Syu’bah Asa: Jejak Jurnalis, Penyair, dan Mufassir dari Pekalongan

Pegiat Literasi, Ketua FTBM Kab Pekalongan, Kreator Aplikasi Media & Social Media Monitoring RecomMedia.id, Aplikasi Politik (myTimses), Aplikasi Digital FundRising, Humas Komunitas Pohon Indonesia, Antusias dalam Sejarah Islam dan Politik Islam
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yoga Rifai Hamzah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Malam Minggu 9 Agustus 2025, saya hadir di Pendopo Trade Center Kota Pekalongan, mengikuti acara Semesta Puisi Syu’bah Asa yang digelar Teater Kita dalam rangkaian Sastra Purnama yang rutin dilakukan sebulan sekali. Udara terasa hangat, meski hujan sempat mengguyur kota pas ketika saya berangkat. Di ex pendopo yang sekarang dihidupkan mejadi pusat kuliner ini, tepat mulai jam 20.00, puisi-puisi Syu’bah Asa mengalun, disampaikan bergantian oleh para pembaca. Sesekali tepuk tangan terdengar, memecah jeda di antara bait-bait yang padat makna. Selain puisi ada semacam pengantar dan refleksi tentang Syubah Asya oleh Mas Djudjur dan Pak Khalil Hasan.

Seusai acara, saya sempat terlibat diskusi santai dengan Mas Djudjur dan Pak Khalil karena ada beberrapa hal yang ingin saya tanyakan dan ingin berpendapat dari sudut pandang saya ketika mereka berdua memberikan refleksi singkatnya. Kami mengupas sekilas sepak terjang Syu’bah Asa, membicarakan perannya sebagai wartawan, sastrawan, sekaligus mufassir. Bagi saya pribadi, nama Syu’bah Asa bukanlah sesuatu yang asing. Almarhum ayah saya adalah pelanggan setia majalah Panji Masyarakat, yang kala itu dikomandani Syu’bah Asa. Sejak kecil, saya sudah terbiasa melihat majalah itu di meja ruang tamu, dan tanpa sadar berinteraksi dengan tulisan-tulisannya. Malam itu, kenangan itu menyeruak kembali, seolah membawa saya pulang ke masa lalu.
Melintasi Dua Dunia Media
Syu’bah Asa lahir di Pekalongan, 21 Desember 1941. Ia memulai karier panjangnya di dunia jurnalistik dengan menjejakkan kaki di Tempo pada 1971. Di sana, ia dipercaya mengasuh rubrik Agama selama 16 tahun, sebuah posisi yang menurut Pak Djudjur membuatnya dijuluki “Kiai” oleh rekan-rekan redaksi. Dari rubrik itulah ia memadukan ketajaman analisis dengan kelembutan bahasa, mengurai persoalan iman dalam konteks sosial yang hidup.
Dalam diskusi tersebut Pak Djudjur menyampaikan, sekitar tahun 1980 akhir, ada kemelut internal di Tempo yang membuatnya hengkang. Ia kemudian sempat menjadi Ketua Sidang Redaksi di Editor, lalu Wakil Pemimpin Redaksi di Harian Pelita. Awal 1990-an, ia bergabung dengan Panji Masyarakat (Panjimas), majalah Islam yang lahir dari tradisi Hamka dan kerap dicap “kanan” dalam lanskap media Indonesia. Pindahnya dari Tempo ke Panjimas sering memicu tanya: apakah ini pergeseran ideologi? Namun, jika menelusuri jejak tulisannya, terlihat bahwa perpindahan ini lebih merupakan upaya mencari ruang yang lapang untuk mengekspresikan kata, iman, dan kritik sosial secara bersamaan.
Dalam Cahaya Al-Qur’an: Tafsir Sebagai Kritik Sosial
Di Panjimas, Syu’bah Asa menemukan wadah untuk menuangkan visi intelektualnya melalui rubrik Dalam Cahaya Al-Qur’an (1997–1999), yang kemudian dibukukan Gramedia. Ia menempuh pendekatan maudhu’i (tematik) dan kontekstual, membumikan ayat-ayat suci untuk menjawab isu-isu sosial-politik yang mendesak: ketidakadilan, korupsi, pelanggaran HAM, dan manipulasi simbol keberagaman.
