Mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional Berkelanjutan Melalui Pendekatan Holistik

Ebook Author, Data Analis, Gold Trading Dosen MJ UTM
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yudhi Mada tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketahanan pangan bukan lagi sekadar jargon, melainkan fondasi krusial bagi kemajuan dan stabilitas sebuah bangsa. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, dalam Indonesia Culinary Art (ICA) Chef Expo 2025 di Jakarta dengan tegas menyatakan bahwa pangan lokal bukan hanya warisan budaya, melainkan pilar penting dalam membangun ketahanan serta kedaulatan pangan nasional. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi untuk mengoptimalkan sumber daya lokal yang melimpah di Indonesia, seperti singkong, jagung, sorgum, ikan, dan jamur, sebagai sumber gizi utama yang mudah diakses dan terjangkau oleh seluruh masyarakat.
Kekayaan sumber daya pangan lokal Indonesia memang tak ternilai harganya. Dengan lebih dari 77 jenis sumber karbohidrat non-beras serta ratusan jenis protein nabati dan hewani lokal, Indonesia memiliki potensi besar untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya. Namun, potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan. Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwijono Hadi Darwanto, mengingatkan bahwa ketergantungan yang tinggi pada satu jenis pangan utama, seperti beras, menjadikan sistem pangan nasional sangat rentan terhadap berbagai guncangan, baik dari sisi produksi maupun distribusi.
Oleh karena itu, mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan memerlukan pendekatan yang holistik, mencakup intensifikasi, ekstensifikasi produksi, serta diversifikasi konsumsi. Intensifikasi produksi berfokus pada peningkatan produktivitas lahan dan sumber daya yang ada melalui penerapan teknologi pertanian modern, praktik budidaya yang baik, dan pengelolaan pasca panen yang efektif. Sementara itu, ekstensifikasi produksi dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan-lahan marginal atau tidur secara bijak dan berkelanjutan, tanpa merusak keseimbangan ekosistem.
Namun, upaya peningkatan produksi tidak akan optimal tanpa diimbangi dengan diversifikasi konsumsi. Diversifikasi pangan merupakan langkah krusial untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis pangan pokok dan meningkatkan ketahanan sistem pangan secara keseluruhan. Dwijono Hadi Darwanto menekankan pentingnya membudayakan diversifikasi pangan sejak usia dini, baik dari sisi konsumsi maupun produksi, salah satunya dengan menumbuhkan kebanggaan terhadap konsumsi pangan lokal.
Pangan lokal, dengan keanekaragaman nutrisi dan cita rasanya, memiliki potensi besar untuk menjadi alternatif sumber pangan yang sehat dan terjangkau. Arief Prasetyo Adi juga menyoroti peran penting dunia kuliner dalam mengangkat citra dan nilai gizi pangan lokal. Inovasi dalam pengolahan pangan lokal menjadi produk yang lebih praktis dan sesuai dengan gaya hidup masyarakat modern juga menjadi kunci. Contoh sukses rendang instan di Malaysia yang disebutkan Dwijono dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan produk pangan lokal Indonesia.
Diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan pelestarian kekayaan hayati Indonesia. Dengan meningkatnya permintaan terhadap pangan lokal, petani dan pelaku usaha di daerah akan mendapatkan insentif ekonomi untuk mengembangkan produk-produk unggulan mereka. Selain itu, pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai sumber pangan juga akan mendorong upaya pelestarian lingkungan dan keunikan lokal.
Untuk mencapai sistem pangan nasional yang berkelanjutan, diperlukan sinergi dan komitmen yang kuat dari berbagai pihak. Pemerintah memiliki peran sentral dalam merumuskan kebijakan yang mendukung intensifikasi dan ekstensifikasi produksi yang berkelanjutan, serta mendorong diversifikasi konsumsi melalui berbagai program edukasi dan promosi. Pelaku usaha pangan juga dituntut untuk semakin serius berinvestasi dalam inovasi pengolahan pangan lokal agar lebih menarik dan praktis bagi konsumen.
