Konten dari Pengguna

Udara yang Kita Hirup, Bumi yang Kita Panaskan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yusi Ramadani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menggambarkan dampak pemanasan global dan pencemaran udara melalui kota yang dipenuhi emisi, suhu bumi yang meningkat, kekeringan, kebakaran hutan, serta perubahan kondisi lingkungan dan pesisir.Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan ChatGPT (AI), 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menggambarkan dampak pemanasan global dan pencemaran udara melalui kota yang dipenuhi emisi, suhu bumi yang meningkat, kekeringan, kebakaran hutan, serta perubahan kondisi lingkungan dan pesisir.Sumber: Ilustrasi dibuat menggunakan ChatGPT (AI), 2026.

Udara merupakan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menopang kehidupan seluruh makhluk di bumi. Setiap manusia, hewan, dan tumbuhan bergantung pada kondisi atmosfer yang mendukung kehidupan. Karena itu, udara bukan sekadar sesuatu yang kita hirup setiap hari, tetapi bagian penting dari sistem kehidupan yang harus dijaga kualitasnya.

Masalah muncul ketika aktivitas manusia menghasilkan tekanan yang semakin besar terhadap atmosfer dan lingkungan. Penggunaan kendaraan bermotor, aktivitas industri dan pertambangan, pembakaran sampah, kebakaran hutan dan lahan, perubahan tutupan hutan, hingga penggunaan berbagai bahan kimia dapat menghasilkan emisi dan pencemar yang memengaruhi kualitas udara. Pada saat yang sama, pelepasan gas rumah kaca dalam jumlah besar berkontribusi terhadap pemanasan global yang kemudian memengaruhi sistem iklim bumi.

Udara yang Semakin Menghadapi Tekanan

Kualitas udara tidak dapat dipisahkan dari aktivitas manusia. Pertumbuhan kota meningkatkan kebutuhan transportasi dan energi. Perkembangan industri membutuhkan bahan bakar dan sumber daya. Pembukaan lahan dapat mengurangi kemampuan ekosistem menyerap karbon, sedangkan kebakaran hutan dan lahan dapat melepaskan partikulat serta berbagai gas pencemar ke atmosfer.

Persoalan menjadi semakin kompleks ketika pencemaran udara berlangsung bersamaan dengan perubahan iklim. Keduanya bukan persoalan yang sama, tetapi memiliki sumber tekanan yang dapat saling berkaitan. Pembakaran bahan bakar fosil, misalnya, menghasilkan berbagai polutan udara sekaligus melepaskan gas rumah kaca. Karena itu, menjaga udara tidak cukup hanya dengan mengurangi asap yang terlihat. Pengendalian emisi, perlindungan hutan, pengelolaan transportasi, pengurangan pembakaran terbuka, serta penggunaan energi yang lebih bersih juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan.

Suhu Bumi Terus Meningkat

Pemanasan global bukan lagi persoalan yang hanya diproyeksikan untuk masa depan. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat bahwa 2015–2025 menjadi 11 tahun terpanas dalam catatan pengamatan, sementara 2025 berada di antara tahun terpanas kedua atau ketiga secara global. Suhu rata-rata global pada 2025 sekitar 1,43°C di atas rata-rata periode 1850–1900. WMO juga mencatat bahwa kandungan panas laut pada 2025 mencapai rekor tertinggi dalam catatan pengamatan sejak 1960.

Angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Suhu global yang melampaui 1,5°C dalam satu tahun tidak berarti target jangka panjang Paris Agreement telah secara resmi terlampaui. Target 1,5°C berkaitan dengan kenaikan suhu rata-rata global dalam jangka panjang. Meski begitu, catatan suhu tahunan tersebut menunjukkan betapa kuatnya tren pemanasan yang sedang berlangsung.

