Konten dari Pengguna

Pendidikan Semakin Modern, tapi Apakah Guru Masih Menjadi Prioritas?

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yeni Oktaviani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pendidikan Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendidikan Foto: kumparan

Perkembangan pendidikan Indonesia saat ini menunjukkan perubahan yang sangat cepat. Pemerintah mulai mendorong digitalisasi pendidikan, penggunaan teknologi, hingga sistem seleksi berbasis komputer dalam penerimaan peserta didik. Salah satu contohnya terlihat dari kebijakan Pemerintah Kota Bekasi yang mulai menerapkan tes Computer Assisted Test (CAT) untuk jalur prestasi masuk sekolah negeri. Kebijakan ini dianggap sebagai langkah modernisasi pendidikan agar proses seleksi menjadi lebih objektif, transparan, dan berbasis kemampuan akademik. Pendidikan Indonesia tampak sedang bergerak menuju era yang lebih maju dan kompetitif.

Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah guru masih menjadi prioritas utama dalam pembangunan pendidikan Indonesia?

Modernisasi pendidikan memang penting. Penggunaan teknologi dapat membantu efektivitas pembelajaran, mempercepat akses informasi, dan meningkatkan kualitas administrasi pendidikan. Akan tetapi, pendidikan tidak hanya berbicara tentang sistem digital dan kecanggihan teknologi. Pendidikan tetap membutuhkan sosok guru sebagai pusat pembentukan karakter, pembimbing moral, sekaligus fasilitator belajar siswa.

Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), Indonesia masih mengalami kekurangan ratusan ribu tenaga pendidik di sekolah negeri. Bahkan di Kabupaten Trenggalek, kekurangan guru mencapai 1.114 orang akibat banyaknya guru pensiun dan terbatasnya pengangkatan tenaga pendidik baru. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pendidikan Indonesia bukan hanya soal modernisasi sistem dan digitalisasi sekolah, tetapi juga mengenai ketersediaan guru sebagai pelaksana utama pendidikan.

Permasalahan pendidikan juga terlihat dari kondisi fasilitas sekolah yang belum merata. Di Lampung, misalnya, masih ditemukan sekolah dengan bangunan reyot dan tidak layak digunakan untuk belajar. Dalam kondisi tertentu, siswa harus belajar di ruang kelas yang rusak, panas, bahkan rawan bocor ketika hujan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa modernisasi pendidikan belum dirasakan secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Di satu sisi pemerintah berbicara mengenai digitalisasi dan sistem pendidikan modern, tetapi di sisi lain masih ada peserta didik yang belum mendapatkan fasilitas belajar yang layak.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, muncul pula kekhawatiran mengenai masa depan pendidikan guru di Indonesia, terutama dengan adanya wacana penghapusan atau penggabungan beberapa program studi pendidikan. Kebijakan semacam ini dapat menimbulkan pertanyaan besar mengenai kesiapan Indonesia dalam mencetak tenaga pendidik di masa depan. Ketika Indonesia justru mengalami kekurangan guru, pengurangan ruang pendidikan bagi calon guru tentu menjadi hal yang perlu dipertimbangkan kembali.

Menurut Lisa dkk. (2025) dalam jurnal Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar guru yang adaptif terhadap teknologi mampu mengintegrasikan media digital dan menerapkan pendekatan pembelajaran yang kreatif. Selain itu, pelatihan berkelanjutan dan dukungan institusional menjadi faktor penting dalam menunjang peran guru sebagai agen inovasi pembelajaran. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tetap membutuhkan peran guru yang kompeten agar proses pembelajaran berjalan efektif.

Ilustrasi guru mengajar. Foto:(www.magnific.com)

Hal serupa juga dijelaskan oleh Suryani (2025) dalam jurnalnya Jurnal Inovasi Riset tentang Adaptasi Pedagogik dan Literasi Teknologi. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa literasi teknologi dan kompetensi digital guru merupakan kemampuan multidimensional yang harus dikembangkan secara berkelanjutan guna mewujudkan pembelajaran yang inovatif, efektif, dan relevan dengan tuntutan abad ke-21. Dengan kata lain, teknologi tidak dapat berjalan sendiri tanpa kesiapan tenaga pendidik yang mampu mengelolanya secara tepat.

Sebagai mahasiswa dalam mata kuliah microteaching, persoalan ini menjadi refleksi penting bahwa peran guru tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh teknologi. Artificial Intelligence, komputer, maupun sistem digital memang mampu membantu proses pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan sentuhan manusia dalam mendidik. Guru bukan hanya penyampai materi, melainkan pembentuk karakter, motivator, dan teladan bagi peserta didik.

Oleh karena itu, modernisasi pendidikan seharusnya berjalan seimbang dengan peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru. Pemerintah perlu memastikan bahwa transformasi pendidikan tidak hanya fokus pada teknologi dan sistem seleksi modern, tetapi juga memperhatikan pemerataan fasilitas pendidikan serta keberlangsungan profesi guru di Indonesia.

Pada akhirnya, pendidikan yang maju bukan hanya ditandai oleh penggunaan teknologi canggih, tetapi juga oleh hadirnya guru-guru berkualitas yang mampu mendidik generasi bangsa dengan baik. Sebab sehebat apa pun sistem pendidikan dibuat, guru tetap menjadi fondasi utama dalam menciptakan pendidikan yang bermakna.