Pada akhirnya, mewujudkan ketahanan pangan secara holistik melalui intensifikasi, ekstensifikasi produksi, dan diversifikasi konsumsi adalah investasi jangka panjang bagi kesejahteraan dan kemandirian bangsa. Dengan mengoptimalkan potensi sumber daya lokal dan mengubah pola konsumsi masyarakat, Indonesia dapat membangun sistem pangan yang lebih kuat, beragam, dan berkelanjutan, sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Kebanggaan terhadap pangan lokal harus terus dipupuk dan diwujudkan dalam tindakan nyata, mulai dari meja makan hingga kebijakan nasional.
Ketahanan pangan nasional harus dibangun secara holistik melalui tiga strategi utama: intensifikasi produksi, ekstensifikasi lahan, dan diversifikasi konsumsi. Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi dalam acara Indonesia Culinary Art (ICA) Chef Expo 2025 di Jakarta.
Menurut Arief, pangan lokal bukan sekadar warisan budaya, melainkan fondasi penting dalam membangun sistem pangan yang berkelanjutan. "Kita harus optimalkan sumber daya lokal seperti singkong, jagung, sorgum, ikan, dan jamur. Semuanya bisa menjadi sumber gizi utama yang mudah diakses dan terjangkau," tegasnya.
Indonesia memiliki lebih dari 77 jenis sumber karbohidrat non-beras serta ratusan jenis protein nabati dan hewani lokal. Namun, sebagian besar masih belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, diversifikasi pangan dapat memperkuat ketahanan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada beras dan gandum impor.
Diversifikasi Pangan: Solusi Mengurangi Kerentanan
Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dwijono Hadi Darwanto, menegaskan bahwa ketergantungan pada satu jenis pangan utama membuat sistem pangan nasional sangat rentan. "Jika kita sangat tergantung pada satu jenis pangan utama saja, tentu sangat rentan. Karena itu, perlu dibudayakan diversifikasi pangan sejak usia dini, baik dari sisi konsumsi maupun produksi," ujarnya.
Dwijono mencontohkan keberhasilan Malaysia dalam mempopulerkan rendang instan sejak tahun 1990-an. "Pangan lokal harus dibuat sepraktis mungkin dalam persiapannya. Kita perlu inovasi seperti itu dari bahan lokal Indonesia. Banggalah dengan pangan lokal!" tegasnya.
Inovasi dan Gaya Hidup Modern
Agar pangan lokal semakin diminati, diperlukan inovasi pengolahan yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat modern yang cenderung praktis. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
* Pengembangan produk pangan lokal siap saji, seperti mie dari sorgum atau tepung singkong instan.
* Promosi masakan berbahan lokal melalui festival kuliner dan kolaborasi dengan chef ternama.
* Edukasi gizi tentang manfaat konsumsi pangan lokal sejak dini.
Dampak Positif bagi Ekonomi dan Lingkungan
Diversifikasi pangan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga:
* Mendorong ekonomi lokal dengan memberdayakan petani dan UMKM.
* Melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia.
* Mengurangi impor pangan yang membebani devisa negara.
"Pemerintah dan pelaku usaha harus serius mendorong inovasi pangan lokal. Dengan begitu, kita bisa mewujudkan sistem pangan yang berdaulat dan berkelanjutan," pungkas Dwijono.
Kesimpulan
Ketahanan pangan nasional memerlukan pendekatan holistik melalui:
✅ Intensifikasi produksi (optimalisasi hasil pertanian).
✅ Ekstensifikasi lahan (pengembangan area tanam baru).
✅ Diversifikasi konsumsi (pemanfaatan pangan lokal).
Dengan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, Indonesia dapat membangun sistem pangan yang tangguh, mandiri, dan berkelanjutan.
