Konten dari Pengguna

Mas Marco Kartodikromo: Ketika Pena Menjadi Senjata Melawan Kolonialisme

Daffa Yazid Fadhlan

Daffa Yazid Fadhlan

Mahasiswa aktif Universitas Islam Negeri Jakarta dan bagian dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Journo Liberta.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Daffa Yazid Fadhlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Sumber foto: Pexels @Nevzat Öztürk).
zoom-in-whitePerbesar
(Sumber foto: Pexels @Nevzat Öztürk).

Dunia pergerakan nasional Indonesia sering kali digambarkan melalui panggung pidato yang megah, namun di balik itu terdapat kekuatan tinta yang mematikan bagi kolonialisme. Salah satu sosok yang paling konsisten menghunuskan penanya adalah Mas Marco Kartodikromo atau yang lebih dikenal sebagai Mas Marco.

Mas Marco lahir dari keluarga priyayi di Cepu, sebuah kawasan kecil di wilayah Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada tahun 1890. Lahir dari keluarga golongan priayi di Blora, Hindia Belanda, latar sosial itu menempatkan Marco di posisi yang unik. Ia bukan elite priyayi tinggi, tetapi cukup dekat dengan dunia administrasi kolonial untuk menyaksikan langsung ketimpangan yang dialami kaum bumiputra (pribumi).

Dari Juru Tulis Menuju Mimbar Medan Prijaji

Perjalanan hidup Marco dimulai sebagai juru tulis di dinas kehutanan pada tahun 1905 sebelum ia memutuskan merantau ke Semarang. Di kota tersebut, ia bekerja di perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) sambil mendalami bahasa Belanda melalui guru privat untuk memahami logika berpikir bangsa penjajah.

Titik balik hidupnya terjadi pada tahun 1911 saat ia pindah ke Bandung dan bergabung dengan surat kabar Medan Prijaji di bawah bimbingan Tirto Adhi Soerjo. Di bawah asuhan Tirto, Marco mengasah diri menjadi jurnalis yang tidak hanya sekadar pemberi kabar, tetapi juga aktivis pergerakan yang kritis.

(Sumber foto: Pexels @Luis Quintero).

Ketika Medan Prijaji bangkrut pada 1912, ia pindah ke Surakarta untuk mengelola koran Sarotomo sebagai editor sekaligus administrator. Pengalaman di Bandung dan hubungannya dengan tokoh seperti Soewardi Soerjaningrat semakin memperkuat komitmennya dalam menyuarakan ketimpangan sosial melalui jalur jurnalistik.

Romantisme Pelajar dan Kritik Tajam dalam Student Hidjo

Salah satu warisan intelektual terbesarnya adalah novel Student Hidjo yang diterbitkan pertama kali oleh Masman en Stroink di Semarang pada tahun 1919. Melalui tokoh utama bernama Hidjo, Marco memotret kegelisahan pelajar bumiputra yang menempuh studi ke Belanda namun terjebak dalam dualitas budaya. Novel ini secara tajam membandingkan nilai tradisional Jawa dengan budaya Barat, sekaligus mengungkap tabir rasisme yang dialami oleh kaum terpelajar pribumi.

Melalui narasi tersebut, Marco berupaya menelanjangi keangkuhan serta perilaku tidak manusiawi para penjajah Belanda terhadap masyarakat Jawa yang berada di bawah kekuasaan mereka. Hal ini secara eksplisit terekam dalam Student Hidjo:

Djepris itu terlalu sombong dan meninggikan diri layaknya saudara Raja Nederland. Tetapi dia amat menghina kepada orang-orang bumiputera, yang membikin hidupnya lebih senang.

Kutipan tersebut menjadi cermin kuat atas kontradiksi moral yang dilakukan oleh kaum kolonial saat itu. Sebagaimana ditegaskan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya yang berjudul Rumah Kaca, mentalitas kolonial memang dicirikan oleh adanya kepuasan batin saat bisa memerintah orang lain dengan sewenang-wenang.

Satria Sejati yang "Berteriak" Melawan Arus

Takashi Shiraishi dalam bukunya Zaman Bergerak menyebut Marco sebagai sosok yang berbeda dengan tokoh pergerakan moderat lainnya, seperti contoh Tjokroaminoto. Jika Tjokroaminoto sering dipandang sebagai satria yang bermain aman di bawah perlindungan pemerintah, Marco justru menyerang otoritas kolonial secara frontal. Keberanian ini membuatnya harus berulang kali merasakan dinginnya jeruji besi di Semarang hingga Weltevreden (salah satu kawasan di Jakarta Pusat) sepanjang tahun 1915 sampai 1920.

Kesadaran radikal Marco muncul dari sebuah "krisis pemikiran" saat melihat kontradiksi antara ide politik Barat dengan realitas kejam di pabrik dan stasiun kereta api. Ia menyaksikan sendiri bagaimana kaum bumiputra harus diam menerima makian dan tamparan dari tuan kulit putih tanpa bisa melawan. Pengalaman empiris tersebut mendorongnya untuk mendirikan Inlandsche Journalis Bond (IJB) pada tahun 1914 sebagai wadah solidaritas bagi jurnalis pribumi.

Menenun Solidaritas Global dan Lokal

Cakrawala pemikiran Marco juga dipengaruhi oleh pergeseran peta politik dunia, termasuk meletusnya Revolusi Rusia pada tahun 1917 yang menginspirasi perlawanan kelas buruh. Momentum global ini memperkuat keyakinan kelompok intelektual di Jawa bahwa kolonialisme bisa diruntuhkan melalui organisasi yang solid dan gerakan massa yang terorganisir. Melalui IJB, Marco mencoba membangun jaringan informasi yang lebih transformatif bagi kemajuan pergerakan nasional di Hindia Belanda.

Pada akhirnya, kiprah Mas Marco Kartodikromo membuktikan bahwa jurnalisme dan aktivisme adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan dalam sejarah kemerdekaan. Ia telah bertransformasi dari seorang juru tulis menjadi mesin penggerak bagi kesadaran nasionalisme Indonesia di awal abad ke-20. Hingga akhir hayatnya, semangat "Sama Rasa Sama Rata" yang ia usung tetap menjadi pengingat tentang martabat manusia yang harus diperjuangkan di atas segala-galanya.

Baca juga: Tirto Adhi Soedjo dan Lahirnya Pers Pribumi yang Melawan Kolonialisme