Konten dari Pengguna

Liga Dagelan dan Romantisme Orang Lama yang Bikin Sepakbola Semakin Mundur

Wisnu Prasetiyo

Wisnu Prasetiyo

Wartawan kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wisnu Prasetiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Liga Dagelan dan Romantisme Orang Lama yang Bikin Sepakbola Semakin Mundur
zoom-in-whitePerbesar

Liga 1 tanpa degradasi dan Liga 2 dan Liga 3 dihentikan, dagelan macam apa lagi ini?

Lagi-lagi keputusan ajaib dibuat orang-orang yang katanya ngerti sepakbola.

Yang katanya bertahun-tahun berupaya membangun Timnas di jalur juara.

Tapi, nyatanya orang-orang lama itu tetap yang berkuasa. Mereka yang mengendalikan semua, bikin berhenti Liga, bilangnya klub Liga 2 dan Liga 3 yang minta.

Padahal sumber valid menyebut, seluruh tim ingin lanjut. Ingin tetap makan dari sepakbola.

Nyatanya lagi, mereka cuma punya asa. Lagi-lagi orang lama yang punya kuasa.

Mereka minta Liga 2 jalan, bahkan ada klub yang bilang tetap jalan sampai kiamat.

Mereka sadar betul kompetisi yang membuat hidup. Tapi apa daya, kita hidup di ruang-ruang redup.

Apa susahnya bikin sistem bubble?

"Kami enggak punya uang, " teriak mereka.

Kenapa enggak cari sponsor?

"Kami enggak punya waktu," sahut mereka.

Padahal persoalannya bukan keduanya.

Persoalannya adalah:

"Kami enggak punya niat"

Dalih apa pun yang orang lama ucap, apalagi bikin Liga 1 tanpa degradasi, adalah mata uang usang. Hanya kesempatan yang bisa jadi ladang para mafia ambil cuan.

5 tim di kasta tertinggi lagi berebut juara.

Dari PSM hingga Persija

Lantas, apa orang lama nggak pernah berpikir? Bahwa suatu waktu pertandingan bisa saja jauh sebelum laga diukir.

Apa orang lama justru terlibat di sana?

Ini juga isu lama, toh mereka tetap bercokol di sana.

Saya bukan fans klub mana pun. Catat.

Saya hanya orang baru yang menontoni Liga sejak 2005 dan menyaksikan orang lama bercokol lama.

Dari gol-gol Ebi Sukore hingga Musikan.

Dari aksi Aldo Barretto hingga Greg Nwokolo.

Dari Keith Kayamba hingga Alfeandra Dewangga.

Selalu berharap hal yang sama. Liga kita bisa baik agar timnas bisa juara.

Namun apa daya.

Saya hanya berharap dengan pepesan kosong.

Orang lama yang katanya mengerti sepakbola tak punya niat mendorong.

Yang ada hanya memperkaya, menjebloskan mereka ke kubangan harta.

Tapi saat ini, rasanya sudah cukup.

Kekalahan Timnas atas Vietnam membuat saya sudah puasa tak bicara seminggu.

Bahkan laga Persib vs Persija tak lagi nikmat untuk ditunggu.

Bayangkan Timnas Indonesia makin ketinggalan dari Vietnam dan Thailand.

Jangankan itu, kita sudah kesulitan bertemu Kamboja. Padahal dulu, mereka Timnas selalu bantai.

Namun kompetisi di sana makin baik. Sepakbola mereka makin progresif dengan orang-orang Jepang yang masuk dan berniat membenahi.

Timnas Indonesia? Jalan di tempat.

Sebagus-bagusnya pelatih, sehebat-hebatnya pemain, Timnas akan kuat hanya dengan dukungan dari berbagai stakeholder.

Utamanya soal kualitas Liga Indonesia yang menjalankannya masih diisi orang-orang lama. Saya tak perlu sebut nama, kamu pasti tahu kan siapa saja mereka?

Dengan adanya Liga 2 dan 3 dihentikan, Liga 1 tanpa degradasi, rasanya saya sulit untuk kembali.

Tak akan berpengaruh ke orang lama. Apalah saya cuma satu orang belaka.

Namun ini hanya sikap, dari pecinta Timnas yang sudah tak bisa marah. Sudah ribuan kali mengelus dada berharap kompetisi membaik.

Namun romantisme orang lama tak pernah padam.

Saat yang tepat untuk undur diri..

- WSN