Konten dari Pengguna

Ekspos atau Eksploitasi? Menggugat Budaya Pamer di Meja Makan Digital

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yosua Erickson Nainggolan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Ana Madeleine Uribe: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-yang-memegang-iphone-perak-6-3907977/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Ana Madeleine Uribe: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-yang-memegang-iphone-perak-6-3907977/

Bayangkan sebuah dunia di mana dinding rumah tidak lagi terbuat dari batu bata, melainkan dari kaca transparan yang menghadap ke alun-alun kota yang ramai. Di dalam rumah itu, setiap tawa, marah, setiap piring yang dicuci, hingga setiap tangisan bayi dilihat oleh ribuan orang asing yang lewat. Bagi generasi kakek dan nenek kita, gambaran seperti ini adalah mimpi buruk yang sangat mengerikan. Namun bagi kita, fenomena tersebut bukan hanya realitas, melainkan sebuah cita-cita yang dikejar dengan penuh semangat lewat tombol upload.

Kita sedang berada di tengah "Kiamat Rahasia". Sebuah masa di mana privasi, yang dulunya dianggap sebagai hak asasi paling mendasar manusia, kini telah bergeser menjadi komoditas digital yang dijual dengan harga yang sangat murah, yaitu berupa sebuah "Like", komentar validasi, atau sekadar grafik engagement yang naik beberapa persen.

Panggung Tanpa Pintu Keluar

Transformasi manusia dari makhluk sosial menjadi "makhluk konten" terjadi begitu halus hingga kita tidak menyadarinya. Dahulu, kamera digunakan untuk mengabadikan momen agar tidak dilupakan. Namun sekarang, momen diciptakan justru demi kamera. Kita sering melihat pemandangan menyedihkan di kafe-kafe kekinian, yaitu sekelompok orang duduk bersama, namun mereka masing masing sibuk mengatur sudut pencahayaan makanan mereka. Percakapan hangat dan tawa yang seharusnya menjadi "nyawa" dari pertemuan itu justru mati, digantikan oleh kesibukan mengedit "caption" supaya terlihat seolah mereka sedang bersenang-senang.

Masalahnya adalah ketika semua hal dipamerkan, keaslian (authenticity) menjadi korban pertama. Kita mulai melakukan kurasi terhadap kehidupan kita sendiri. Kita hanya menampilkan versi terbaik yang sudah dipoles sedemikian rupa, yang pada gilirannya menciptakan standar hidup semu bagi orang lain. Ini adalah lingkaran setan, kita terus merasa perlu membagikan hal-hal pribadi agar merasa "ada," namun semakin banyak yang kita bagikan, semakin sedikit bagian dari diri kita yang benar-benar tersisa untuk diri kita sendiri.

Anak-Anak dalam Belenggu Jejak Digital

Salah satu aspek paling mengkhawatirkan dari budaya "oversharing" ini adalah fenomena "sharenting", yaitu gabungan dari dua kata dalam bahasa Inggris yaitu sharing (berbagi) dan parenting (pengasuhan). Banyak orang tua masa kini yang mengatasnamakan cinta dan kebanggaan dengan membagikan setiap detail pertumbuhan anak mereka ke media sosial. Dari foto USG, momen mandi pertama, hingga video saat sang anak sedang tantrum.

Secara etika, ada lubang besar di sini, yaitu persetujuan. Anak-anak ini belum memiliki kemampuan untuk setuju bahwa wajah dan momen-momen paling rapuh mereka akan tersimpan abadi di server perusahaan teknologi raksasa dan bisa dilihat oleh siapa saja, termasuk mereka yang memiliki niat buruk. Kita sedang membangun identitas digital bagi manusia lain tanpa seizin mereka. Saat anak-anak ini tumbuh dewasa nanti, mereka tidak lagi memiliki "kanvas kosong" untuk membentuk jati diri mereka, karena dunia sudah mengenal mereka lewat narasi yang dibuat orang tua mereka belasan tahun sebelumnya. Privasi mereka telah dicuri bahkan sebelum mereka mengerti apa artinya menjadi pribadi yang mandiri.

Ekonomi Perhatian dan Erosi Empati

Mengapa banyak orang begitu kecanduan membagikan hal pribadi mereka? Jawabannya terletak pada desain algoritma yang memang dirancang untuk menghargai emosi yang kuat. Konten yang bersifat pribadi, seperti curhatan sedih, konflik rumah tangga, atau kemewahan yang dipamerkan cenderung mendapatkan interaksi lebih tinggi daripada diskusi tentang topik-topik yang umum dan bermanfaat.

Privasi akhirnya menjadi alat tawar-menawar. Ketika seseorang merasa popularitasnya sedang menurun, "kartu as" yang biasanya dikeluarkan adalah membagikan sesuatu yang lebih pribadi lagi. Ini menciptakan budaya voyeurisme massal. Dimana, kita menjadi penonton yang haus akan drama kehidupan orang lain. Dampaknya adalah erosi empati. Kita mulai melihat kesedihan atau kebahagiaan orang lain hanya sebagai hiburan di layar ponsel, bukan lagi sebagai pengalaman manusiawi yang perlu dihormati ruangnya.

Kehilangan "Ruang Dalam"

Secara psikologis, manusia membutuhkan apa yang disebut sebagai "ruang dalam", sebuah tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri tanpa penilaian orang lain. Ruang ini adalah tempat kreativitas terlahir, tempat kita merefleksikan kegagalan, dan tempat kita menyembuhkan luka. Ketika setiap inci dari ruang tersebut dipaparkan ke publik, kita kehilangan kemampuan untuk memproses emosi secara mandiri. Kita menjadi terlalu bergantung pada validasi eksternal untuk menentukan apakah kita bahagia atau tidak.

Jika dunia luar tahu segalanya tentang kita, maka tidak ada lagi rahasia yang tersisa. Padahal, rahasia adalah salah satu daya tarik terkuat dalam hubungan antar-manusia. Hubungan yang paling dalam justru sering kali dibangun di atas hal-hal yang tidak diketahui oleh orang lain. Dengan menghancurkan batas privasi, kita secara tidak sadar sedang mendangkalkan kualitas hubungan manusiawi kita.

Merebut Kembali Hak untuk Tidak Terlihat

Menjaga privasi di era sekarang bukan berarti kita harus menjadi seorang pertapa digital atau menutup semua akun media sosial kita. Ini adalah tentang kemampuan memegang kendali. Privasi adalah kemampuan untuk menentukan bagian mana dari diri kita yang merupakan konsumsi publik dan bagian mana yang "suci" untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat.

Mungkin kemewahan tertinggi di masa depan bukanlah memiliki jutaan pengikut, melainkan kemampuan untuk menikmati momen indah dalam kesunyian, tanpa perlu adanya persetujuan dari algoritma. Kita perlu belajar kembali untuk mematikan kamera dan menyalakan indra kita. Kita harus sadar bahwa tidak semua hal yang indah harus diunggah, dan tidak semua kesedihan harus disaksikan oleh orang lain.

Pada akhirnya, hidup yang benar-benar bermakna adalah hidup yang dirasakan, bukan sekadar untuk dipamerkan. Mari kita selamatkan sisa-sisa rahasia kita sebelum semuanya benar-benar lenyap ditelan cahaya layar ponsel yang tak pernah padam.