News
·
22 Januari 2021 8:06

Terobosan di Tahun Vaksinasi COVID-19

Konten ini diproduksi oleh Westjavagov
Terobosan di Tahun Vaksinasi COVID-19 (52554)
Tahun kelabu pandemi telah berlalu, dan kita telah memasuki tahun 2021 yang merupakan tahun vaksinasi Covid-19. Negara di seluruh dunia kini sedang berjuang melawan virus tak kasatmata ini dengan vaksinasi sebagai salah satu senjata. Keberhasilan dalam vaksinasi akan turut menentukan langkah dalam mengakhiri pandemi.
ADVERTISEMENT
Pemerintah Indonesia untuk tahap pertama juga telah mempersiapkan program vaksinasi Covid-19 dengan mendatangkan 3 juta dosis vaksin CoronaVac produksi Sinovac Biotech, China. Pengadaan vaksin ini juga dijalin kerja sama antara Sinovac dengan BUMN Bio Farma.
Program vaksinasi dimulai dengan penyuntikan pada orang pertama, yakni Presiden RI Joko Widodo, tanggal 13 Januari 2021. Tindakan ini merupakan gerakan persuasif kepada publik untuk proaktif mendukung vaksinasi. Presiden ingin menunjukan kepada publik, bahwa vaksin yang digunakan aman, manjur, dan efektif setelah melalui uji klinis secara cermat, terukur, dan intensif.
Hal ini juga dikuatkan dengan adanya persetujuan dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan terkait penggunaan dalam kondisi emergensi (Emergency Use Authorization/EUA) untuk vaksin CoronaVac. Selain itu, Majeli Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa, bahwa CoronaVac suci dan halal.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan hasil evaluasi data keamanan vaksin Coronavac dari studi klinik fase 3 di Bandung, Jawa Barat, yang dipantau sampai periode 3 bulan setelah penyuntikan dosis yang ke-2, secara keseluruhan menunjukkan vaksin CoronaVac aman.
Vaksinasi di Indonesia yang pada tahap awal diprioritaskan pada tenaga kesehatan dan petugas pelayanan publik ini kemudian dijalankan secara serentak di 34 provinsi, tanggal 14 Januari 2021.
Sebagaimana di Jawa Barat, dari 27 kabupaten/ kota untuk tahap pertama dilakukan serentak di enam daerah, yakni Kota Bandung, Cimahi, Depok, Bogor, Kabupaten Bandung, dan Bandung Barat, kemudian Kota Bekasi pada tanggal 15 Januari. Penyuntikan perdana di Jabar juga dilakukan pada kepala daerah, pejabat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, sejumlah tokoh agama, dan tokoh masyarakat.
ADVERTISEMENT

Tanggung jawab besar

Daerah dalam hal ini provinsi/kabupaten/kota memegang peran penting dalam menyukseskan vaksinasi. Dalam upaya memutus rantai penyebaran Covid-19, tiap daerah mempunyai tanggung jawab yang besar agar dapat tercapai kekebalan komunitas dengan cakupan yang luas di wilayah masing-masing.
Apabila kekebalan komunitas baru dapat terjadi setelah 70 persen populasi memperoleh vaksin, maka untuk Indonesia diperlukan cakupan sekitar 182 juta penduduk. Sedangkan untuk Jabar sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar yang mendekati 50 juta jiwa, cakupan vaksinasi lebih kurang 36 juta jiwa. Ini merupakan tantangan yang tak mudah.
Bagi daerah dituntut untuk melakukan terobosan agar penerimaan masyarakat tinggi terhadap vaksinasi. Daerah diharapkan dapat melakukan komunikasi publik dan komunikasi risiko yang efektif untuk meyakinkan masyarakat.
ADVERTISEMENT
Sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi oleh setiap daerah tak hanya gencar dalam edukasi dan sosialisasi kepada warga, melainkan harus pula dapat menjamin ketersediaan, sistem penyimpanan, distribusi vaksin, sampai teknis vaksinasi yang efektif dan efisien.
Selama vaksinasi berjalan secara intensif harus dilakukan pula tes masif, pelacakan, isolasi/ perawatan (3T), serta protokol kesehatan 5M, memakai masker, menjaga kebersihan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas. Hal ini perlu terus dilakukan hingga kondisi benar-benar pulih dan normal kembali. Pasalnya, pengendalian penyebaran Covid-19 turut menentukan keberhasilan vaksinasi.
Tantangan lainnya adalah adanya kelompok antivaksin, serta mencuatnya infodemik di media sosial, dan misinformasi tentang vaksin Covid-19. Penolakan pun sudah mencuat sehari sebelum Presiden Jokowi divaksin. Salah seorang anggota DPR dalam rapat kerja dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan menolak mengikuti program vaksinasi.
ADVERTISEMENT
Bagi Provinsi Jawa Barat yang dalam pengambilan keputusan, langkah, dan kebijakan penanganan Covid-19 memegang prinsip proaktif, transparan, ilmiah, inovatif, dan kolaboratif ini diharapkan dapat menjadi yang terdepan dalam menyukseskan program vaksinasi. Bagi Jabar sangat memungkinkan karena memiliki sumber daya yang memadai.
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun telah menyatakan, bahwa dalam program vaksinasi, Jabar harus menjadi provinsi yang terbaik demi mendukung terciptanya ketahanan kesehatan nasional, serta mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional.

