuh kecil itu berjalan menembus rimbunan pohon ampupu yang menjulang. Di tangannya bukan map kebijakan atau dokumen dinas, melainkan bibit kopi yang akan ia tanam bersama anak-anak muda kampungnya. Yosince R.A. Naetasi, 57 tahun, mantan Lurah Lelogama, kini memilih menjadi penjaga hutan.

Foto: Kegiatan RHL oleh KTH Pariwisata Lelogama/@RBP REDD+ GCF Output 2 Provinsi NTT
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Kegiatan RHL oleh KTH Pariwisata Lelogama/@RBP REDD+ GCF Output 2 Provinsi NTT

"Kalau bukan kami yang jaga, siapa lagi?" kata perempuan yang biasa disapa Reni ini, dengan nada yang lebih menyerupai doa daripada pertanyaan.

Ketika Jabatan Selesai, Perjuangan Baru Dimulai

Reni menjabat sebagai Lurah Lelogama sejak Oktober 2021. Tapi jauh sebelum sah bertugas, kegelisahannya soal hutan sudah menggunung. Ia menyaksikan bagaimana warga datang silih berganti ke hutan, dengan dalih mencari kayu kering, tapi yang tumbang sering kali kayu mentah yang masih hidup. Pohon-pohon ampupu, penopang ekologi dan sumber air minum warga, semakin hari semakin berkurang.

Tak cukup hanya prihatin, Reni bertindak. Pada Januari 2023, ia mengumpulkan seluruh pemangku kepentingan; dari aparat desa, masyarakat adat, hingga petugas KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan). Ia mendorong sertifikasi tanah untuk mempertegas batas ulayat dan menghentikan klaim-klaim sepihak yang selama ini menjadi pintu masuk penebangan liar.

Dari rapat itu lahirlah sebuah kesepakatan sederhana namun berdampak besar: setiap warga boleh mengambil kayu kering dari hutan, tapi kayu mentah tidak boleh ditebang. Boleh dibawa dengan motor, tapi tidak boleh dengan mobil. Aturan ini tampak kecil, namun bagi Reni, inilah fondasi pertama dari sebuah perjanjian panjang antara manusia dan hutan.

Kontrak 35 Tahun dengan Hutan

Negosiasi Reni dengan KPH membuahkan hasil yang luar biasa: masyarakat Lelogama mendapatkan kontrak resmi selama 35 tahun untuk mengelola dan menjaga kawasan hutan adat di wilayah mereka. Lahirlah Kelompok Tani Hutan (KTH) Pariwisata, sebuah kelompok yang sejak awal ia rancang bukan sekadar formalitas administratif, melainkan sebuah gerakan hidup.

"Ada yang bilang kelompok kami dibentuk karena ada uang," kenang Reni. "Saya langsung bantah. Kami bentuk kelompok ini karena kami mau jaga hutan warisan nenek moyang kami. Bukan uang tujuan utama kami."

Yang membuat KTH Pariwisata berbeda dari kelompok tani biasa adalah siapa yang diajak bergabung: anak-anak muda Lelogama yang putus sekolah atau tidak melanjutkan pendidikan. Reni melihat mereka bukan sebagai beban sosial, melainkan sebagai generasi penerus yang perlu diberi tanggung jawab nyata, menjaga hutan yang telah menopang kehidupan nenek moyang mereka selama berabad-abad.

Ilmu Baru dari Lereng Hutan: Agroforestri

Titik lompatan besar dalam perjalanan KTH Pariwisata datang ketika mereka bertemu dengan program RBP REDD+ GCF Output 2 Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebuah proyek yang didukung Green Climate Fund dan dikelola Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) untuk mendorong pengurangan emisi melalui pencegahan deforestasi dan rehabilitasi hutan.

Lewat program ini, Reni dan kelompoknya belajar sesuatu yang belum pernah mereka kenal sebelumnya: pola agroforestri. Menanam pohon kayu besar, tanaman buah produktif, dan tanaman bawah seperti jahe serta kunyit secara bersama-sama dalam satu hamparan hutan.

