Anak Fasih Berbagai Bahasa: Kebanggaan Orang Tua, Sisi Tumbuh Kembang

Ebook Author, Data Analis, Gold Trading Dosen MJ UTM
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Yudhi Mada tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Melihat buah hati mampu melafalkan kata-kata dalam berbagai bahasa tentu мениjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua dan keluarga. Betapa tidak, kemampuan ini seringkali diasosiasikan dengan kecerdasan dan membuka jendela wawasan yang lebih luas bagi anak di masa depan. Namun, di balik rasa bangga tersebut, muncul pertanyaan penting dari sudut pandang ilmu tumbuh kembang anak: seberapa baik kah kemampuan multilingual ini bagi perkembangan mereka, terutama di usia-usia awal?
Pakar tumbuh kembang anak, seperti yang disampaikan oleh Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak RSUD dr Soetomo, Ahmad Suryawan, memberikan perspektif yang menarik terkait hal ini. Beliau menekankan pentingnya fondasi bahasa ibu yang kuat terlebih dahulu, terutama pada dua tahun pertama kehidupan anak.
Prioritaskan Bahasa Ibu di Awal Kehidupan
Pendapat dr. Wawan sejalan dengan banyak ahli tumbuh kembang anak lainnya yang menyarankan agar fokus utama di usia dini adalah penguasaan bahasa pertama atau bahasa ibu. Pada periode emas perkembangan otak ini, anak sedang membangun dasar-dasar komunikasi dan pemahaman bahasa. Memperkenalkan terlalu banyak bahasa sekaligus dikhawatirkan dapat membebani kemampuan kognitif anak dan justru memperlambat perkembangan bahasa secara keseluruhan.
Beliau mencontohkan pentingnya mengajarkan kosakata dasar yang relevan dengan kehidupan sehari-hari anak, seperti "ayah," "ibu," "mama," "papa," "susu," dan "minum." Kata-kata sederhana ini pun memerlukan proses belajar dan pengucapan yang tidak instan bagi anak-anak yang baru memulai belajar bicara. Memaksakan anak untuk mengucapkan kata-kata dengan dua konsonan berdekatan di usia ini juga sebaiknya dihindari karena dapat menimbulkan frustrasi dan menurunkan minat anak untuk berkomunikasi.
Mengoptimalkan Lingkungan Sekitar untuk Pembelajaran Awal
Lebih lanjut, dr. Wawan menyarankan agar orang tua memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media pembelajaran bahasa yang efektif. Mengenalkan nama-nama benda, warna, ukuran, dan bentuk yang ada di sekitar anak akan membantu mereka membangun pemahaman konsep dan memperkaya kosakata dalam bahasa ibu. Proses belajar ini terjadi secara alami melalui interaksi sehari-hari dan observasi lingkungan.
Memperkenalkan Bahasa Kedua Setelah Fondasi Kuat Terbangun
Barulah setelah anak mampu mengungkapkan keinginannya dengan jelas dalam bahasa ibu, sekitar usia dua hingga empat tahun, orang tua dapat mulai memperkenalkan bahasa kedua atau bahasa lainnya. Pada usia ini, fondasi bahasa pertama anak sudah cukup kuat, sehingga mereka memiliki kapasitas kognitif yang lebih baik untuk menyerap dan memproses informasi linguistik yang baru.
Paparan terhadap bahasa lain pada usia prasekolah ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti interaksi dengan anggota keluarga atau pengasuh yang fasih berbahasa lain, menonton tayangan edukatif berbahasa asing, atau melalui kegiatan bermain yang melibatkan bahasa tersebut. Yang terpenting adalah proses pembelajaran bahasa kedua ini dilakukan secara menyenangkan dan tidak memaksa.
Manfaat Multilingualisme Jangka Panjang
Meskipun fokus pada bahasa ibu di awal kehidupan sangat penting, kemampuan multilingual pada akhirnya akan memberikan banyak manfaat positif bagi anak. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menguasai lebih dari satu bahasa cenderung memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik, termasuk dalam hal pemecahan masalah, fleksibilitas mental, dan kemampuan multitasking. Selain itu, kemampuan berbahasa asing juga membuka peluang yang lebih luas dalam pendidikan, karir, dan interaksi sosial di masa depan.
Kesimpulan
Kemampuan anak berbicara lebih dari satu bahasa memang membanggakan. Namun, dari sudut pandang tumbuh kembang anak, penting untuk memprioritaskan penguasaan bahasa ibu yang kuat pada tahun-tahun awal kehidupannya. Setelah fondasi bahasa pertama terbangun dengan baik, memperkenalkan bahasa kedua atau lebih dapat menjadi langkah yang positif untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan membuka wawasan anak. Pendekatan yang sabar, bertahap, dan menyenangkan akan menjadi kunci keberhasilan dalam menstimulasi kemampuan berbahasa anak secara optimal.
Melihat si kecil lancar menyapa dalam dua bahasa, atau bahkan lebih, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua dan keluarga. Kemampuan multilingual seringkali diasosiasikan dengan kecerdasan dan membuka pintu peluang di masa depan. Namun, di balik kebanggaan itu, muncul pertanyaan penting dari sudut pandang ilmu tumbuh kembang anak: Apakah kemampuan berbicara lebih dari satu bahasa sejak dini memang selalu baik dan sesuai dengan tahapan perkembangannya?
Menurut pakar tumbuh kembang anak, Dr. Ahmad Suryawan, Sp.A(K), Ketua Divisi Tumbuh Kembang Anak RSUD dr. Soetomo, jawabannya memerlukan pendekatan bertahap. Beliau menekankan bahwa dua tahun pertama kehidupan anak justru merupakan periode kritis untuk membangun fondasi bahasa yang kuat, dan pada fase ini, fokus pada satu bahasa utama lebih disarankan.
