Gen Z Lebih Memilih Jalur Alternatif daripada Kuliah

Ebook Author, Data Analis, Gold Trading Dosen MJ UTM
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Yudhi Mada tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Laporan terbaru dari Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey mengungkapkan tren menarik sekaligus mengkhawatirkan dalam lanskap pendidikan tinggi. Survei yang melibatkan ribuan responden dari berbagai negara, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa hampir sepertiga (31%) Generasi Z (Gen Z) memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Alasan utamanya, dan mendominasi kekhawatiran mereka terhadap sistem pendidikan tinggi secara keseluruhan, adalah tingginya biaya kuliah (39%).
Temuan ini menggarisbawahi pergeseran perspektif di kalangan generasi muda terhadap nilai dan aksesibilitas pendidikan tinggi tradisional. Gen Z, yang tumbuh di era digital dengan akses tak terbatas ke informasi dan peluang alternatif, semakin mempertanyakan apakah investasi waktu dan biaya yang besar untuk kuliah sebanding dengan manfaat yang didapatkan.
Survei ini melibatkan 14.751 responden Gen Z (lahir antara Januari 1995 dan Desember 2006) dan 8.731 responden milenial (lahir antara Januari 1983 dan Desember 1994) dari 44 negara. Dari Indonesia, sebanyak 535 responden Gen Z dan 326 responden milenial turut berpartisipasi, memberikan gambaran yang relevan dengan konteks nasional. Latar belakang responden yang beragam, mulai dari eksekutif hingga pekerja gig dan lulusan SMA, memperkaya perspektif yang tertuang dalam laporan ini.
Mahalnya Biaya Kuliah Jadi Batu Sandungan Utama
Alasan biaya kuliah yang mahal menduduki peringkat pertama (39%) sebagai faktor utama Gen Z memilih untuk tidak kuliah. Angka ini sejalan dengan kekhawatiran mereka terhadap sistem pendidikan tinggi, di mana 40% responden Gen Z menyebutkan biaya kuliah yang mahal sebagai isu yang paling mereka khawatirkan. Beban finansial yang dirasakan ini mendorong mereka untuk mencari alternatif yang lebih terjangkau dan cepat menghasilkan keterampilan yang relevan dengan dunia kerja.
Skeptisisme Terhadap Relevansi dan Pengalaman Praktis
Selain masalah biaya, survei ini juga menyoroti keraguan Gen Z terhadap kemampuan pendidikan tinggi dalam menyediakan pengalaman praktis yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja. Mereka yang memilih jalur alternatif seperti kelas pelatihan, magang, dan on-the-job training (OJT) percaya bahwa cara-cara ini lebih murah dan fokus pada pengembangan keterampilan yang aplikatif. Sebanyak 28% responden Gen Z khawatir bahwa sistem pendidikan tinggi memiliki peluang terbatas untuk memberikan pengalaman praktis.
Keraguan ini juga tercermin dalam alasan mereka tidak memilih kuliah, di mana 25% responden mencari jalur karier yang tidak membutuhkan pendidikan tinggi, dan 16% merasa pendidikan tinggi tidak menyediakan keterampilan yang dibutuhkan, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi pesat seperti kecerdasan buatan (AI). Mereka melihat adanya kesenjangan antara kurikulum perguruan tinggi dengan kebutuhan riil industri.
Mencari Alternatif yang Fleksibel dan Berbasis Keterampilan
Keputusan Gen Z untuk tidak kuliah bukan berarti mereka tidak tertarik untuk belajar dan mengembangkan diri. Sebaliknya, mereka cenderung mencari metode pembelajaran yang lebih fleksibel (26%) dan berbasis keterampilan (25%). Program pelatihan, magang, dan OJT dipandang sebagai cara yang lebih efisien untuk memperoleh pengetahuan dan keahlian yang relevan dengan pasar kerja saat ini.
Kekhawatiran Lainnya Terhadap Sistem Pendidikan Tinggi
Selain biaya dan kurangnya pengalaman praktis, Gen Z juga mengungkapkan kekhawatiran lain terhadap sistem pendidikan tinggi, di antaranya:
Kualitas pendidikan (35%)
Relevansi kurikulum dengan pasar tenaga kerja (24%)
Panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk lulus kuliah (22%)
Kurangnya opsi pembelajaran fleksibel (20%)
Kekhawatiran soal beban pinjaman mahasiswa (student loan) (21%)
Implikasi dan Tantangan ke Depan
Temuan dari survei Deloitte ini memberikan sinyal penting bagi para pemangku kepentingan di sektor pendidikan tinggi. Institusi pendidikan perlu beradaptasi dengan perubahan perspektif dan kebutuhan Gen Z. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan meliputi:
Meninjau Struktur Biaya: Mencari solusi untuk menekan biaya kuliah agar lebih terjangkau bagi generasi muda.
Meningkatkan Relevansi Kurikulum: Memastikan kurikulum yang diajarkan relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi terkini.
Memperbanyak Peluang Pengalaman Praktis: Mengintegrasikan program magang, proyek kolaboratif dengan industri, dan metode pembelajaran berbasis pengalaman ke dalam kurikulum.
Menawarkan Opsi Pembelajaran yang Lebih Fleksibel: Mengembangkan program pembelajaran daring, paruh waktu, atau blended learning yang dapat mengakomodasi kebutuhan beragam mahasiswa.
Mengkomunikasikan Nilai Pendidikan Tinggi dengan Lebih Efektif: Menjelaskan bagaimana pendidikan tinggi dapat memberikan landasan yang kuat untuk pengembangan karier jangka panjang dan keterampilan yang tidak hanya teknis, tetapi juga soft skills yang penting.
