Konten dari Pengguna

Tirto Adhi Soedjo dan Lahirnya Pers Pribumi yang Melawan Kolonialisme

Daffa Yazid Fadhlan

Daffa Yazid Fadhlan

Mahasiswa aktif Universitas Islam Negeri Jakarta dan bagian dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Journo Liberta.

·waktu baca 4 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Daffa Yazid Fadhlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto: Pixabay @Alexas_Fotos
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Pixabay @Alexas_Fotos

Jauh sebelum senapan dan bambu runcing menjadi simbol perlawanan fisik, seorang pemuda bangsawan dari Blora telah memilih senjatanya sendiri, sebuah pena. Di era ketika kata "Indonesia" bahkan belum terbayangkan, ia merintis sebuah medan perang baru. Medan perang gagasan yang disebar melalui lembaran-lembaran kertas koran.

Dia adalah Raden Mas Tirto Adhi Soedjo. Namanya kini terpatri sebagai Bapak Pers Nasional, sebuah gelar yang diraih melalui perjalanan terjal, penuh pengasingan, dan keberanian yang melampaui zamannya.

Lahir di Blora, Jawa Tengah, pada tahun 1880, Tirto sebenarnya disiapkan untuk takdir yang berbeda. Sebagai seorang priyayi, ia mengenyam pendidikan elite di sekolah kedokteran STOVIA di Batavia. Namun, takdir berkata lain. Gairahnya tidak terletak pada stetoskop, melainkan pada dunia tulis-menulis.

Tirto muda gelisah melihat ketidakadilan yang merajalela di sekitarnya. Ia melihat bagaimana rakyat jelata tak memiliki suara, sementara kaum kolonial dan bangsawan feodal hidup dalam kungkungan kenyamanan. Di tengah kegelisahan itulah, ia memutuskan jalan hidupnya: ia keluar dari STOVIA, menanggalkan potensi kenyamanan hidup sebagai dokter pemerintah, dan terjun ke dunia pers yang penuh risiko.

Medan Prijaji dan Lahirnya Pers Pribumi yang Melawan Kekuasaan

Perjalanan jurnalistiknya dimulai pada tahun 1903 dengan Soenda Berita. Namun, ini hanyalah pemanasan. Mahakaryanya, yang mengubah wajah pers di Hindia Belanda, lahir pada tahun 1907: Medan Prijaji.

Medan Prijaji bukanlah sekadar koran. Ia adalah sebuah revolusi. Inilah surat kabar pertama yang sepenuhnya dimiliki, diurus, dan diterbitkan oleh kaum pribumi. Dari redaktur, jurnalis, hingga administrasi, semuanya adalah anak negeri. Tirto tidak hanya mencetak berita, tetapi ia menciptakan sebuah institusi.

Dalam tajuk rencananya, Tirto dengan berani menyatakan Medan Prijaji sebagai "suara bagi raja-raja, bangsawan, saudagar, dan priyayi." Namun pada praktiknya, ia melangkah lebih jauh. Korannya menjadi corong bagi mereka yang tertindas.

Inilah letak kejeniusan Tirto. Ia tidak hanya melaporkan peristiwa (jurnalisme informasi), tetapi juga membela korban (jurnalisme advokasi). Medan Prijaji memiliki rubrik khusus untuk menampung keluhan rakyat, menyelidiki kasus-kasus penyalahgunaan kekuasaan oleh pejabat lokal maupun Belanda, dan membelanya secara hukum.

Tirto adalah jurnalis pertama yang melakukan apa yang kini kita sebut sebagai "jurnalisme investigasi". Ia tak segan membongkar skandal dan korupsi. Baginya, pers adalah "pembentuk pendapat umum".

Tentu saja, keberanian ini harus dibayar mahal. Tulisannya yang tajam dan tak kenal kompromi menjadi duri dalam daging bagi pemerintah kolonial Belanda. Ia adalah musuh publik nomor satu bagi para pejabat yang korup.

Hukum kolonial, Persbreidel Ordonnantie (undang-undang yang mengekang kebebasan pers), menjadi alat untuk membungkamnya. Tirto berulang kali diseret ke pengadilan. Ia tidak hanya kehilangan harta bendanya untuk membiayai operasional koran, tetapi juga kehilangan kebebasannya.

Puncak dari perlawanannya berujung pada pengasingan. Pemerintah kolonial membuangnya ke Maluku hingga membuat Medan Prijaji dan Soeloeh Keadilan gulung tikar karena tak kuat menahan tekanan finansial dan represi politik.

Setelah masa pembuangannya berakhir, Tirto Adhi Soedjo kembali ke Batavia. Namun, ia bukan lagi Tirto yang sama. Tekanan fisik dan mental selama di pengasingan telah merenggut semangatnya. Tokoh yang dulu lantang bersuara itu kini hidup dalam kesendirian dan kemiskinan.

Pada 7 Desember 1918, Sang Pelopor mengembuskan napas terakhirnya dalam keheningan, jauh dari hingar bingar yang pernah ia ciptakan.

Warisan Tirto Adhi Soedjo: Jurnalisme sebagai Perlawanan dan Ingatan

Meskipun raganya telah tiada, api yang ia sulut tidak pernah padam. Jejak langkahnya menjadi inspirasi. Puluhan tahun setelah kematiannya, sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer mengabadikan sosoknya sebagai "Minke" dalam Tetralogi Buru, seolah menghidupkan kembali gagasan dan perjuangannya untuk generasi baru.

Perjalanan Tirto Adhi Soedjo adalah kisah tentang bagaimana sebuah gagasan, yang ditulis dengan tinta di atas kertas, mampu mengguncang sebuah tatanan kolonial yang mapan. Ia membuktikan bahwa jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, melainkan sebuah panggilan untuk membela kebenaran dan memperjuangkan kemanusiaan.

Baca juga: Aksi Kamisan dan Harapan Dalam Mencari Kebenaran