Konten dari Pengguna

Kata yang Sering Salah Dipakai di Media Sosial, Ini Bentuk Baku Menurut KBBI

Daffa Yazid Fadhlan

Daffa Yazid Fadhlan

Mahasiswa aktif Universitas Islam Negeri Jakarta dan bagian dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Journo Liberta.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Daffa Yazid Fadhlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang wanita sedang membaca buku. (Sumber foto: Pexels @Letícia Alvares)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang wanita sedang membaca buku. (Sumber foto: Pexels @Letícia Alvares)

Media sosial kini menjadi ruang utama masyarakat mengekspresikan pendapat, berbagi informasi, hingga menulis refleksi personal. Dalam prosesnya, bahasa sering digunakan secara spontan tanpa banyak pertimbangan. Tidak sedikit kata yang dipilih hanya karena terdengar familiar, meski sebenarnya tidak sesuai dengan bentuk baku bahasa Indonesia.

Kondisi tersebut membuat sejumlah kata yang keliru penulisannya terus beredar dan dianggap wajar. Padahal, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) telah menetapkan bentuk kata yang benar dan dapat dijadikan rujukan bersama. Kesadaran untuk kembali merujuk pada KBBI menjadi langkah sederhana untuk menjaga ketepatan makna dalam komunikasi digital.

Berikut beberapa kata yang sering salah digunakan di media sosial beserta bentuk bakunya menurut KBBI:

  1. Salah: hakekat - Benar: hakikat

  2. Salah: resiko - Benar: risiko

  3. Salah: efektifitas - Benar: efektivitas

  4. Salah: konsekwensi - Benar: konsekuensi

  5. Salah: sekedar - Benar: sekadar

  6. Salah: aktifitas - Benar: aktivitas

  7. Salah: antri - Benar: antre

Kesalahan penggunaan kata-kata tersebut umumnya terjadi karena pengaruh kebiasaan dalam percakapan sehari-hari dan ruang digital. Ketika sebuah bentuk kata lebih sering muncul di linimasa, banyak pengguna tidak lagi mempertanyakan kebenarannya.

Meski media sosial bersifat informal, ketepatan berbahasa tetap penting, terutama ketika unggahan berkaitan dengan informasi, edukasi, atau opini publik. Merujuk pada KBBI dapat membantu menjaga kejelasan makna tanpa harus mengorbankan gaya berbahasa.

Dengan membiasakan diri menggunakan bentuk kata yang sesuai dengan KBBI, literasi bahasa Indonesia dapat tumbuh secara perlahan, bahkan dari hal-hal kecil seperti unggahan dan kolom komentar di media sosial.

Baca juga: Mas Marco Kartodikromo: Ketika Pena Menjadi Senjata Melawan Kolonialisme