Keputusan Gen Z untuk memilih jalur alternatif merupakan respons terhadap realitas ekonomi dan perubahan kebutuhan pasar kerja. Pendidikan tinggi perlu mendengarkan suara generasi ini dan berinovasi agar tetap relevan dan menjadi pilihan yang menarik bagi masa depan mereka. Jika tidak, tren ini berpotensi semakin menguat dan membawa implikasi signifikan bagi lanskap pendidikan dan tenaga kerja di masa depan.
Faktor Penyebab Gen Z Menghindari Kuliah
Keputusan Gen Z untuk mengambil jalur yang berbeda dari pendidikan tinggi tradisional didorong oleh berbagai faktor yang saling terkait:
* Biaya Pendidikan yang Tinggi (39%): Beban finansial kuliah yang mahal dan kekhawatiran akan jeratan student loan atau pinjaman mahasiswa menjadi penghalang besar bagi banyak anak muda. Mereka mempertimbangkan apakah investasi besar ini akan sepadan dengan hasil yang didapatkan.
* Kondisi Keluarga atau Pribadi (34%): Faktor-faktor seperti tanggung jawab finansial terhadap keluarga atau masalah pribadi lainnya juga memaksa sebagian Gen Z untuk menunda atau bahkan mengurungkan niat untuk kuliah.
* Fleksibilitas Belajar (26%): Generasi digital ini tumbuh dengan preferensi terhadap pembelajaran yang lebih fleksibel dan dapat diatur sesuai kebutuhan mereka. Kursus online, pelatihan singkat, dan platform belajar mandiri dianggap lebih menarik dan efisien.
* Jalur Karier Non-Tradisional (25%): Magang, on-the-job training (OJT), dan pelatihan vokasi dipandang sebagai cara yang lebih langsung dan efektif untuk memperoleh keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja tanpa harus melalui bangku kuliah bertahun-tahun.
* Kurangnya Minat pada Pendidikan Formal (21%): Sebagian Gen Z merasa bahwa sistem pendidikan tradisional kurang relevan dengan dinamika industri saat ini dan tidak mampu memberikan keterampilan yang aplikatif.
* Kekhawatiran akan Pinjaman Mahasiswa (21%): Bayangan utang yang menumpuk setelah lulus kuliah menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar Gen Z, mendorong mereka mencari alternatif yang lebih aman secara finansial.
* Berkembangnya Minat Berwirausaha (19%): Semangat kewirausahaan yang tinggi di kalangan Gen Z membuat sebagian dari mereka memilih untuk langsung membangun bisnis sendiri daripada menghabiskan waktu dan biaya untuk kuliah.
* Ketidaksesuaian Keterampilan dengan Perkembangan Teknologi (16%): Ada kekhawatiran bahwa kurikulum perguruan tinggi tidak mampu mengimbangi pesatnya perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi, sehingga lulusan kurang siap menghadapi tantangan industri.
Kekhawatiran Gen Z Terhadap Pendidikan Tinggi
Survei Deloitte juga mengungkap kekhawatiran mendasar Gen Z terhadap sistem pendidikan tinggi secara keseluruhan:
* Biaya kuliah terlalu mahal (40%)
* Kualitas pendidikan tidak sebanding dengan biaya (35%)
* Minimnya pengalaman praktis (28%)
* Kurikulum tidak relevan dengan kebutuhan pasar kerja (24%)
* Durasi studi yang terlalu lama (22%)
* Kurangnya opsi pembelajaran fleksibel (20%)
Solusi yang Dipilih Gen Z
Menghadapi tantangan dan kekhawatiran tersebut, Gen Z secara proaktif mencari alternatif untuk mengembangkan diri dan memasuki dunia kerja:
* Pelatihan dan sertifikasi skill: Mengikuti coding bootcamp, kursus digital marketing, dan pelatihan spesialisasi lainnya untuk mendapatkan keterampilan yang spesifik dan dibutuhkan industri.
* Magang dan OJT: Mencari kesempatan untuk mendapatkan pengalaman kerja langsung dan membangun jaringan profesional sejak dini.
* Wirausaha atau kerja freelance: Memanfaatkan era digital untuk memulai bisnis sendiri atau menawarkan jasa secara independen.
* Pendidikan online yang lebih terjangkau: Memilih platform pembelajaran daring yang menawarkan biaya lebih rendah dan fleksibilitas waktu.
Implikasi bagi Dunia Pendidikan dan Industri
Tren ini membawa implikasi signifikan bagi institusi pendidikan dan dunia industri. Agar tetap relevan dan menarik bagi Gen Z, institusi pendidikan perlu berbenah:
✔ Menurunkan biaya kuliah atau menyediakan lebih banyak program beasiswa dan bantuan keuangan agar pendidikan tinggi lebih terjangkau.
✔ Memperbanyak program magang dan kolaborasi dengan industri untuk memberikan pengalaman praktis yang berharga bagi mahasiswa.
✔ Membuat kurikulum yang lebih fleksibel dan berbasis skill, yang responsif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar kerja.
Di sisi lain, perusahaan perlu membuka diri terhadap kandidat dengan latar belakang pendidikan non-tradisional dan mengadopsi sistem skills-based hiring, yang lebih fokus pada kemampuan dan kompetensi calon karyawan daripada sekadar gelar formal.
Kesimpulan
Generasi Z menunjukkan pendekatan yang lebih pragmatis dan berorientasi pada hasil dalam memilih jalur pendidikan dan karier. Mereka mencari cara tercepat dan termurah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan mengembangkan keterampilan yang relevan. Jika institusi pendidikan tinggi tidak mampu beradaptasi dengan perubahan ini, tren Gen Z memilih jalur alternatif kemungkinan akan terus menguat, membawa perubahan mendasar pada lanskap tenaga kerja di masa depan.
Sumber: Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey
