Konten dari Pengguna

Dari Tokyo ke Taipei: Kecemasan Baru di Asia Timur

Dubes Yuri Octavian Thamrin

Dubes Yuri Octavian Thamrin

Diplomat senior yang telah memiliki pengalaman lebih dari 30 tahun mewakili Indonesia baik dalam diplomasi bilateral maupun multilateral. Mantan Dubes RI untuk Inggris (2008-2011) dan Mantan Dubes RI untuk Belgia (2016-2020)

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dubes Yuri Octavian Thamrin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua artikel dalam The Economist edisi 23–29 Mei 2026, yakni “The Sino-Japanese Spat: No End in Sight” dan “Trump and Taiwan: Thinking Twice”, menunjukkan meningkatnya kecemasan strategis di Asia Timur. Taiwan kini bukan lagi semata isu hubungan Beijing–Taipei, tetapi telah menjadi bagian dari kalkulasi keamanan Jepang dan sumber ketidakpastian baru dalam hubungan Amerika Serikat dengan para sekutunya di kawasan.

Hubungan China dan Jepang sendiri kembali memasuki fase yang dingin dan penuh kecurigaan. Menurut The Economist, kedua negara telah terkunci dalam stand-off pahit selama lebih dari enam bulan, terutama terkait Taiwan. Pemerintah China marah setelah Perdana Menteri Jepang, Takaichi Sanae, menyatakan bahwa konflik Taiwan dapat menjadi “survival-threatening situation” bagi Jepang. Bagi Beijing, Taiwan merupakan bagian dari apa yang disebut Xi Jinping sebagai “core of China’s core interests”. Karena itu, setiap sinyal keterlibatan Jepang dalam isu Taiwan langsung dipandang sangat sensitif.

Ketegangan juga meningkat setelah kapal perang Jepang melintas di Selat Taiwan pada April lalu, bertepatan dengan peringatan Perjanjian Shimonoseki 17 April 1895 yang dahulu menyerahkan Taiwan kepada Jepang. Karena itu, bagi Beijing, peristiwa tersebut memiliki sensitivitas historis dan simbolik yang kuat.

Namun bagi China, persoalannya sesungguhnya bukan semata pelintasan kapal tersebut, melainkan perubahan cara pandang strategis Tokyo terhadap Taiwan itu sendiri. Ketika Takaichi menyebut ancaman terhadap Taiwan sebagai “survival-threatening situation” bagi Jepang, China melihatnya sebagai indikasi bahwa Jepang mulai bergerak melampaui posisi hati-hati tradisionalnya dalam isu Taiwan. Dengan kata lain, Beijing mulai melihat Tokyo bukan lagi sekadar sekutu Amerika di Asia, tetapi juga aktor yang semakin aktif dalam kalkulasi keamanan Taiwan.

Prospek membaiknya hubungan China–Jepang sendiri tampaknya tidak akan mudah dalam waktu dekat. Beijing tampaknya ingin menjadikan Jepang sebagai contoh bagi pihak-pihak lain yang dianggap melewati “garis merah”-nya terkait Taiwan. Di sisi lain, hubungan personal yang dulu cukup membantu menjaga komunikasi antara elite senior Partai Liberal Demokrat (LDP) Jepang dan para pemimpin China kini juga semakin tersumbat. Banyak generasi politisi lama yang memiliki hubungan historis dengan Beijing telah pensiun atau kehilangan pengaruh.

Namun di balik meningkatnya ketegangan tersebut, sesungguhnya sedang terjadi perubahan psikologi strategis yang lebih besar di Asia Timur. Jepang mulai memandang Taiwan bukan lagi sekadar isu lintas selat antara Beijing dan Taipei, melainkan bagian langsung dari keamanan nasional Jepang sendiri.

Secara geografis, Taiwan memang memiliki arti yang sangat strategis bagi Jepang. Jalur perdagangan dan energi Jepang banyak melewati kawasan sekitar Taiwan dan Laut China Selatan. Sebagian besar impor energi Jepang dari Timur Tengah melewati jalur tersebut. Jika suatu hari China menguasai Taiwan sepenuhnya, maka Beijing akan memiliki leverage yang jauh lebih besar terhadap jalur laut yang vital bagi ekonomi Jepang.

