Film Indonesia Masa Depan: Desentralisasi Imajinasi dan Menjemput DNA Lokal

Peneliti di Pusat Riset Masyarakat dan Budaya - BRIN
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yoka Pramadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Tahun 2025 bisa dibilang sebagai tahun "panen raya" bagi ekosistem film Indonesia. Laporan yang dirilis oleh KumparanHITS (20/11/2025) mencatat adanya lonjakan signifikan dalam jumlah produksi film nasional yang tayang, baik di layar lebar maupun di platform Over-The-Top (OTT) seperti Netflix dan Vidio. Antusiasme publik meledak; bioskop penuh di akhir pekan dan ulasan film wara-wiri di linimasa. Secara kuantitas, sinema kita sedang berada di masa keemasan.
Namun, di balik gemerlap angka penonton tersebut, tersimpan sebuah kegelisahan kultural. Jika kita melihat lebih dalam ke substansi cerita, wajah film Indonesia yang ditampilkan di layar masih mengalami distorsi. Sinema kita seolah terjebak dalam pertarungan dua arus besar: hegemoni genre horor yang eksploitatif melawan gelombang baru sinema daerah yang mencoba mendobrak sentralisme Jakarta.
Di penghujung tahun ini, muncul pertanyaan reflektif: Siapa yang akan memenangkan imajinasi penonton di 2026? Apakah horor yang memabukkan, atau sinema daerah yang membumi?
Kutukan "Jumpscare" dan Dominasi Horor dalam Film Indonesia
Mari bicara soal realitas pasar. Sepanjang tahun ini, ulasan-ulasan film di Kumparan didominasi oleh judul-judul mistis. Sebut saja film-film seperti Pabrik Gula, Petaka Gunung Gede, hingga rilis akhir tahun Dusun Mayit. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari logika kapitalisme industri yang pragmatis. Horor dianggap genre paling "aman" dan murah, namun memiliki basis penonton fanatik.
Dari kacamata sosiologi budaya, obsesi ini meresahkan. Alih-alih menggali kekayaan mitologi Nusantara sebagai khazanah budaya, banyak film Indonesia terjebak pada eksploitasi ketakutan dangkal (cheap jumpscare) dan pembodohan logika mistik. Agama sering kali direduksi hanya sebagai alat pengusir setan instan. Akibatnya, terjadi homogenisasi konten. Penonton dipaksa kenyang oleh menu tunggal horor, sementara genre lain menjadi "anak tiri".
Gelombang Balik: Kemenangan Narasi Lokal
Namun, di tengah kepungan horor tersebut, periode 2024-2025 memberikan kejutan yang menggembirakan. Muncul anomali-anomali sukses yang membuktikan bahwa penonton Indonesia sebenarnya rindu pada otentisitas dan kedekatan budaya (cultural proximity).
Kita tentu ingat bagaimana Kumparan pernah menyoroti fenomena meledaknya film Agak Laen (Muhadkly Acho). Film ini sukses besar bukan dengan meniru gaya Jakarta, tapi dengan merayakan dialek Batak yang kental. Kesuksesan ini dilanjutkan oleh Tulang Belulang Tulang (Sammaria Simanjuntak) yang mengeksplorasi adat Batak Toba dalam format road movie yang hangat.
Di belahan lain, film Kaka Boss (Arie Kriting) berhasil merebut kembali martabat Indonesia Timur. Ulasan KumparanHITS memuji bagaimana film ini menghapus stereotip orang Timur yang selama ini hanya jadi penjaga keamanan. Kaka Boss menghadirkan mereka sebagai subjek yang memiliki agensi, kehangatan keluarga, dan kompleksitas manusiawi.
Tren positif ini diperkuat oleh Women from Rote Island (Jeremias Nyangoen) yang menyapu bersih Piala Citra, dan debut penyutradaraan Reza Rahadian lewat Film Pangku (2025) yang memotret realitas "kopi pangku" di jalur Pantura. Film-film ini menunjukkan bahwa "Indonesia" bukan hanya SCBD atau kafe di Jakarta Selatan. Indonesia adalah ladang jagung di Rote, pelabuhan di Timur, dan warung kopi berdebu di Pantura.
