Efek Penonton dan Krisis Empati di Lingkungan Sosial

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari William Joel tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di lorong kampus sebuah mahasiswa terbaring lelah setelah kelas usai. Dia merasa pusing dan tidak mampu berdiri. Mahasiswa yang lewat melihatnya saling pandang mungkin berharap ada yang mau membantunya. Ada yang sedang bersiap untuk kelas lain,menatap ponsel mereka dan melihat ke sekeliling. Semua orang mengerti bahwa seseorang harus membantu tetapi tidak ada yang melakukannya.
Sayangnya masalah di atas tidak hanya terjadi di lorong kampus saja. Pada tanggal 10 Oktober 2026 di asrama Universitas Telkom Bandung ratusan mahasiswa melakukan protes terhadap video dugaan penganiayaan di kampus yang beredar di media sosial (detik.com,2026; tvOnenews.com,2026). Mereka bereaksi dengan tepat. Saksi mata kejadian tersebut belum dapat di identifikasi karena kasus tersebut masih dalam penyelidikan. Yang lebih relevan adalah apa yang akan kita lakukan jika kejadian seperti ini terjadi tepat di depan mata kita tanpa adanya perhatian media?
Kadang situasi seperti di atas dianggap sebagai tanda berkurangnya empati pada generasi muda. Namun pertanyaan yang muncul adalah mengapa seseorang tidak selalu ingin membantu meskipun mereka tahu seseorang membutuhkan bantuan?
Pertama, kita bedakan perilaku prososial dan empati. Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan apa yang dialami orang lain, berasal dari dalam diri (Syaf dkk., 2023). Memanggil bantuan, mendekat, atau bertanya, “Kamu nggak apa‑apa?” adalah contoh perilaku prososial. Jadi ada perbedaan antara empati dan prososial.
Tidak berarti empati tidak penting. Penelitian Syaf dkk. (2023) pada 200 remaja di Pekanbaru menunjukkan bahwa semakin tinggi empati, semakin kecil kecenderungan menjadi penonton pasif. Namun hubungan itu tidak terlalu kuat, jadi masih ada faktor lain. Song dan Oh (2017, dalam Syaf dkk., 2023) menemukan bahwa pengaruh empati hanya muncul bila tidak ada orang lain di sekitarnya.
Itulah yang disebut efek penonton atau bystander effect: orang kurang menolong bila ada yang menyaksikan (Hortensius & de Gelder, 2018). Kata “kecenderungan” penting, karena ini tidak berlaku semua orang. Peneliti sebut tiga alasan. Pertama, tanggung jawab terasa terbagi. “Pasti ada yang lebih dekat,” pikir kita, seperti di lorong tadi. Kedua, kita tidak yakin apa yang terjadi, lalu menatap reaksi orang lain. Karena semua diam, semua berpikir situasinya aman, padahal mereka bingung. Ketiga, takut dinilai orang lain. Bagaimana kalau salah paham? Bagaimana kalau terlihat berlebihan? Dalam kasus perundungan, takut dibalas juga bisa membuat orang diam (Syaf dkk., 2023).
Rasa peduli ada dua. Hortensius dan de Gelder (2018) memisahkan rasa peduli terhadap orang yang kesulitan dan rasa tidak nyaman pada diri sendiri. Saat banyak saksi, rasa tidak nyaman bertambah, dan reaksi bisa menghindar atau membeku. Jadi merasakan penderitaan orang lain bisa mendekatkan, tapi juga bisa menjauhkan.
Sebelum menghakimi, ingat bahwa adegan di lorong hanyalah contoh, bukan bukti semua mahasiswa bersikap begitu. Efek penonton tidak selalu terjadi, dan orang lebih mau menolong bila saksi saling kenal (Hortensius & de Gelder, 2018). Diam juga tidak selalu berarti tidak peduli. Orang bisa takut, bingung, atau tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dalam eksperimen yang dirujuk Hortensius dan de Gelder (2018), peserta yang diingatkan bertindak tanpa ragu menolong lebih cepat, bahkan di situasi ramai. Penelitian ini juga tidak membandingkan antar waktu, jadi kita tidak bisa menilai kepedulian anak muda menurun.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Karena diam dipengaruhi situasi, solusinya juga harus mengatasi situasi, bukan hanya meminta orang lebih peka. Pertama, biasakan tindakan kecil, seperti menyapa atau menawarkan bantuan, supaya tidak ragu saat genting. Kedua, pendidikan empati. Syaf dkk. (2023) menyarankan terus mengembangkan empati remaja lewat kerja sama orang tua dan sekolah; kampus dapat menambah diskusi dan pelatihan pertolongan pertama supaya orang tahu cara membantu. Ketiga, budaya saling membantu. Orang lebih mudah menolong bila saksi saling kenal, jadi kegiatan yang mempererat mahasiswa tidak hanya seru-seruan. Keempat, berani melapor. Menolong tidak harus menghadapi pelaku sendirian. Memanggil dosen, petugas keamanan, atau melapor ke satgas pencegahan kekerasan di kampus juga bentuk kepedulian.
Pada akhirnya, kepedulian tidak cukup hanya terasa di hati atau diucapkan. Mahasiswa di lorong tadi tidak butuh simpati diam‑diam, melainkan seseorang yang mau mendekat. Kepedulian baru berarti terlihat: satu langkah mendekat, satu pertanyaan, satu laporan.