Kondisi tersebut juga terlihat di Indonesia. Berdasarkan data 115 stasiun pengamatan BMKG, suhu udara rata-rata Indonesia pada 2025 mencapai 27,05°C, dibandingkan rata-rata periode normal 1991–2020 sebesar 26,7°C. Anomali suhu mencapai +0,38°C, sehingga 2025 menempati urutan keenam sebagai tahun terpanas Indonesia sejak 1981. Hampir seluruh stasiun pengamatan menunjukkan anomali positif.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kondisi tersebut tetap perlu diperhatikan. BMKG mencatat 2024 sebagai tahun terpanas Indonesia sepanjang periode pengamatan, dengan suhu rata-rata 27,5°C dan anomali +0,8°C. Suhu muka laut rata-rata Indonesia pada 2024 juga mencapai 29,48°C, tertinggi dalam catatan pengamatan BMKG. Pada tahun yang sama, Hari Tanpa Hujan terpanjang mencapai 214 hari di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Indonesia Memasuki 2026 dengan Suhu yang Tetap Tinggi

Memasuki 2026, catatan suhu masih menunjukkan anomali positif. BMKG mencatat suhu rata-rata Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 27,22°C, sedangkan normal klimatologis Agustus 1991–2020 sebesar 26,27°C. Artinya, anomali suhu mencapai +0,95°C, dan menjadi anomali Agustus tertinggi sejak periode pengamatan 1991. Dari 103 stasiun pengamatan yang dianalisis BMKG, sebanyak 98 stasiun menunjukkan anomali positif.

Pada tingkat global, perkembangan Agustus 2026 juga mencatat angka yang sangat tinggi. Copernicus mencatat suhu rata-rata permukaan bumi pada Agustus 2026 mencapai 16,96°C, atau 0,85°C di atas rata-rata 1991–2020, menjadikannya Agustus terpanas dalam catatan ERA5. Jika dibandingkan dengan perkiraan kondisi praindustri 1850–1900, suhu Agustus 2026 berada sekitar 1,65°C lebih tinggi.

Angka bulanan tersebut tidak berarti bumi setiap saat berada di atas 1,5°C secara permanen. Suhu global mengalami variasi dari bulan ke bulan akibat berbagai faktor alam dan atmosfer. Yang menjadi perhatian adalah kecenderungan jangka panjangnya. Data WMO menunjukkan bahwa 11 tahun terakhir merupakan 11 tahun terpanas dalam catatan, sementara pemanasan laut terus berlangsung.

El Niño, La Niña, dan Perubahan Iklim

Ada bagian penting yang perlu dipahami ketika membicarakan perubahan suhu dan musim. El Niño dan La Niña bukan fenomena yang semata-mata muncul karena aktivitas manusia. Keduanya merupakan bagian dari variabilitas alami sistem laut dan atmosfer, terutama di kawasan Pasifik tropis.

Meski demikian, perubahan iklim akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca berlangsung bersamaan dengan fenomena tersebut. WMO mencatat bahwa 2025 tetap menjadi salah satu tahun terpanas meskipun terdapat kondisi La Niña yang memberikan efek pendinginan sementara. Artinya, pendinginan alami dalam periode tertentu tidak menghilangkan tren pemanasan jangka panjang akibat akumulasi gas rumah kaca.

Perkembangan 2026 juga menunjukkan pentingnya memperhatikan suhu laut. Copernicus mencatat bahwa suhu permukaan laut global pada Agustus 2026 mencapai rekor tinggi untuk bulan tersebut. Kondisi laut yang semakin hangat memiliki hubungan dengan berbagai proses atmosfer dan dapat memengaruhi pola cuaca serta iklim di berbagai wilayah.

Karena itu, perubahan iklim tidak tepat dipahami hanya sebagai persoalan “udara semakin panas”. Sistem iklim terdiri dari atmosfer, laut, daratan, es, dan ekosistem yang saling berinteraksi. Perubahan pada salah satu komponen dapat memberikan dampak terhadap komponen lainnya.

Ketika Musim Tidak Selalu Mudah Diprediksi

Perubahan kondisi atmosfer dan laut juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memahami pola musim Indonesia. El Niño, La Niña, suhu muka laut, monsun, serta berbagai fenomena atmosfer dapat memengaruhi distribusi hujan dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

BMKG pada 2024, misalnya, memprediksi adanya perbedaan waktu puncak musim kemarau antarwilayah. Sebanyak 317 zona musim atau sekitar 45,61 persen diperkirakan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus, sementara wilayah lainnya mengalami puncak pada Juli atau September. BMKG juga menjelaskan bahwa kondisi ENSO dan suhu muka laut menjadi bagian dari faktor yang perlu diperhatikan dalam memantau kondisi musim.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa informasi iklim semakin penting bagi kehidupan masyarakat. Petani membutuhkan informasi musim untuk menentukan waktu tanam. Pemerintah membutuhkan data untuk mengantisipasi kekeringan dan banjir. Masyarakat membutuhkan informasi cuaca untuk berbagai aktivitas sehari-hari.

