Bukan Salah Self-Reward, Gen Z Sengaja Boros?

Mahasiswi Manajemen Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yuli Susanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Generasi Z sering kali dicap sebagai generasi yang rapuh secara finansial. Buka saja media sosial, maka kita akan dengan mudah menemukan narasi penyesalan anak muda yang dompetnya "kritis" di akhir bulan. Tudingannya selalu sama dan berpola: mereka terlalu sering melakukan self-reward, mulai dari membeli kopi susu literan, berburu takjil estetik, hingga checkout keranjang belanjaan daring dengan dalih apresiasi diri.
Namun, apakah fenomena ini sesederhana masalah "kurang disiplin" dan "gaya hidup hedonistik"?
Jika kita mau melihat sedikit lebih dalam melampaui permukaan, fenomena self-reward yang kebablasan ini sebenarnya adalah puncak gunung es dari kecemasan sistemis yang sedang dihadapi oleh generasi muda. Menyalahkan Gen Z secara sepihak atas pilihan finansial mereka adalah sebuah sesat pikir yang mengabaikan realitas ekonomi hari ini.
Ketika Masa Depan Terlalu Mahal, Masa Kini Jadi Pilihan
Untuk memahami mengapa Gen Z begitu royal pada diri sendiri di masa sekarang, kita harus melihat bagaimana mereka memandang masa depan. Saat ini, dunia sedang tidak baik-baik saja. Inflasi terus merangkak naik, sementara pertumbuhan upah riil bagi lulusan baru (fresh graduates) cenderung stagnan. Faktor paling krusial adalah harga properti dan papan yang sudah berada di luar nalar akal sehat pekerja muda.
Ketika rumah masa depan seolah menjelma menjadi fiksi yang mustahil digapai, struktur psikologis seseorang akan berubah. Fenomena ini dalam dunia ekonomi global dikenal dengan istilah doom spending—sebuah kondisi di mana seseorang sengaja menghabiskan uang mereka untuk kesenangan jangka pendek karena merasa tidak ada gunanya menabung untuk masa depan yang tidak pasti.
Logika berpikirnya bergeser: "Untuk apa aku menahan diri tidak membeli kopi seharga 50 ribu setiap hari demi menabung, kalau uang tabungan itu tetap tidak akan pernah cukup untuk membayar uang muka rumah yang harganya miliaran?" Akibatnya, self-reward tidak lagi berfungsi sebagai hadiah atas sebuah pencapaian, melainkan beralih fungsi menjadi mekanisme koping (coping mechanism) untuk bertahan hidup dari tekanan realitas.
Jerat Kapitalisme Kontemporer dan Komodifikasi "Healing"
Makin rumit lagi karena kerapuhan emosional generasi muda ini berhasil dibaca dengan sangat jeli oleh industri. Di era kapitalisme kontemporer yang digerakkan oleh algoritma media sosial, narasi mengenai kesehatan mental dan kebahagiaan telah mengalami komodifikasi. Industri menciptakan jargon-jargon manipulatif seperti "You deserve this," "Kerja keras harus diimbangi dengan healing," atau "Sekali-sekali memanjakan diri tidak apa-apa."
Tanpa sadar, Gen Z terjebak dalam perangkap pemasaran emosional (emotional marketing). Setiap kali mereka merasa penat dengan tekanan kuliah, tugas yang menumpuk, atau lingkungan kerja yang toksik, algoritma media sosial siap menyodorkan solusi instan dalam bentuk barang belanjaan atau tiket konser.
Self-reward akhirnya mengalami pergeseran makna dari yang semula sebuah pilihan sadar, menjadi sebuah kebutuhan semu yang didikte oleh pasar. Anak muda tidak benar-benar menghadiahi diri mereka sendiri; mereka hanya sedang mengonsumsi produk untuk mengisi kekosongan emosional yang diciptakan oleh sistem yang melelahkan.
Menggeser Paradigma: Dari Impulsive Buying Menuju Mental Accounting
Melakukan kritik terhadap sistem bukan berarti kita boleh melepaskan tanggung jawab personal sepenuhnya dan pasrah pada keadaan. Menjadikan doom spending sebagai pembenaran untuk terus bersikap impulsif justru akan menjerumuskan Gen Z ke dalam lingkaran setan kemiskinan struktural yang lebih dalam.
Langkah pertama untuk keluar dari jebakan ini adalah dengan melakukan redefinisi total terhadap makna self-reward. Apresiasi diri tidak harus selalu berwujud konsumsi materi atau pengurangan saldo rekening. Tidur tepat waktu tanpa gangguan gawai, berjalan-jalan di taman kota yang hijau, atau meluangkan waktu untuk menekuni hobi lama yang gratis juga merupakan bentuk self-reward yang valid dan jauh lebih menyehatkan bagi mental maupun finansial.
Secara manajerial, anak muda perlu menerapkan pendekatan mental accounting atau pengotakan anggaran yang ketat. Alokasi untuk apresiasi diri harus ditentukan di awal, bukan sisa dari pengeluaran bulanan. Ketika batas anggaran itu habis, maka hak untuk self-reward pada bulan tersebut juga resmi ditutup. Disiplin ini penting bukan untuk mengejar impian membeli aset-aset mewah yang mungkin terasa jauh, melainkan untuk membangun financial buffer (dana darurat) yang akan melindungi diri sendiri ketika krisis ekonomi yang sebenarnya datang melanda.
Kesimpulan
Pada akhirnya, fenomena dompet Gen Z yang kritis akibat self-reward adalah potret buram dari generasi yang sedang kebingungan mencari pegangan di tengah ketidakpastian dunia. Ini adalah jeritan bawah sadar melawan realitas ekonomi yang kian menjepit.
Sudah saatnya media dan masyarakat berhenti menghakimi pilihan konsumsi anak muda dengan kacamata moralitas yang usang. Alih-alih melabeli mereka sebagai generasi yang boros, kita perlu memahami akar psikologis di baliknya sembari terus mengedukasi literasi keuangan yang realistis, adaptif, dan memanusiakan manusia.