"Lebih baik satu bahasa dahulu di dua tahun pertama," tegas Dr. Suryawan, yang akrab disapa Dokter Wawan, dalam sebuah acara bertajuk 'Kemampuan Bicara Bahasa Awal Kecerdasan dan Perilaku Anak'.
Mengapa Fokus Satu Bahasa di Awal?
Pembelajaran Kosakata Inti: Tahun-tahun awal adalah masa di mana anak belajar memahami dan mengucapkan kata-kata dasar yang esensial untuk komunikasi dan kebutuhan sehari-hari. Dokter Wawan menyarankan untuk mengajarkan kosakata penting terlebih dahulu, seperti "ayah", "ibu", "mama", "papa", "susu", "minum".
Kemudahan Pengucapan: Anak-anak baru mengembangkan kemampuan motorik mulut dan lidahnya. Kata-kata dengan struktur sederhana (satu suku kata, konsonan tunggal) jauh lebih mudah diucapkan. Dokter Wawan memberikan contoh: "Kata 'bunda', itu cukup sulit loh diucapkan anak-anak yang baru belajar." Kata-kata dengan dua konsonan berdekatan (seperti /nd/ dalam "bunda") memang lebih kompleks untuk artikulasi anak batita. Memaksakan kata-kata sulit atau struktur kalimat kompleks dari bahasa kedua terlalu dini justru berpotensi menyebabkan frustrasi.
lPemahaman Konsep Dasar: Fondasi satu bahasa yang kuat membantu anak memahami konsep dasar dunia di sekitarnya dengan lebih jelas sebelum menambahkan label bahasa lain untuk konsep yang sama.
Strategi Membangun Fondasi Bahasa yang Kuat (0-2 Tahun):
Gunakan Benda Nyata: "Ada baiknya... mengajarkan anak dengan benda-benda di sekelilingnya," saran Dokter Wawan. Tunjukkan dan sebutkan nama benda, warna, ukuran, dan bentuk yang ada di lingkungan sehari-hari. "Semua benda yang dia lihat di sekitarnya." Misalnya, saat memegang bola, ucapkan "bola", "bulat", "merah".
Bicara dengan Jelas dan Sering: Ajak anak berkomunikasi terus-menerus dengan kalimat pendek dan jelas dalam bahasa utama.
Bacakan Buku Cerita Sederhana: Membacakan buku bergambar dengan kata-kata sederhana sangat membantu memperkaya kosa kata.
Tanggapi Ocehan dan Usahanya: Beri respons positif terhadap setiap upaya anak berkomunikasi, meskipun pengucapannya belum sempurna.
Kapan Bisa Memperkenalkan Bahasa Kedua atau Lebih?
Setelah fondasi bahasa pertama kuat, barulah orang tua dapat menambahkan keahlian bahasa anak. Dokter Wawan menyatakan, "Setelah anak mampu mengucapkan keinginannya dengan jelas... baru orang tua bisa menambah keahlian anak."
Masa usia dua hingga empat tahun dianggap sebagai "jendela emas" untuk mulai memperkenalkan bahasa tambahan secara lebih intensif. "Kurang lebih pada usia dua hingga empat tahun, anak-anak bisa dijejali dengan banyak bahasa. Bisa apa saja yang sering diucapkan orang tua atau kerabatnya."
Pada tahap ini, otak anak sangat lentur (plastis) dan mampu menyerap berbagai sistem bahasa secara alami, terutama jika paparan bahasa tersebut konsisten dan bermakna dalam interaksi sehari-hari.
Manfaat Multilingual Setelah Fondasi Kuat:
Setelah anak memiliki dasar bahasa pertama yang baik, mempelajari bahasa tambahan justru membawa banyak manfaat:
Fleksibilitas Kognitif: Melatih otak untuk beralih antar sistem aturan.
Kesadaran Metalinguistik: Pemahaman lebih baik tentang struktur bahasa pada umumnya.
Keunggulan Akademik Potensial: Terkait pemecahan masalah, kreativitas, dan fokus.
Keuntungan Sosial-Budaya: Kemampuan berkomunikasi dengan lingkup sosial yang lebih luas dan apresiasi budaya.
Kesimpulan: Bangga dengan Pendekatan yang Tepat
Kemampuan anak berbicara lebih dari satu bahasa memang sesuatu yang membanggakan dan berharga. Namun, kebanggaan ini sebaiknya diiringi dengan pemahaman akan tahapan tumbuh kembangnya. Memberikan fondasi yang kuat pada satu bahasa utama di dua tahun pertama adalah langkah krusial. Fokuslah pada penguasaan kosakata dasar dan kemampuan mengungkapkan keinginan dengan jelas dalam bahasa tersebut, dengan memanfaatkan benda-benda di sekitar.
Setelah fondasi ini kokoh, umumnya di atas usia dua tahun, barulah pengenalan bahasa kedua atau ketiga dapat dilakukan secara lebih intensif dan natural, terutama melalui interaksi sehari-hari dengan orang tua atau kerabat. Dengan pendekatan bertahap yang sesuai dengan perkembangan anak, kemampuan multilingual akan menjadi aset yang benar-benar membanggakan, bukan hanya secara sosial, tetapi juga didukung oleh fondasi perkembangan bahasa dan kognitif yang sehat. Jadi, nikmati prosesnya, mulai dari dasar, dan sambutlah kemampuan multilingual si kecil ketika waktunya tepat!
