Konten dari Pengguna

Belajar Pendidikan Ekologi dari Masyarakat Baduy

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zacky Al-Ghofir El-Muhtadi Rizal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dokumentasi Pribadi. Perjalanan ke Baduy Luar ketika sedang KKN Nusantara 2026
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi. Perjalanan ke Baduy Luar ketika sedang KKN Nusantara 2026

Perjalanan ke Baduy memberi kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah masyarakat membangun hubungan dengan alam. Di tengah kehidupan yang terus bergerak cepat, masyarakat Baduy masih mempertahankan adat dan pola hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka bukan masyarakat yang sepenuhnya terputus dari dunia luar. Interaksi tetap berlangsung, tetapi kehidupan mereka memiliki batas-batas tertentu yang dijaga melalui aturan adat. Bagi masyarakat Baduy, adat bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan pedoman yang mengatur kehidupan sehari-hari.

Kesederhanaan menjadi salah satu hal yang terasa ketika berada di sana. Sandang, pangan, dan papan diupayakan dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sesuai dengan aturan yang berlaku. Alam hadir bukan hanya sebagai tempat tinggal atau sumber kebutuhan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan yang perlu diperlakukan dengan batas dan tanggung jawab.

Salah satu ungkapan yang menarik adalah “Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung.” Secara sederhana berarti “panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung.” Ungkapan tersebut menggambarkan sikap untuk tidak mengubah sesuatu secara sembarangan dan menjalankan aturan sebagaimana mestinya. Hal yang menarik dari kehidupan masyarakat Baduy bukan hanya apa yang mereka lakukan, tetapi bagaimana nilai tersebut diwariskan.

Banyak aturan adat tidak diajarkan melalui buku atau materi tertulis. Anak-anak belajar dengan melihat kehidupan orang di sekitarnya, mengikuti kebiasaan yang berlaku, dan mengalami langsung bagaimana lingkungan diperlakukan. Cara belajar semacam ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Kehidupan sehari-hari juga dapat menjadi ruang pendidikan.

Dalam pendidikan ekologi, gagasan tersebut menjadi penting. Anak tidak cukup hanya mengetahui bahwa hutan harus dijaga, sampah tidak boleh dibuang sembarangan, atau air harus digunakan secara bijak. Mereka perlu mengalami dan membiasakan tindakan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan akan lebih bermakna ketika berubah menjadi kesadaran, kemudian menjadi kebiasaan.

Pendidikan Ekologi Bukan Sekadar Materi

Pendidikan lingkungan sering kali hadir dalam bentuk materi pembelajaran. Peserta didik mempelajari pencemaran, sampah, kerusakan hutan, perubahan iklim, dan berbagai persoalan ekologis lainnya. Semua itu penting. Namun, persoalan lingkungan tidak selesai hanya dengan bertambahnya pengetahuan.

Thomas Lickona, misalnya, menjelaskan pembentukan karakter melalui tiga unsur: moral knowing, moral feeling, dan moral action. Jika digunakan sebagai kerangka untuk melihat pendidikan ekologi, seseorang perlu mengetahui persoalan lingkungan, memiliki kepedulian terhadapnya, kemudian mewujudkannya melalui tindakan.

Di sinilah pembiasaan menjadi penting. Memilah sampah, menghemat air, merawat tanaman, menjaga kebersihan, dan menggunakan barang secara bijak mungkin terlihat sebagai tindakan sederhana. Namun, jika dilakukan terus-menerus, tindakan tersebut dapat membentuk kebiasaan dan karakter ekologis.

Sekolah sebagai Ruang Belajar Ekologi

Sekolah memiliki ruang yang besar untuk membangun pendidikan ekologi. Lingkungan sekolah tidak seharusnya hanya menjadi tempat berlangsungnya pembelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari pembelajaran itu sendiri.

Taman sekolah dapat menjadi ruang untuk belajar merawat kehidupan. Tempat sampah dapat menjadi sarana belajar bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan. Penggunaan air dapat menjadi kesempatan untuk belajar tentang keterbatasan sumber daya. Pendidikan ekologi tidak selalu membutuhkan program yang rumit. Hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat menjadi pengalaman belajar yang kuat.

Peserta didik dapat diajak untuk memahami dari mana air yang mereka gunakan berasal, ke mana sampah yang mereka buang berakhir, mengapa pohon perlu dirawat, dan bagaimana tindakan manusia memengaruhi lingkungan. Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat membuat persoalan ekologi terasa dekat dengan kehidupan mereka.

Kehidupan masyarakat Baduy memberikan ruang untuk melihat bahwa hubungan manusia dengan alam dapat dibangun melalui nilai dan kebiasaan. Kearifan lokal tersebut tidak harus dipindahkan begitu saja ke lingkungan pendidikan. Yang lebih penting adalah melihat prinsip di baliknya: nilai akan lebih kuat ketika dijalankan, bukan hanya dibicarakan.

Pendidikan ekologi karena itu perlu memberi ruang bagi pengalaman langsung. Peserta didik dapat belajar dari lingkungan sekitar, dari masyarakat, dan dari berbagai kearifan lokal yang berkembang di daerahnya. Setiap masyarakat memiliki cara tersendiri dalam membangun hubungan dengan alam. Ketika pendidikan membuka ruang untuk mempelajari keragaman tersebut, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang lingkungan, tetapi juga belajar memahami bahwa manusia memiliki tanggung jawab dalam menjaga ruang hidupnya.

Alam Baduy meninggalkan kesan yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata. Ia terekam oleh mata, terdengar melalui suara hutan yang hidup, dan terasa lewat sejuk udara serta tanah yang dipijak.

Namun, perjalanan tersebut tidak berhenti pada kekaguman terhadap alam. Ada pertanyaan yang ikut dibawa pulang: sudahkah pendidikan mengajarkan kita untuk hidup bersama alam, bukan sekadar belajar tentang alam?

Pertanyaan itu penting karena krisis lingkungan bukan hanya persoalan teknologi atau kurangnya informasi. Di dalamnya terdapat persoalan cara manusia melihat, menggunakan, dan memperlakukan alam. Masyarakat Baduy menunjukkan bahwa nilai dapat menjadi kuat ketika hidup dalam kebiasaan. Pendidikan ekologi pun dapat bergerak ke arah yang sama: dari pengetahuan menuju kesadaran, dari kesadaran menuju tindakan, dan dari tindakan yang dilakukan berulang kali menuju kebiasaan.

Pada akhirnya, belajar dari Baduy bukan tentang menjadi seperti mereka. Yang dapat dibawa pulang adalah sebuah refleksi bahwa menjaga alam membutuhkan pendidikan yang tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga memberi pengalaman untuk hidup bersamanya.