Konten dari Pengguna

Di Tepian Serayu Nada yang Tak Pernah Berhenti Mengalir

Sayoga Priambudi

Sayoga Priambudi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sayoga Priambudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemeriahan Malam Puncak Festival Budaya Soetedja “Lestari Budayaku, Serayu Mendayu”. Sumber: Dokumen Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Kemeriahan Malam Puncak Festival Budaya Soetedja “Lestari Budayaku, Serayu Mendayu”. Sumber: Dokumen Pribadi Penulis

Gedung Kesenian Soetedja, bangunan yang sarat sejarah, kembali hidup dengan musik gamelan, tawa muda-mudi, dan gemuruh tepuk tangan. Suasana malam minggu di akhir bulan November 2024, Festival Taman Budaya Soetedja digelar dengan semangat membara, membawa tema “Lestari Budayaku, Serayu Mendayu”. Sebuah perlombaan musik untuk siswa SMA/SMK se-Kabupaten Banyumas menjadi nadi acara, menyalakan kembali gairah dan warisan seni Banyumasan melalui lagu karya Legenda Budayawan Banyumas, R. Soetedja, berjudul “Di Tepian Sungai Serayu.”

Lagu ini bukan sekadar irama dan lirik saja, ia merupakan sebuah cerita yang mengalir, seperti air Sungai Serayu yang menjadi inspirasinya. Di panggung sederhana, dihiasi nuansa etnik Banyumas yang dipadukan dengan kemasan modern, siswa-siswi muda itu menunjukan kemampuan bermusik dengan penuh konsentrasi, memainkan alat musik modern, membuktikan bahwa nada tradisi bisa menyatu dengan kreativitas masa kini.

Di balik gemerlap lampu acara, ada semangat yang membara untuk menjaga budaya tetap hidup. Akhyar Bahy, salah satu panitia, mengatakan betapa pentingnya acara ini. Dengan nada penuh semangat, ia berkata, “Kita harus melawan sifat manusia yang pelupa. Budaya Banyumasan itu kaya, tetapi kalau tidak dijaga, ia bisa terlupakan ditelan waktu. Festival ini adalah upaya kecil dari kami untuk memastikan generasi muda tahu dan bangga dengan warisan Budaya Banyumasan.”

Kania Sayidatina, seorang pengunjung dari Universitas Amikom Purwokerto, duduk di sudut tribun panggung dengan raut wajah sumringahnya. Terlihat menikmati musik yang dilantunkan oleh peserta dan bintang tamu. “Acara ini menurut saya sangat menginspirasi, banyak gen z seperti saya kurang mengenal budaya Banyumasan. Ya lagunya saya sering denger waktu di stasiun, tapi saya baru mendengarkan lagu ini full diacara ini, keren pesertanya mengaransemen lagunya jadi kerasa kaya lagu modern,“ katanya sambil tersenyum manis.

Festival ini tak hanya soal perlombaan musik. Setiap nada yang dimainkan, setiap syair yang dinyanyikan, adalah bentuk penghormatan pada sosok budayawan Banyumas, R. Soetedja. Penonton yang hadir, mulai dari anak kecil hingga orang tua, tampak larut dalam suasana. Mereka seolah diajak untuk memasuki lorong waktu, untuk mengenal lebih dekat budaya yang selama ini terpinggirkan oleh layar gawai dan kemajuan teknologi. Selain perlombaan, acara ini juga menghadirkan berbagai pertunjukan seni khas Banyumasan seperti calungan dan begalan. Gedung Kesenian Soetedja, yang dari dulu menjadi tempat diselenggarakannya acara kebudayaan, kini kembali menjadi ruang bagi warisan seni Banyumas untuk berunjuk gigi.

Di tengah acara, tepuk tangan bergemuruh panjang ketika Ganendra band dari SMA N 1 Purwokerto, yang menjadi juara pertama selesai membawakan lagu “Di Tepian Sungai Serayu.” Nada-nada yang dipadukan dengan musik modern, mengalun membawa pendengar pada sebuah perjalanan dari masa lalu yang tenang, masa kini yang sibuk, serta masa depan yang penuh harapan. Ketika malam tiba dan festival rampung, ada satu pesan yang membekas.

Di Gedung Kesenian Soetedja, di malam minggu itu, tradisi tak hanya dilestarikan, tetapi juga dikemas dengan nada, semangat, dan harapan yang terus mengalir, bagaikan air sungai yang tak henti mencari muara.