Taiwan juga terletak sangat dekat dengan Okinawa, wilayah paling selatan Jepang. Dalam konteks militer, penguasaan Taiwan oleh PLA (People’s Liberation Army) akan membuat tekanan militer China terhadap Jepang berada jauh lebih dekat dibanding sebelumnya. Selain itu, Taiwan merupakan bagian penting dari apa yang dikenal sebagai “first island chain”, yaitu rantai pulau strategis Jepang–Taiwan–Filipina yang selama ini membantu membendung ekspansi angkatan laut China ke Samudera Pasifik.

Karena itu, jika Taiwan jatuh sepenuhnya ke dalam kontrol Beijing, posisi strategis China di Pasifik akan meningkat drastis. Kapal selam, kapal induk, dan pesawat militer China akan memiliki ruang gerak yang jauh lebih luas menuju Pasifik tanpa banyak hambatan geografis. Jepang juga khawatir tekanan terhadap Okinawa maupun sengketa Kepulauan Senkaku akan meningkat.

Selain faktor keamanan, Taiwan juga sangat penting bagi industri teknologi Jepang. Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) dan ekosistem semikonduktor Taiwan memiliki posisi sentral dalam rantai pasok teknologi global. Gangguan besar terhadap Taiwan akan berdampak langsung pada industri Jepang maupun ekonomi dunia.

Karena itu, ketika sejumlah politisi Jepang mengatakan bahwa “a Taiwan contingency is a Japan contingency”, sesungguhnya mereka ingin menyampaikan bahwa guncangan terhadap Taiwan akan langsung mempengaruhi keamanan Jepang sendiri.

Di tengah perubahan kalkulasi strategis Jepang tersebut, faktor Amerika Serikat justru menambah ketidakpastian baru. Selama beberapa dekade, Jepang dan Taiwan pada dasarnya beroperasi dengan asumsi bahwa Amerika Serikat pada akhirnya akan tetap mempertahankan keseimbangan strategis di Asia Timur. Namun kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih membuat sebagian asumsi lama mulai dipertanyakan.

Trump dipersepsikan lebih transaksional dalam memandang hubungan internasional. Taiwan tidak selalu dilihat semata sebagai mitra demokratis strategis, tetapi juga sebagai pesaing ekonomi. Trump bahkan kembali menuduh Taiwan “mencuri” industri chip Amerika. Pernyataan semacam ini menimbulkan kegelisahan di Taipei karena selama ini kekuatan semikonduktor Taiwan justru sering dipandang sebagai “silicon shield”, yaitu faktor yang membuat Taiwan penting bagi ekonomi global dan karenanya layak dipertahankan.

Kekhawatiran juga muncul karena Trump beberapa kali memberi kesan bahwa isu Taiwan dapat menjadi bagian dari bargaining yang lebih besar dengan China. Dalam konteks tertentu, Beijing bahkan mungkin melihat Trump sebagai pemimpin yang lebih transaksional dan lebih terbuka terhadap deal pragmatis. Karena itu, China tampaknya tidak merasa perlu terlalu terburu-buru memperbaiki hubungan dengan Jepang.

Semua ini menimbulkan pertanyaan yang makin sering terdengar di Asia Timur: apakah komitmen keamanan Amerika tetap akan sekuat dulu?

Dalam konteks inilah Jepang tampaknya mulai berpikir lebih realistis. Tokyo masih membutuhkan Amerika Serikat sebagai pilar utama keamanan kawasan. Namun pada saat yang sama, Jepang mulai menyadari bahwa ketergantungan penuh terhadap kepastian politik Washington mungkin tidak lagi cukup aman untuk jangka panjang.

Karena itu, yang sedang berubah di Asia Timur sesungguhnya bukan hanya hubungan China dan Taiwan. Yang ikut berubah adalah cara negara-negara kawasan memandang masa depan keseimbangan strategis regional. Dulu Asia Timur terutama cemas terhadap kebangkitan China. Kini kawasan itu juga mulai belajar hidup dengan ketidakpastian baru dari Washington sendiri.

---000---