Bukan Meniru, Tapi "Menjemput Pulang"
Sebetulnya, semangat mengangkat lokalitas ini bukanlah barang baru bagi sinema kita. Jika kita menengok ke belakang, era 80-an dan 90-an adalah masa kejayaan film berbasis kedaerahan dan legenda nusantara. Siapa yang bisa melupakan fenomena kolosal Saur Sepuh atau Tutur Tinular yang antreannya mengular sampai ke jalan raya? Atau Tjoet Nja' Dhien (1988) yang memotret Aceh dengan sangat epik dan filosofis?
Artinya, DNA film Indonesia sejatinya adalah DNA lokal. Kita pernah menjadi tuan rumah yang sangat percaya diri dengan cerita rakyat kita sendiri. Sayangnya, industrialisasi film satu dekade terakhir sempat membuat kita "amnesia". Kita terlalu sibuk mengejar standar visual Hollywood atau kenyamanan genre horor urban, sehingga melupakan kekuatan akar rumput tersebut.
Maka, ketika kita bicara soal "Belajar dari Luar", baik itu melihat ekosistem Korea Selatan dengan cerita kerajaannya di Drama Korea atau keberanian film India seperti Rise Roar Revolt (RRR), konteksnya bukanlah kita meniru konten mereka. Konteksnya adalah kita perlu meniru kepercayaan diri dan strategi pengemasan mereka. Jika Indonesia mau meniru semangat RRR, bayangkan kita membuat film tentang Gajah Mada dan Hayam Wuruk, tapi dikemas dengan aksi laga spektakuler, efek CGI canggih, dan sedikit imajinasi fiksi yang membuat mereka terlihat sekeren Avengers.
Negara-negara Asia tersebut mengajarkan kita bahwa budaya lokal, jika dikemas dengan standar produksi kelas dunia dan naskah yang modern, memiliki daya ledak global. Mereka tidak malu dengan sejarah dan dialek mereka; mereka justru menjualnya dengan bangga. Film-film daerah yang sukses hari ini adalah upaya "menjemput pulang" semangat kejayaan masa lalu tersebut dengan kemasan yang relevan bagi Gen Z.
Peran Platform Digital: Inkubator atau Predator?
Di sinilah peran krusial platform streaming (OTT). Berbeda dengan bioskop fisik yang terbatas jumlah layarnya, platform digital memiliki "rak tak terbatas". Seharusnya, ini menjadi peluang emas bagi desentralisasi narasi.
Platform seperti Vidio, Netflix, atau Bioskop Online harus berani menjadi inkubator bagi film-film model Pangku, Malin atau film Indonesia lainnya yang sejenis. Jangan sampai algoritma platform justru menjadi predator yang kembali mengarahkan penonton hanya ke film horor generik demi klik instan. Platform digital memiliki tanggung jawab moral untuk mendistribusikan keberagaman wajah Indonesia ini ke ruang tamu setiap warga.
Desentralisasi Imajinasi
Menyambut tahun 2026, tantangan terbesar perfilman kita adalah "Desentralisasi Imajinasi". Kita perlu memindahkan pusat gravitasi cerita dari Jakarta ke seluruh penjuru negeri. Sineas daerah adalah penjaga gawang keberagaman narasi bangsa.
Film adalah cermin bangsa. Jika cermin itu hanya memantulkan wajah hantu atau wajah Jakarta, maka kita sedang gagal mengenali diri sendiri. Kehadiran film-film seperti Kaka Boss, Tulang Belulang Tulang, hingga Pangku adalah sinyal positif bahwa kita mulai berani menatap wajah asli kita sendiri: bhinneka, kaya rasa, berdialek, dan penuh warna. Kedaerahan bukan lagi masa lalu yang tertinggal, ia adalah masa depan film Indonesia yang sesungguhnya.
