PPN DTP Properti: Solusi Hunian untuk MBR atau Keuntungan Pengembang?

Mahasiswi D4 Akuntansi Perpajakan Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Wulan Kurnia Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pemerintah kembali memperpanjang insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk sektor properti. Stimulus ini digadang-gadang meringankan beban masyarakat, terutama generasi muda, dalam membeli rumah pertama. Namun, muncul pertanyaan penting: siapa sebenarnya yang lebih diuntungkan oleh kebijakan ini masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) atau para pengembang properti?

Tujuan Baik, Eksekusi Perlu Dikritisi
Secara konsep, insentif PPN DTP jelas meringankan beban pembeli rumah. Dengan PPN ditanggung pemerintah, harga rumah menjadi lebih terjangkau di atas kertas. Dalam kebijakan ini, MBR yang selama ini terkendala biaya tinggi mendapatkan peluang lebih besar untuk memiliki hunian layak.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa manfaat insentif ini tidak selalu sampai pada konsumen akhir. Banyak pengembang yang memanfaatkan kebijakan ini untuk meningkatkan margin keuntungan tanpa menurunkan harga rumah secara signifikan.
Siapa yang Paling Diuntungkan?
Insentif ini lebih banyak diberikan untuk properti di segmen menengah ke atas, yang secara teknis bukan target utama kebijakan subsidi perumahan. Sementara itu, akses MBR terhadap program ini masih terbatas karena faktor lokasi, ketentuan administrasi, dan persyaratan pembiayaan. Akibatnya, insentif PPN lebih berperan sebagai stimulus pasar properti yang menguntungkan pengembang ketimbang mengatasi masalah utama terkait ketersediaan rumah terjangkau. Sehingga manfaat yang diterima pembeli tidak sebesar yang diharapkan.
Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa kebijakan lebih berorientasi menjaga keberlangsungan industri properti ketimbang murni menjawab kebutuhan MBR. Padahal, problem utama akses hunian murah ada pada mismatch antara kemampuan daya beli masyarakat dan harga rumah di pasaran.
Tantangan Suku Bunga dan Daya Beli
Bahkan jika PPN ditanggung pemerintah, hambatan terbesar MBR masih ada: suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang relatif tinggi. Cicilan bulanan tetap menjadi momok utama. Tanpa intervensi pada aspek bunga atau penambahan subsidi langsung, insentif PPN hanya menambal sebagian kecil persoalan.
Selain itu, kenaikan biaya hidup membuat banyak keluarga kesulitan menyisihkan pendapatan untuk cicilan rumah, sekalipun harga properti sudah mendapat potongan PPN. Artinya, akar masalah akses hunian murah tidak cukup dijawab dengan insentif pajak semata.
Evaluasi dan Solusi Konkret
Agar kebijakan benar-benar pro-MBR, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh. Beberapa langkah yang bisa ditempuh antara lain:
Menyesuaikan kriteria penerima agar tepat sasaran.
Mengawasi harga jual agar pengembang tidak menaikkan harga sesuka hati.
Memperkuat subsidi bunga dan dana perumahan rakyat sehingga cicilan benar-benar terjangkau bagi MBR.
Dengan kombinasi langkah tersebut, insentif PPN tidak hanya berhenti sebagai stimulus pasar, tetapi bisa menjadi solusi nyata atas krisis hunian yang masih menghantui jutaan keluarga Indonesia.
Haruskah Diperluas ke Sektor Lain?
Insentif fiskal terbukti dapat menggerakkan sektor tertentu, seperti properti. Namun, jika terlalu fokus ke satu sektor, kebijakan akan terasa timpang.
Sektor lain seperti otomotif, UMKM, hingga pariwisata juga menghadapi tantangan daya beli dan membutuhkan stimulus serupa. Terutama UMKM, yang punya multiplier effect lebih merata ke berbagai lapisan masyarakat dibandingkan properti yang cenderung terkonsentrasi pada pemain besar.
Pada akhirnya, insentif PPN properti adalah kebijakan dengan niat baik, tetapi rawan salah sasaran. Agar benar-benar berpihak pada MBR, pemerintah harus memperketat kriteria penerima, menekan bunga KPR, serta memperkuat subsidi perumahan rakyat.
Lebih jauh lagi, keberanian memperluas insentif ke sektor lain juga layak dipertimbangkan, agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada properti. Tanpa langkah konkret ini, kebijakan insentif PPN properti berisiko sekadar menjadi “angin segar” jangka pendek bagi pengembang, bukan solusi jangka panjang bagi masyarakat luas.
