kumparan
Entertainment23 Mei 2020 10:40

Lord Didi Kempot: Ambyar di Puncak Tenar

Konten kiriman user
Didi_Kempot,_konser_The_Lord_Of_Loro_Ati-vg65x9nxaahlycn3ibzr (1).jpg
Didi Kempot saat konser di kawasan SCBD, Jakarta. Foto: Fanny Kusumawardhani/ kumparan
Pengalaman hidup mengajarkan saya pada kesimpulan, 'Kepahitan hidup itu akan tiba masanya jadi hal manis untuk dikenang.' Sok bijak? Enggak juga, itu sebuah escapisme saja sepertinya. Hahahaha... Olrait, enggak usah membuka tulisan dengan perdebatan.
ADVERTISEMENT
Saya mengawali tulisan dengan pernyataan itu, karena merasa kok sejalan dengan kata-kata Lord Didi Kempot, "Patah hati? Ya dijogeti." So, enggak ada kepahitan hidup yang hakiki. Bergantung bagaimana kita mau menyikapi. Kamu boleh kecewa sama mantan, patah hati karena harapan yang tak kunjung jadi kenyataan, frustrasi pada cara pemimpin ambil keputusan... Eits, mulai nyerempet politik nih!
Sepahit-pahitnya kecewa, patah hati, frustrasi, kalau dijogeti ya asyik-asyik aja ternyata!
***
Parasnya ayu dengan rambut melewati bahu. Sosoknya semampai, mengenakan kaos coklat berbalut jaket jeans biru mengkilap. Padu dengan celananya. Khas potongan gadis remaja dari kelas menengah perkotaan. Terawat, enggak kumal.
Badannya asyik meliuk-liuk, diiringi tetabuhan musik pengiring konser Didi Kempot. Kakinya lincah bergerak, ditingkahi gerakan tangan serempak. Dia tak canggung berjoget di panggung 'Didi Kempot & Sobat Ambyar Orchestra' yang disiarkan NET.
ADVERTISEMENT
Padahal gedung Teater Tanah Airku yang jadi lokasi pertunjukan, padat oleh para Sobat Ambyar. Hampir semua mewakili sosok si paras ayu berkaos coklat berbalut jaket jeans itu -entah siapa namanya. Mereka adalah wajah-wajah remaja dari kelas menengah perkotaan.
Semua hanyut dalam perasaan dari setiap lirik lagu yang disenandung Lord Didi Kempot. Tema lagunya apalagi kalau bukan soal patah hati. Tapi warna musik yang riang, bikin enak untuk dijogeti. Tak ada yang canggung atau jaim untuk bergerak rancak. Entah sejak kapan kelompok masyarakat itu muncul sebagai para Sobat Ambyar garis keras.
Saya sendiri mengenal Didi Kempot pada 2004.... Maksud saya mengenal lagu-lagunya! Siapa gue gitu lho... Saat itu pun yang namanya Didi Kempot sudah jadi artis. Bukan lagi penyanyi jalanan yang naik turun bus untuk ngamen.
Didi_Kempot-brfj63jy73cvfyotjtev.jpg
Didi Kempot. Foto: kumparan
Lagunya 'Cucak Rowo' yang rilis pada 2003, saat itu banyak digunakan sebagai lagu pengumpul massa di saat kampanye. Pada 2004, Indonesia untuk pertama kalinya menggelar Pemilu Presiden secara langsung. One man one vote. Saya masih bekerja di Metro TV dan ditugasi meliput kampanye di wilayah Sumatera Utara.
ADVERTISEMENT
Berkantor di Media Group (Media Indonesia dan Metro TV) Biro Medan di Jl. H.M. Yamin, Medan. Tapi hari-hari lebih banyak dihabiskan di jalan. Keliling berbagai kota di Sumatera Utara, mengikuti jadwal kampanye partai atau tokoh nasional yang singgah di sana.
Sebagai field producer, saya bersama tim liputan dan tim teknik menyambangi lokasi-lokasi kampanye. Membawa mobil SNG (Satelite News Gathering) segede Gaban yang berisi perangkat siaran langsung. Kami keliling dari Medan ke Deli Serdang, Serdang Bedagai, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Simalungun, Brastagi, Binjai, dan berbagai kota lain. Di hampir semua lokasi kampanye, lagu 'Cucak Rowo' dipasang keras-keras sejak sebelum acara dimulai, untuk mengundang kehadiran massa.
Meski lagu campur sari itu berbahasa Jawa, tapi cukup populer di Sumatera Utara. Populasi Pujakesuma atau Putera Jawa Kelahiran Sumatera di Sumut memang cukup besar. Kalau tak salah hampir setengah dari populasi penduduk. Siapa yang bisa 'menguasai' suara Pujakesuma, hampir pasti bisa jadi pemenang kontestasi di Sumut.
ADVERTISEMENT
Saat mampir makan di sebuah pasar di Tebing Tinggi dalam perjalanan pulang ke Medan, saya mendapati satu toko elektronik yang memasang lagu 'Cucak Rowo' keras-keras. Toko itu juga menjual kaset -belum eranya CD apalagi Spotify seperti sekarang. Saya pun membeli album 'Cucak Rowo', untuk diputar di mobil. Teman perjalanan mengejar liputan mengubek-ubek Kota Medan dan sekitarnya.
***
Sependek ingatan saya, setelah itu popularitas Didi Kempot meredup. Sampai muncul second wave di karier bermusiknya. Lebih dahsyat ketimbang saat lagu 'Cucak Rowo' itu kerap diputar di arena kampanye. Sampai muncul komunitas 'Sobat Ambyar' yang menjuluki Sang Pujaan, sebagai 'The Godfather of Broken Heart'.
Mengenang_Didi_Kempot-l3rxd6ydvt4og4abkhul (1).jpg
Warga mengenang Didi Kempot. Foto: Antara/ kumparan
Yang menarik, komunitas penggemarnya 'berubah wajah' dari saat saya mengenalnya di 2004. Kini wajah-wajah seperti si paras ayu berkaos coklat berbalut jaket jeans itulah -yang entah siapa namanya- yang jadi pemuja Lord Didi Kempot.
ADVERTISEMENT
Di tengah puncak karier bermusik pada periode second wave itulah Lord Didi Kempot berpulang. Usianya 53 tahun. Tak muda lagi secara biologis, namun buat musisi yang sedang di puncak popularitas, umur kiprahnya bisa masih panjang.
"It's not the good that die young. It's the lucky," kata Mark Twain. Sang Khalik punya kehendak, Lord Didi Kempot ambyar di puncak tenar.
Wis tak coba nglaliake jenengmu soko atiku Sak tenane aku ora ngapusi isih tresno sliramu Umpamane kowe uwis 'mulyo' Lilo aku lilo
Sugeng tindak Lord Didi Kempot. Semoga husnul khotimah.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan