Pernah Dengar Suara Tonggeret? Serangga Unik Ini Ternyata Terancam Punah

Bekerja di BRIN, sebagai Pranata Humas dan ditempatkan di bagian Kerja Sama, pendidikan : Sarjana Keuangan Perbankan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Yuliana Ningsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi Anda yang tumbuh dekat dengan pepohonan atau area pedesaan, suara nyaring "seeee-sreeee" menjelang sore tentu terasa sangat akrab. Dengungan khas serangga tonggeret ini kerap menjadi alarm alami penanda berlalunya hari.
Sayangnya, "konser" gratis dari alam ini kian jarang terdengar. Di banyak wilayah, nyanyian yang dulu meramaikan pepohonan perlahan membisu.
Meredupnya suara tonggeret bukanlah hal sepele. Di balik keunikannya, populasi tonggeret kini mengalami penurunan serius hingga terancam punah akibat perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Mengenal Tonggeret: 'Penyanyi' Handal Penghuni Hutan
Banyak yang mengira tonggeret menghasilkan suara dari gesekan kaki atau sayap seperti jangkrik. Nyatanya, serangga ini memiliki organ khusus bernama tymbal—membran tipis berotot di perut yang bergetar cepat hingga menghasilkan bunyi melengking.
Di balik suaranya yang lantang, tonggeret memiliki siklus hidup yang unik:
• Hidup Lama di Bawah Tanah: Tonggeret menghabiskan mayoritas usianya sebagai nimfa di dalam tanah selama bertahun-tahun untuk menyerap nutrisi akar pohon.
• Masa Dewasa Singkat: Saat keluar ke permukaan, tonggeret dewasa hanya bertahan hidup beberapa minggu untuk bereproduksi sebelum mati.
• Peran Bagi Ekosistem: Tonggeret merupakan penopang rantai makanan hutan sebagai sumber protein bagi burung, reptil, hingga mamalia kecil.
Mengapa Populasi Tonggeret Kian Mengkhawatirkan?
Keberadaan tonggeret di alam makin terdesak oleh beberapa faktor utama:
• Deforestasi dan Berkurangnya Pohon: Penebangan pohon membuat tonggeret kehilangan habitat bertelur dan sumber makanan.
• Tanah Rusak dan Beton: Penggunaan pestisida meracuni nimfa di dalam tanah. Pembangunan beton juga membuat mereka terjebak dan gagal keluar ke permukaan.
• Perubahan Cuaca Ekstrem: Suhu tanah yang tidak stabil mengacaukan ritme biologis dan jadwal kemunculan tonggeret.
• Polusi Cahaya dan Suara: Cahaya lampu kota membingungkan arah terbang tonggeret, sementara kebisingan kendaraan menutupi suara panggil kawin mereka.
Sinyal Bahaya Bagi Ekosistem
Hilangnya tonggeret dari habitatnya membawa dampak buruk bagi keseimbangan alam:
• Indikator Kerusakan Lingkungan: Tonggeret sangat sensitif terhadap perubahan alam. Jika suaranya menghilang, itu tandanya kualitas tanah dan vegetasi di area tersebut sudah menurun.
• Gangguan Rantai Makanan: Penurunan populasi tonggeret membuat hewan pemangsa seperti burung dan reptil kesulitan mendapatkan sumber pakan alami.
Kesimpulan dan Aksi Nyata
Meredupnya suara tonggeret adalah peringatan pelan bahwa ekosistem sekitar kita sedang tidak baik-baik saja. Meski demikian, masyarakat masih bisa berkontribusi menjaga kelestarian serangga ini melalui langkah sederhana:
• Merawat Ruang Terbuka Hijau: Menanam dan merawat pohon di lingkungan sekitar rumah.
• Mengurangi Pestisida Kimia: Mengalihkan perawatan tanaman ke bahan organik agar tanah tetap subur dan aman.
• Melestarikan Tanaman Lokal: Menyediakan tempat tinggal dan rantai makanan alami bagi fauna lokal.
Menjaga keberadaan tonggeret berarti merawat keberlanjutan ekosistem. Jangan sampai nyanyian khas penghuni hutan ini hilang selamanya dari alam kita.