Sigap, proaktif, cepat

Dari peran Pemprov Jabar sejauh ini, sejak Pemerintah Indonesia mengumumkan kasus terkonfirmasi Covid-19 perdana pada 2 Maret 2020, Jabar selalu bergerak sigap, proaktif, dan cepat.
Seperti halnya ketika hendak digulirkan uji klinik fase 3 vaksin CoronaVac di Bandung, peminat relawan yang mendaftar sangat minim. Padahal relawan yang dibutuhkan 1.620 orang. Bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jabar, Kang Emil kemudian mengajukan diri menjadi “kelinci percobaan” sebagai relawan, tanggal 10 Agustus 2020.
Terobosan di Tahun Vaksinasi COVID-19 (52555)
Kang Emil tak hanya memberian keteladanan, melainkan juga mencoba menumbuhkan kesadaran warga, bahwa uji klinik itu dilakukan secara transparan, ilmiah, dan saintifik. Hal ini juga untuk melawan teori konspirasi dan berita hoaks yang berseliweran. Warga juga didorong tak ragu menjadi relawan karena itu juga sebagai bentuk bela negara.
ADVERTISEMENT
Dampaknya menggembirakan, target jumlah relawan akhirnya terpenuhi, hingga uji klinik fase 3 CoronaVac berjalan lancar, dan dari hasil data keamanan vaksin ini dinyatakan aman, dan secara resmi ditetapkan oleh pemerintah sebagai salah satu vaksin dalam program vaksinasi Covid-19.
Ketika pemerintah pusat mengumumkan pada akhir tahun akan menggelar vaksinasi, di bulan Oktober 2020 Pemprov Jabar merespons cepat dengan melakukan simulasi di Puskesmas Tapos, Kota Depok, tanggal 22 Oktober sebagai salah satu bentuk persiapan.
Pemprov Jabar juga membantu 27 kabupaten/kota dalam meningkatkan kapasitas baik dari SDM dan logistik untuk vaksinasi. Tenaga vaksinator disiapkan dengan target 11.000 orang hingga Januari 2021. Pelatihan diberikan pula kepada 1.094 puskesmas, dokter dan petugas vaksinasi Rumah Sakit TNI/Polri, klinik, Rumah Sakit Umum Daerah, serta ditempuh penguatan pada fasilitas penyimpanan dan distribusi vaksin. Sejumlah aksi di atas merupakan langkah awal yang baik, dan diharapkan dapat dicapai hasil signifikan.
ADVERTISEMENT

Cara luar biasa

Pandemi merupakan kejadian luar biasa, maka dalam penanganannya perlu dilakukan pula dengan cara-cara yang luar biasa oleh tiap daerah, termasuk dalam program vaksinasi ini, terutama supaya penerimaan masyarakat tinggi terhadap vaksinasi. Dengan penerimaan masyarakat yang tinggi diharapkan cakupan vaksinasi akan tinggi pula, sehingga dapat tercapai kekebalan komunitas.
Semua elemen bangsa harus saling mendukung karena tanpa adanya kekompakan dan kesatuan visi, keberhasilan vaksinasi akan sulit dicapai.
Hindari tindakan yang membuat gaduh dan hanya membuang-buang energi. Belajar dari pengalaman yang belum lama ini terjadi, ketika seorang menteri yang baru dilantik dalam proses reshuffle blusukan menemukan tunawisma malah diserang dan dituding sejumlah kalangan sebagai bentuk pencitraan. Apa yang dilakukan sang menteri rupanya dilihat dari perspektif politik.
ADVERTISEMENT
Dalam tahun vaksinasi ini, ketika kepala daerah bekerja dan melakukan terobosan, hendaknya jangan melulu diterjemahkan dalam kacamata politik apalagi dikait-kaitkan dengan kontestasi pemilihan presiden 2024. Hal ini dapat memicu kegaduhan dan kontraproduktif. Biarkanlah kepala daerah fokus bekerja demi suksesnya vaksinasi, dan pandemi ini dapat berakhir.