Metodenya unik. Ia merangkai ayat dengan merujuk tafsir klasik seperti Ath-Thabari dan al-Qurthubi, mengaitkannya dengan hadis, lalu menambahkan ijtihad pribadinya. Hasilnya adalah tafsir yang tidak kaku, tetapi mengalir dan relevan. Misalnya, ketika membahas konsep Islam kafah, ia mengingatkan umat untuk menjauhi lima jebakan yang melemahkan: kemunafikan, sinkretisme, faksionalisme, ritualisme, dan sekularisme. Baginya, keislaman tidak boleh terpotong-potong; ia harus hadir utuh dalam kehidupan pribadi dan sosial.
Dalam tema “Kepada Bangsa-Bangsa” (QS al-Hujurat: 13), ia menolak pembacaan sempit bahwa “bangsa” hanya sekadar entitas biologis. Baginya, ayat ini adalah mandat untuk menolak diskriminasi dan menjunjung kesetaraan. Tafsir ini terasa segar, terutama saat ia mengaitkannya dengan situasi politik Indonesia menjelang Reformasi, di mana pluralisme kerap dijadikan jargon tanpa makna substantif.
Manusia Soliter, Penulis Produktif
Syu’bah Asa menurut Pak Khalil Hasan yang pernah berinteraksi dengannya secara langsung adalah “manusia soliter”. Sebutan ini bukan berarti ia anti-sosial, melainkan mencerminkan pilihan hidupnya yang nyaman dalam kesunyian. Di rumah kuno di Kradenan, Buaran, Pekalongan, ia menulis cerpen, esai, artikel, dan puisi. Kesendirian memberinya ruang untuk fokus, merangkai kata dengan presisi, dan menulis dengan kejernihan batin.
Puisi-puisinya memadukan spiritualitas dan refleksi sosial. Khotbah (Horison, 1973) misalnya, menggambarkan cinta sebagai anugerah ilahi yang menyatukan seluruh makhluk:
Tuhan membikin seratus cinta
Semua ditahan pada dirinya
Hanya satu ia turunkan ke bumi
Dengan itu laki-perempuan bercium-ciuman
Pohon-pohon berbisik-bisikkan...
Puisi ini, meski singkat, menyimpan pesan yang abadi: cinta adalah fondasi kemanusiaan yang lintas batas dan lintas spesies.
Puisi lainnya, 1963, lebih panjang dan eksistensial. Ia bertanya kepada Tuhan, apakah hidup hanyalah pengulangan tanpa makna, atau justru kesempatan untuk lahir kembali dalam cahaya mentari. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh krisis, pertanyaan ini terasa relevan bagi siapa saja yang sedang mencari arah.
Relevansi di Era Kini
Membicarakan Syu’bah Asa hari ini berarti juga membicarakan tantangan kita sekarang. Di tengah polarisasi politik dan banjir informasi yang kerap membingungkan, model berpikirnya menawarkan jalan tengah yang sehat: berpijak pada nilai moral yang kuat, tetapi tetap membuka diri pada dinamika zaman. Ia membuktikan bahwa jurnalisme dan sastra dapat menjadi medium dakwah yang inklusif—dakwah yang mengajak, bukan menghakimi.
Pendekatan tafsirnya yang kontekstual juga menjadi pengingat penting bagi umat beragama di era digital: teks suci tidak boleh dibaca terlepas dari realitas sosial, karena ayat-ayat itu hadir untuk membimbing kehidupan, bukan hanya menghiasi mimbar.
Warisan yang Melampaui Zaman
Bagi saya pribadi, mengenang Syu’bah Asa bukan sekadar mengenang sosok wartawan senior atau sastrawan, melainkan juga mengenang lembar-lembar Panjimas yang dulu rutin hadir di rumah. Majalah itu menjadi jendela yang mempertemukan saya kecil dengan pandangan Islam yang rasional dan berwawasan luas. Kini, setelah bertahun-tahun, duduk di acara Semesta Puisi Syu’bah Asa terasa seperti menutup lingkaran itu—dari pembaca cilik di ruang tamu rumah hingga penikmat sastra yang kembali mendengar suara sang penulis lewat puisi.
Sepuluh tahun di Panjimas, hingga masa Reformasi, Syu’bah Asa meninggalkan jejak wacana Islam yang moderat, berpihak pada keadilan, dan relevan untuk berbagai zaman. Ia membuktikan bahwa kata-kata yang lahir dari hati, disaring oleh ilmu, dan diarahkan untuk kebaikan, mampu menembus sekat ideologis. Dan mungkin itulah yang membuat namanya terus hidup—di halaman-halaman majalah lama, di bait-bait puisi, dan di kenangan para pembacanya.
