Konten dari Pengguna

Bukan Sekadar Tenaga Tambahan, Ini Peran Strategis Volunteer di Konser Musik

Yordan Ngarai Gonanda

Yordan Ngarai Gonanda

Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang. Freelance event crew dan penggemar dunia konser. Menulis tentang pengalaman volunteer, dinamika komunikasi lapangan, dan cerita di balik panggung.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yordan Ngarai Gonanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber: dokumentasi pribadi

Konser musik sering kali identik dengan panggung megah, lampu-lampu terang, suara bass yang menggelegar, dan ribuan penonton yang bersorak mengikuti irama. Tapi di tengah semua kemeriahan itu, ada satu peran penting yang jarang disorot kamera—volunteer konser musik.

Mereka bukan bagian dari band. Bukan juga kru panggung profesional. Tapi jangan salah, mereka bisa jadi kunci di balik lancar atau tidaknya komunikasi antara penyelenggara dan penonton.

Bukan Sekadar “Bala Bantuan”, Tapi Bagian dari Komunikasi Strategis

Selama ini, volunteer sering diposisikan hanya sebagai “tenaga tambahan” — cukup berdiri, membantu, dan siap menjalankan instruksi. Padahal, dalam event besar seperti konser musik, peran volunteer sangat krusial dalam menjaga alur komunikasi di lapangan.

Mereka tidak sekadar membawa HT atau tiket. Mereka menyampaikan informasi, menjawab kebingungan penonton, bahkan meredam potensi konflik secara langsung. Satu kalimat ramah dari volunteer bisa membentuk kesan pertama penonton terhadap acara.

Duta Komunikasi yang Sering Tidak Diberi Pelatihan

Menariknya, tidak semua volunteer dibekali pelatihan komunikasi. Padahal, mereka adalah pihak yang paling banyak berinteraksi langsung dengan ribuan penonton.

Sikap volunteer di lapangan—apakah ramah, cuek, atau tidak siap—secara tidak langsung akan membentuk citra promotor atau brand sponsor di mata publik.

Karena itu, penting bagi penyelenggara untuk tidak hanya memberi briefing teknis, tapi juga membekali volunteer dengan pelatihan komunikasi yang hangat, sigap, dan solutif.

Suara Volunteer di Media Sosial Lebih Didengar dan Dipercaya

Di era digital, konten dari volunteer sering lebih dipercaya dibanding promosi resmi dari brand. Saat mereka membagikan cerita di Instagram, video di TikTok, atau unggahan behind the scenes, itu bisa menjadi bentuk promosi yang paling otentik dan humanis.

Kenapa? Karena publik cenderung lebih percaya pada cerita “orang biasa” dibanding iklan berbayar. Ini menjadi peluang besar untuk memaksimalkan partisipasi volunteer sebagai duta konten digital.

Mereka Tidak Selalu Terlihat, Tapi Dampaknya Sangat Terasa

Volunteer mungkin tidak selalu muncul di kamera. Tapi mereka selalu hadir ketika penonton bingung arah masuk, ketika antrean toilet mulai memanas, atau ketika seorang pengunjung butuh bantuan cepat.

Merekalah yang menyambut pertama dan pulang paling akhir. Mereka yang menjaga ritme acara tetap nyaman dan berjalan lancar, meskipun tidak disebut-sebut dalam konferensi pers atau di akhir acara.

Sudah Saatnya Peran Volunteer Ditingkatkan

Mungkin tidak ada yang berteriak “terima kasih volunteer!” saat konser selesai. Tapi tanpa mereka, banyak hal bisa jadi berantakan.

Sudah saatnya volunteer tidak hanya dilihat sebagai pelengkap, tapi sebagai bagian dari strategi komunikasi konser musik yang terencana dan berdampak.

Dan siapa tahu, dari pengalaman ini, banyak volunteer yang kelak akan menjadi profesional event organizer—karena mereka belajar langsung dari lapangan, di tengah keramaian, di bawah dentuman musik, dan di balik layar kemeriahan yang kita nikmati bersama.