Konten dari Pengguna

Pendidikan Perempuan: Ketika Masa Depan Diukur dari Usia Menikah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari aqilah jihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan Perempuan
zoom-in-whitePerbesar
Pendidikan Perempuan

“Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, nanti juga ujung-ujungnya ke dapur.”

Kalimat tersebut mungkin terdengar seperti candaan atau nasihat biasa. Namun, di baliknya terdapat pandangan bahwa pendidikan perempuan tidak terlalu penting karena masa depannya dianggap akan berpusat pada pernikahan dan rumah tangga.

Persoalannya bukan pada pernikahan atau pekerjaan rumah tangga, melainkan ketika keduanya dianggap sebagai satu-satunya tujuan hidup perempuan. Pendidikan, karier, dan pengembangan diri akhirnya ditempatkan sebagai hal yang kurang penting.

Dalam perspektif Sosiologi Pendidikan, fenomena ini menunjukkan bahwa pilihan hidup seseorang tidak hanya dipengaruhi keinginan pribadi, tetapi juga nilai, norma, dan harapan sosial yang berkembang di masyarakat.

Keluarga dan Sekolah sebagai Agen Sosialisasi

Sosialisasi merupakan proses ketika individu mempelajari nilai, norma, dan peran sosial. Keluarga menjadi agen sosialisasi pertama, kemudian sekolah dan lingkungan masyarakat turut membentuk cara seseorang memahami dunia.

Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dalam The Social Construction of Reality (1966) menjelaskan bahwa realitas sosial terbentuk dan dipertahankan melalui interaksi manusia. Pandangan bahwa perempuan seharusnya lebih mengutamakan pernikahan daripada pendidikan dapat dipahami sebagai nilai yang dipelajari dan diwariskan, bukan sesuatu yang tidak dapat dipertanyakan.

Misalnya, anak perempuan yang lebih sering diminta mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sementara anak laki-laki didorong mengejar cita-cita, dapat menerima pesan berbeda tentang masa depan mereka. Jika terus berlangsung, pembagian peran berdasarkan gender berpotensi dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Sekolah juga berperan dalam membentuk pandangan tersebut. Materi pembelajaran, contoh tokoh dalam buku, dan interaksi guru dapat memperkuat atau justru menantang stereotip gender.

Pierre Bourdieu: Ketika Ketimpangan Dianggap Wajar

Pemikiran Pierre Bourdieu, khususnya konsep habitus dan reproduksi sosial, membantu menjelaskan bagaimana kebiasaan dan ketimpangan dapat diwariskan antargenerasi.

Anggapan bahwa pendidikan tinggi tidak terlalu penting bagi perempuan dapat menjadi bagian dari kebiasaan berpikir yang berkembang di lingkungan tertentu. Ketika pandangan tersebut terus diterima, perempuan mungkin membatasi cita-citanya karena menganggap pendidikan tinggi bukan sesuatu yang perlu diperjuangkan.

Ketimpangan juga dapat muncul ketika keluarga dengan keterbatasan ekonomi lebih memprioritaskan pendidikan anak laki-laki karena dianggap akan menjadi pencari nafkah. Keputusan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi, tetapi juga dapat dipengaruhi nilai gender yang hidup di masyarakat.

Meski demikian, lingkungan tidak sepenuhnya menentukan masa depan seseorang. Pendidikan, pengalaman baru, dan kesempatan untuk berpikir kritis dapat membantu individu meninjau kembali pandangan yang sebelumnya diterima begitu saja.

Paulo Freire: Pendidikan untuk Berpikir Kritis

Paulo Freire melalui Pedagogy of the Oppressed (1970) menekankan pentingnya pendidikan yang mengembangkan kesadaran kritis. Pendidikan seharusnya tidak hanya membuat peserta didik menerima informasi, tetapi juga membantu mereka memahami persoalan sosial di sekitarnya.

Dalam membahas stereotip gender, siswa dapat diajak mendiskusikan mengapa pekerjaan domestik sering dilekatkan pada perempuan, mengapa pendidikan anak laki-laki terkadang lebih diprioritaskan, dan bagaimana pandangan tersebut memengaruhi kesempatan seseorang.

Dengan demikian, pendidikan menjadi ruang untuk memahami realitas sosial sekaligus mempertimbangkan kemungkinan perubahan.

Berpikir kritis bukan berarti menolak semua tradisi atau menganggap pernikahan sebagai pilihan yang keliru. Hal terpenting adalah memastikan bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk menentukan masa depannya tanpa dibatasi tekanan sosial dan ketidaksetaraan kesempatan.

Mengubah Pendidikan agar Tidak Mempertahankan Ketimpangan

Pendidikan memiliki dua kemungkinan: mewariskan nilai yang sudah ada atau membuka ruang untuk mengkritisi nilai yang membatasi kesempatan individu.

Keluarga dapat mendukung cita-cita anak tanpa menjadikan pernikahan sebagai ukuran utama keberhasilan. Sekolah dapat menghadirkan pembelajaran yang mendorong kesetaraan dan memperkenalkan beragam peran sosial bagi perempuan maupun laki-laki.

Masyarakat juga perlu berhenti menjadikan status pernikahan sebagai ukuran tunggal kedewasaan atau keberhasilan perempuan. Melanjutkan pendidikan bukan berarti mengabaikan keluarga, sebagaimana memilih menikah juga tidak berarti gagal mengembangkan diri.

Pendidikan yang bermakna bukanlah pendidikan yang mengarahkan semua orang pada jalan hidup yang sama. Pendidikan seharusnya membantu individu memahami pilihan, mempertimbangkan konsekuensi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Masa Depan Perempuan Bukan Sekadar Persoalan Usia Menikah

Melalui perspektif Sosiologi Pendidikan, tekanan agar perempuan segera menikah berkaitan dengan proses sosialisasi, pewarisan nilai, dan ketimpangan sosial. Berger dan Luckmann menjelaskan bagaimana pandangan sosial terbentuk melalui interaksi, Bourdieu menunjukkan bagaimana ketimpangan dapat diwariskan, sedangkan Freire menekankan pentingnya kesadaran kritis melalui pendidikan.

Ketiga perspektif tersebut mengingatkan bahwa pendidikan tidak terpisah dari masyarakat. Sekolah dapat mempertahankan pandangan yang sudah mapan, tetapi juga dapat membantu generasi muda mempertanyakan nilai yang membatasi kesempatan mereka.

Persoalannya bukan menolak pernikahan atau merendahkan peran keluarga, melainkan memastikan bahwa masa depan perempuan tidak ditentukan oleh anggapan bahwa mereka hanya perlu dipersiapkan untuk menikah.

Daripada terus bertanya, “Kapan kamu menikah?”, kita dapat mulai bertanya, “Apa yang ingin kamu capai dalam hidupmu, dan bagaimana kami bisa mendukungmu?”

Pada akhirnya, perempuan berhak memperoleh pendidikan karena setiap individu memiliki potensi untuk belajar, berkembang, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial. Pernikahan dapat menjadi bagian penting dalam kehidupan perempuan, tetapi bukan batas akhir cita-citanya. Pendidikan semestinya membuka pilihan hidup, bukan membatasinya.