Konten dari Pengguna

Belajar Agama dengan AI: Praktis, tapi Apa yang Harus Kita Waspadai?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zacky Al-Ghofir El-Muhtadi Rizal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Pixabay. https://cdn.pixabay.com/photo/2026/03/30/05/50/mohamed_hassan-quran-10199604_1280.png.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pixabay. https://cdn.pixabay.com/photo/2026/03/30/05/50/mohamed_hassan-quran-10199604_1280.png.

Dulu, ketika pelajar ingin memahami ayat Al-Quran, mencari hadis, atau mempelajari materi Pendidikan Agama Islam (PAI), mereka mengandalkan buku, kitab, dan guru. Kini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menawarkan cara yang jauh lebih praktis. Pelajar dapat meminta AI menjelaskan materi agama, membuat rangkuman, mencari referensi awal, bahkan berdiskusi mengenai persoalan keagamaan hanya melalui sebuah percakapan digital.

Fenomena tersebut semakin nyata dalam kehidupan pendidikan. Hasil PISA 2025 menunjukkan bahwa 53% siswa Indonesia menggunakan chatbot AI untuk membantu belajar setidaknya sekali dalam seminggu. Sebanyak 39% menggunakannya untuk merangkum bacaan dan 30% untuk membantu membuat draf tulisan. Data ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian dari aktivitas belajar siswa.

Dalam pembelajaran agama, kehadiran AI tentu memberikan kemudahan. Namun, ada pertanyaan penting yang perlu diajukan: ketika AI digunakan untuk belajar agama, apakah jawaban yang diberikan dapat langsung dipercaya?

AI dapat menjadi teman belajar yang membantu. Pelajar dapat meminta penjelasan tentang iman, akhlak, fikih, sejarah Islam, maupun kandungan ayat dengan bahasa yang lebih sederhana. AI juga dapat membantu membuat pertanyaan diskusi atau memberikan gambaran awal mengenai suatu topik.

Namun, kemudahan tersebut tidak berarti bahwa semua jawaban AI otomatis benar. AI menghasilkan jawaban berdasarkan pola informasi yang dipelajarinya sehingga tetap dapat menghasilkan informasi yang keliru, tidak lengkap, atau tidak sesuai konteks. Dalam persoalan agama, hal ini perlu mendapatkan perhatian lebih serius.

Misalnya, ketika seseorang meminta AI menjelaskan hukum suatu persoalan, mencari hadis, atau menjelaskan tafsir ayat, jawaban yang terlihat meyakinkan belum tentu memiliki dasar keilmuan yang memadai. Karena itu, jawaban AI seharusnya menjadi informasi awal, bukan kesimpulan akhir.

Pelajar perlu membiasakan diri melakukan verifikasi melalui Al-Quran, hadis, kitab, literatur akademik, serta bertanya kepada guru atau ahli yang memiliki kompetensi. Dengan demikian, penggunaan AI justru dapat menjadi kesempatan untuk melatih tabayun dan berpikir kritis.

Persoalan lainnya adalah ketergantungan. AI mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik. Jika kebiasaan ini tidak dikendalikan, pelajar dapat terbiasa meminta AI mengerjakan hampir seluruh proses berpikir: membuat rangkuman, menjawab pertanyaan, menyusun argumen, hingga menarik kesimpulan.

Padahal, belajar bukan hanya tentang mendapatkan jawaban, tetapi juga mengalami proses menemukan jawaban. Data PISA 2025 menunjukkan bahwa hubungan penggunaan AI dengan capaian belajar tidak sederhana. OECD menemukan bahwa penggunaan AI secara moderat dan bertujuan dapat memberikan manfaat tertentu, tetapi penggunaan AI untuk tugas sekolah tanpa keterlibatan kognitif yang memadai tidak selalu berkaitan dengan hasil belajar yang lebih baik.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah AI boleh digunakan atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah untuk apa dan bagaimana AI digunakan.

Dalam pendidikan agama, peran guru tetap penting. Guru tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membimbing cara berpikir, menjelaskan konteks, memberikan keteladanan, dan membentuk akhlak peserta didik. UNESCO juga menekankan bahwa AI dalam pendidikan seharusnya mendukung peran pendidik, bukan menggantikannya.

Belajar agama juga memiliki dimensi yang tidak dapat direduksi menjadi pencarian informasi. Ada adab, konteks, otoritas keilmuan, dan tanggung jawab dalam memahami ajaran agama. Oleh sebab itu, AI lebih tepat ditempatkan sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai guru agama digital.

Pelajar dapat menggunakan AI untuk meminta penjelasan awal, menyederhanakan konsep, menemukan pertanyaan, atau membandingkan gagasan. Setelah itu, proses belajar perlu dilanjutkan melalui sumber yang kredibel dan dialog dengan guru.

Kehadiran AI dalam pembelajaran agama bukan sesuatu yang harus ditolak. Teknologi ini dapat memberikan kemudahan dan membuka berbagai peluang belajar. Namun, kemudahan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan verifikasi, berpikir kritis, dan kesadaran terhadap batasan AI.

AI sebaiknya menjadi alat yang membantu manusia belajar, bukan menggantikan guru dan sumber otoritatif agama. Dengan posisi tersebut, teknologi dapat dimanfaatkan tanpa menghilangkan proses belajar yang mendalam.

Pada akhirnya, persoalannya bukan terletak pada AI semata, melainkan pada cara manusia menggunakannya. Pelajar yang menggunakan AI untuk bertanya, kemudian memeriksa sumber, berdiskusi dengan guru, dan membangun pemahamannya sendiri sedang menjadikan AI sebagai sarana belajar.

Sebaliknya, jika setiap jawaban langsung diterima dan disalin, teknologi justru dapat membuat proses berpikir semakin dangkal.

Karena itu, di era AI, pendidikan agama perlu mengajarkan satu kebiasaan penting: jangan hanya belajar bagaimana bertanya kepada AI, tetapi juga belajar bagaimana mempertanyakan jawaban AI.