Minyak Melimpah, Makanan Langka: Kenapa Krisis Pangan Hantui Timur Tengah?

Mahasiswa aktif jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Laila Zahira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika dunia melihat Timur Tengah, yang tampak adalah negara-negara kaya minyak dengan gedung tinggi dan kota modern yang bersinar sepanjang malam. Tapi di balik kilau itu, ada kenyataan yang jauh berbeda: kawasan ini adalah salah satu yang paling rentan terhadap krisis pangan di dunia.
Kontras yang aneh. Kaya minyak, tapi kekurangan makanan. Penghasil energi dunia, tapi harus membeli pangan dari luar untuk bertahan hidup.
Lalu, bagaimana bisa wilayah sekaya itu justru terus dihantui ancaman kelaparan?
Sebagian jawabannya ada pada alam. Tidak semua tanah diciptakan untuk ditanami. Dan Timur Tengah adalah salah satu contohnya. Mayoritas wilayahnya adalah gurun kering, panas, dan tidak bersahabat untuk pertanian. Curah hujan minim, air tanah sedikit, dan suhu ekstrem membuat bercocok tanam bukan hanya sulit, tapi juga mahal.
Banyak negara di kawasan ini bahkan tidak punya cukup air untuk kebutuhan dasar warga, apalagi untuk mengairi jutaan hektare lahan pangan.
Di titik ini, minyak memang memberi kekayaan, tetapi tidak bisa menggantikan air.
Karena pertanian hampir mustahil berjalan stabil, impor menjadi satu-satunya pilihan. Negara-negara Teluk, misalnya, membeli hampir seluruh kebutuhan makanannya dari luar. Pangan mereka datang dari kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan bukan dari ladang.
Ini membuat pasar global memegang kendali. Ketika harga dunia naik, mereka ikut terpukul.Ketika jalur perdagangan terganggu, stok pangan ikut terancam. Dan ketika krisis dunia terjadi, pilihan mereka menyempit.
Ketergantungan total seperti ini membuat keamanan pangan rapuh, meski kekayaan melimpah.
Namun, masalahnya tidak berhenti di situ. Perubahan iklim membuat kondisi yang sudah buruk menjadi jauh lebih sulit. Suhu terus naik, kekeringan makin panjang, dan musim makin tidak jelas. Di beberapa wilayah, panasnya bisa mencapai titik yang hampir mustahil manusia bertahan di luar ruangan, apalagi tanaman.
Di tempat yang panas sedikit saja tanamannya mati, bagaimana mungkin bertani secara besar-besaran?
Kita juga tidak bisa menutup mata terhadap konflik. Perang menghancurkan ladang, merusak irigasi, mengusir petani, dan memutus jalur distribusi. Negara seperti Yaman, Suriah, dan Irak adalah contoh nyata bagaimana konflik membuat masyarakat bukan hanya kehilangan rumah, tapi juga kehilangan akses ke makanan.
Krisis pangan bukan hanya soal produksi. Ia juga soal keamanan. Jika negara tidak aman, pasar tidak berjalan, jika pasar tidak berjalan, makanan tidak sampai.
Ada juga sisi kebijakan yang ikut memperumit keadaan. Banyak pemerintah akhirnya memilih jalan pintas: impor besar-besaran dan subsidi pangan untuk menjaga stabilitas. Ini memang meredakan masalah sementara, tetapi bukan solusi jangka panjang.
Subsidi bisa menjaga harga tetap terjangkau, tapi tidak memperkuat pondasi. Dan ketergantungan impor tidak membangun ketahanan.
Selama akar masalahnya tidak disentuh pengelolaan air, inovasi pertanian, dan diversifikasi ekonomi krisis pangan hanya menunggu waktu.
Beberapa negara mencoba beradaptasi. Ada yang membangun pertanian vertikal, ada yang memakai teknologi hidroponik, dan ada yang membeli lahan pertanian di negara lain untuk menjamin pasokan. Ini langkah penting, dan menunjukkan bahwa minyak saja tidak cukup untuk bertahan.
Namun, untuk mengubah kondisi kawasan yang penuh tantangan alam dan politik, semua itu baru sebagian kecil dari perjalanan panjang.
Pada akhirnya, ironi Timur Tengah tetap terasa jelas: kawasan yang memberi energi ke seluruh dunia justru sangat bergantung pada dunia untuk makanannya sendiri. Minyak memang bisa menggerakkan perekonomian, tapi tidak bisa membuat tanah subur.
Selama kebijakan pangan tidak menjadi prioritas utama dan selama kawasan masih diguncang konflik, ancaman kelaparan akan terus mengintai tak peduli seberapa besar kekayaan minyak yang dimiliki.
Sebuah pengingat bahwa kemakmuran tidak selalu menjamin ketahanan. Dan bahwa pangan, yang sering dianggap hal paling sederhana, justru bisa menjadi titik paling rapuh dari sebuah kawasan sekaya Timur Tengah.