Udara, Air, dan Kehidupan Saling Terhubung

Perubahan pada atmosfer tidak berdiri sendiri. Sistem udara, air, tanah, laut, dan ekosistem saling berhubungan. Perubahan suhu dapat memengaruhi penguapan dan pola hujan. Perubahan curah hujan dapat memengaruhi ketersediaan air. Kekeringan dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, sementara hujan ekstrem dapat meningkatkan risiko banjir dan longsor.

Kondisi tersebut dapat dilihat dari pengalaman Indonesia. Pada 2024, misalnya, BMKG mencatat adanya wilayah yang mengalami Hari Tanpa Hujan dalam periode sangat panjang, dengan rekor 214 hari di Kabupaten Bima. Pada sisi lain, curah hujan tahunan Indonesia pada tahun yang sama juga mencapai 3.205 mm dan menjadi yang tertinggi ketiga sejak 1981. Data tersebut memperlihatkan bahwa persoalan iklim bukan hanya tentang semakin panas atau semakin kering, tetapi juga tentang perubahan dan ketidakmerataan kondisi cuaca antarwilayah.

Tanggung Jawab Tidak Hanya di Tangan Masyarakat

Menjaga kualitas udara membutuhkan tanggung jawab bersama. Masyarakat dapat mengurangi pembakaran terbuka, menggunakan transportasi secara lebih bijak, menghemat energi, dan menjaga vegetasi di lingkungan sekitar. Pelaku usaha memiliki tanggung jawab untuk mengendalikan emisi dan memenuhi ketentuan lingkungan. Pemerintah memiliki peran dalam menetapkan standar, melakukan pemantauan, menyediakan informasi, serta mengawasi kegiatan yang berpotensi menghasilkan pencemaran.

Persoalan lingkungan juga tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta masyarakat mengubah perilaku. Sistem transportasi, tata ruang, kebijakan energi, pengawasan industri, perlindungan hutan, dan pengelolaan sampah ikut menentukan kualitas udara yang diterima masyarakat.

Aktivitas pertambangan, industri, transportasi, pembakaran sampah, kebakaran hutan dan lahan, serta perubahan penggunaan lahan perlu dikelola berdasarkan daya dukung lingkungan. Pengurangan emisi tidak hanya berkaitan dengan perubahan perilaku individu, tetapi juga membutuhkan kebijakan dan sistem yang memungkinkan masyarakat serta pelaku usaha menjalankan aktivitas dengan dampak lingkungan yang lebih rendah.

Menjaga Udara Sebelum Terlambat

Udara sering tidak terlihat, sehingga pencemarannya mudah dianggap sebagai persoalan biasa. Padahal, udara adalah bagian dari ruang hidup yang digunakan setiap makhluk setiap saat.

Menjaga udara berarti menjaga kehidupan. Pengurangan emisi, perlindungan hutan, pengelolaan sampah tanpa pembakaran terbuka, pengendalian aktivitas industri, penggunaan energi yang lebih bersih, serta pemantauan kualitas udara perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Data 2024, 2025, hingga perkembangan 2026 menunjukkan bahwa perubahan suhu bukan sekadar cerita tentang masa depan. Suhu Indonesia pada 2024 menjadi yang tertinggi dalam catatan BMKG, 2025 masih berada dalam enam tahun terpanas, dan Agustus 2026 mencatat anomali suhu +0,95°C dibandingkan normalnya. Di tingkat global, Agustus 2026 bahkan menjadi Agustus terpanas dalam catatan pengamatan Copernicus.

Perubahan iklim mungkin terlihat seperti persoalan global yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Tetapi suhu yang meningkat, perubahan pola hujan, kekeringan, kebakaran hutan, perubahan kondisi laut, serta gangguan terhadap ketersediaan air menunjukkan bahwa perubahan tersebut memiliki hubungan langsung dengan ruang hidup manusia.