Konten dari Pengguna

Saat "Kok Gendutan?" Bukan Lagi Sekadar Candaan

Astri Ratna Permatasari

Astri Ratna Permatasari

Astri Ratna Permatasari adalah mahasiswa Magister FH UI yang berfokus pada hukum pidana, keadilan gender, dan perlindungan korban. Melalui tulisannya, ia mendorong sistem hukum yang lebih adil, responsif, dan bebas dari bias gender.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Astri Ratna Permatasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi body shaming di media sosial. Foto: Ilustrasi/AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi body shaming di media sosial. Foto: Ilustrasi/AI

Tubuh perempuan sudah lama jadi bahan komentar publik. Di era media sosial, tekanan itu makin terasa dan dampaknya jauh lebih serius dari yang kita kira.

Coba ingat kapan terakhir kali seseorang mengomentari penampilan kamu tanpa diminta. Mungkin saat lebaran, saat reuni, atau bahkan saat scroll kolom komentar di Media Sosial orang lain. "Wah sekarang gendutan ya." "Kulitnya makin gelap." "Sayang banget, padahal mukanya cantik."

Komentar-komentar itu sudah menjadi semacam bahasa sosial yang dinormalisasikan untuk diucapkan, kadang diselingi tawa, seolah tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Padahal bagi banyak orang, terutama perempuan, kata-kata itu tidak lewat begitu saja. Ia menempel. Ia membentuk.

Body shaming bukanlah hal yang baru. Tapi medsos membuatnya bekerja dengan cara yang berbeda.

Sebelum era media sosial, standar kecantikan datang dari lingkaran yang lebih terbatas, seperti: keluarga, tetangga, majalah. Sekarang, kamu bisa terpapar ribuan standar dalam satu kali scroll. Dan yang lebih berbahaya yaitu standar itu tidak terasa seperti "standar" ia terasa seperti kenyataan.

Menurut laporan We Are Social dan Hootsuite menunjukkan bahwasanya pengguna internet Indonesia rata-rata menghabiskan lebih dari 7 jam sehari di depan layar, dengan hampir 3,5 jam di antaranya untuk media sosial. Dalam rentang waktu itu, berapa banyak tubuh "ideal" yang kita lihat? Berapa banyak perbandingan yang (tanpa sadar) kita buat?

Yang membuat ini semakin rumit adalah ilusinya. Filter wajah, foto yang sudah diedit, pose yang diperhitungkan, semua tampak seperti kehidupan nyata orang lain. Survei Microsoft Digital Civility Index mencatat bahwa Indonesia berada di posisi yang cukup mengkhawatirkan dalam hal paparan konten negatif di internet, termasuk komentar berbasis penampilan. Ironisnya, kita tahu konten itu tidak sepenuhnya nyata, tapi tetap merasa harus bisa mencapainya.

Ketika Perempuan Menanggung Beban yang Tidak Seimbang

Ini bukan soal perasaan sensitif. Ini merupakan soal konstruksi sosial yang sudah berlangsung lama.

Catatan Komnas Perempuan dalam Laporan Tahunan mereka secara konsisten menunjukkan bahwasanya kekerasan berbasis gender tidak hanya berbentuk fisik saja, bisa juga kekerasan verbal dan psikologis, termasuk penghinaan berbasis penampilan, terus masuk dalam laporan yang mereka terima. Studi dari berbagai universitas di Indonesia juga mengonfirmasi bahwa perempuan jauh lebih sering menjadi target komentar tubuh dibanding laki-laki, dan dampak psikologisnya lebih dalam.

Riset yang diterbitkan dalam Journal of Eating Disorders menunjukkan korelasi kuat antara frekuensi penggunaan media sosial dengan body dissatisfaction yang mana ketidakpuasan terhadap tubuh sendiri. Ini bukan hanya soal merasa "kurang percaya diri." Dalam kasus yang lebih serius, ia bisa berkembang menjadi gangguan makan, kecemasan kronis, hingga depresi.

Yang lebih mengkhawatirkan dari banyaknya perempuan akhirnya menginternalisasi standar itu. Mereka tidak hanya menerima kritik dari luar, mereka mulai mengkritik diri sendiri dengan standar yang sama. Suara dalam kepala itu menjadi lebih keras dari suara siapapun di luar sana.

Komentar yang tampak kecil, struktur yang sangat besar

Satu pertanyaan yang jarang diajukan, siapa yang diuntungkan dari semua ini?

Industri kecantikan global bernilai lebih dari 500 miliar dolar AS, dan sebagian besar bertumpu pada satu premis sederhana yaitu "kamu belum cukup". Kulit kurang cerah, badan kurang ideal, wajah kurang sempurna. Ada produk untuk semua itu. Ada prosedur untuk semua itu. Ada konten kreator yang disponsori untuk meyakinkan kamu bahwa itu semua adalah kebutuhan, bukan pilihan.

Di sinilah masalah body shaming bertemu dengan masalah yang lebih besar, ia bukan hanya soal komentar jahat dari netizen anonim. Ia adalah bagian dari ekosistem yang sengaja dibangun untuk membuat orang dan khususnya perempuan, hingga merasa tidak cukup.

Dan media sosial adalah infrastrukturnya.

Gerakan perlawanan ada, tapi tidak seimbang

Bukan berarti tidak ada yang melawan. Gerakan body positivity dan body neutrality perlahan-lahan menemukan tempatnya di linimasa. Kreator konten yang merayakan keberagaman tubuh mulai mendapat perhatian. Ada brand yang mulai menggunakan model dengan berbagai ukuran tubuh dan warna kulit.

Tapi kekuatan arus balik ini masih jauh lebih kecil dibanding arus utamanya. Algoritma media sosial cenderung mendorong konten yang menghasilkan engagement tinggi dan sayangnya, konten yang memicu insekuritas sering kali bekerja lebih baik dalam hal itu.

Perubahan individual ada, tapi tidak cukup jika sistemnya tidak ikut berubah.

Lalu apa yang bisa dilakukan?

Di level kebijakan, Indonesia sebenarnya sudah memiliki beberapa payung hukum, termasuk UU ITE yang bisa menjangkau kekerasan verbal di ruang digital. Tapi implementasinya masih lemah, dan kesadaran bahwa body shaming adalah bentuk kekerasan psikologis belum cukup tertanam, baik di masyarakat maupun di aparat penegak hukum.

Di level kolektif, media, influencer, dan public figure punya tanggung jawab yang besar. Bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka punya jangkauan. Satu unggahan tentang tubuh yang "cacat" bisa dibaca jutaan orang. Begitu pula satu unggahan tentang tubuh yang "normal."

Dan di level paling personal yang mungkin paling mudah dilakukan hari ini adalah "berhenti mengomentari tubuh orang lain". Bukan karena itu tabu, tapi karena kamu tidak pernah tahu apa yang sedang ditanggung orang di balik layar.

Kalimat "kok sekarang gendutan?" mungkin kamu ucapkan sambil lalu. Tapi bagi yang mendengarnya, ia bisa bergema jauh lebih lama dari yang kamu bayangkan.

Tubuh bukan ruang publik. Ia adalah bagian dari martabat seseorang. Dan selama kita masih mengukur nilai seseorang dari bentuk tubuhnya, body shaming akan terus punya tempat untuk hidup.