"Saya pernah lihat di Jawa petani tanam sayur dan cabai di pematang sawah. Tapi di Lelogama, saya tidak pernah lihat itu," cerita Reni dengan mata berbinar. "Sekarang kami tahu bisa tanam kopi, avokat, jahe, kunyit di sela-sela pohon besar. Ini ilmu baru yang luar biasa."

Hasilnya sudah mulai terlihat di lapangan. KTH Pariwisata telah menanam hampir 1.000 pohon kasuari, lebih dari 3.000 tanaman kopi, dan berencana menambah 2.300 pohon kopi lagi. Dua kali seminggu, setiap Selasa dan Jumat, anggota kelompok masuk hutan untuk menyiram dan merawat tanaman, dengan atau tanpa hujan.

"Kemarin dan hari ini awal keringat kami mengalir. Ke depan, kami akan tertawa karena uang akan mengalir ke saku." — Yosince R.A. Naetasi (Reni), KTH Pariwisata Lelogama

Kartini yang Menyentil dengan Cangkul

Di Lelogama, budaya patriarkal masih kuat. Perempuan kerap tersisih dari ruang pengambilan keputusan. Reni tahu itu, dan ia tidak diam.

Saat masih menjabat lurah, ia menginstruksikan agar perempuan didorong menjadi ketua RT. Ia menggerakkan budaya gotong royong yang melibatkan perempuan dan laki-laki secara setara di lapangan. Ketika ada aparat laki-laki yang menghabiskan waktu dengan mabuk, Reni menyentil langsung: "Inilah kenapa perlu pemimpin perempuan, supaya ada kerja untuk masyarakat, bukan hanya habiskan waktu."

Kini, meski sudah tidak lagi menjabat sejak 2024, pengaruhnya tetap terasa. Camat yang menggantikan eranya meneruskan nilai-nilai gotong royong yang ia tanam. Perempuan Lelogama semakin berani tampil berdampingan dengan laki-laki, tidak hanya di dapur, tapi di hutan, di rapat, dan di lapangan.

Dan kini, dampak aksi KTH Pariwisata mulai menarik perhatian. Warga yang semula menonton dari jauh mulai datang ke lurah, bertanya bagaimana cara bergabung atau membuat kelompok serupa. Bagi Reni, ini bukan kabar kecil.

"Ini sederhana. Tapi bagi saya, ini bukti bahwa apa yang kami kerjakan mulai dipandang berharga."

Satu Nazar yang Tak Tergoyahkan

Di balik semua kerja keras itu, Reni menyimpan sebuah mimpi yang ia sebut "nazar hidup." Dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, ia ingin hutan Lelogama penuh dengan pohon kopi, avokat, jahe, dan kunyit. Ia ingin ada kopi asli Lelogama yang bisa dinikmati tamu dari mana saja. Ia ingin anak-anak muda kampungnya tidak perlu menjadi TKI ke luar negeri hanya karena tidak ada pekerjaan di kampung.

Dan yang paling dalam dari semua mimpi itu: tidak ada lagi anak yang putus sekolah karena keluarganya miskin.

"Izinkan kami warga lokal untuk jaga hutan Lelogama. Tidak hanya 150 hektar, tapi semua hutan di sini. Ini mimpi dan nazar hidup saya dan masyarakat di sini."

Foto: Mama Reni dan Camat Amfoang Selatan Tanam Kopi/@KTHPariwisata-RBP REDD+ GCF Output 2 Provinsi NTT

Lelogama. Sebuah nama kecil di peta Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tapi dari sana, seorang perempuan bernama Reni membuktikan bahwa menjaga hutan bukan urusan pemerintah semata, melainkan urusan hati, identitas, dan tanggung jawab kepada generasi yang belum lahir.

Dan untuk itu, ia rela berkeringat dulu. Karena ia percaya, tertawa akan menyusul.