Masakan, Keluarga, dan Cerita yang Berbeda

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Zahra Nur Rahma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memasak kerap dipandang sebagai wilayah yang lekat dengan perempuan. Di meja makan dan dapur rumah tangga, perempuan sering ditempatkan sebagai penjaga rasa, penentu kenyamanan, sekaligus penopang kehidupan keluarga. Pandangan semacam ini tidak hanya hadir dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga berulang kali muncul dalam karya sastra. Cerpen Semangkuk Perpisahan di Meja Makan karya Miranda Seftiana dan Lidah Masakan Ibu karya Edwin sama-sama menjadikan dapur dan aktivitas memasak sebagai pusat cerita. Namun, meskipun berangkat dari ruang yang serupa, kedua cerpen ini memotret pengalaman perempuan dengan cara yang berbeda. Untuk membaca perbedaan tersebut, tulisan ini menggunakan pendekatan kritik sastra feminis, khususnya aliran perempuan sebagai pembaca sebagaimana dikemukakan Elaine Showalter. Pendekatan ini menempatkan pengalaman perempuan sebagai titik tolak pembacaan dengan memberi perhatian pada citra perempuan, peran yang dilekatkan kepadanya, serta cara perempuan memaknai peran tersebut dalam kehidupan. Dalam konteks ini, kritik feminis tidak selalu bertujuan mencari penindasan, melainkan memahami bagaimana perempuan menjalani, merespons, dan memberi arti atas peran-peran yang hadir dalam hidupnya.
Perbedaan mendasar antara kedua cerpen tampak sejak cara suara perempuan dihadirkan. Dalam Semangkuk Perpisahan di Meja Makan, pengalaman perempuan disampaikan secara langsung melalui sudut pandang orang pertama. Hal ini terlihat dalam kalimat,
“Saya merasa tidak setuju, terlebih ketika hidup sudah nyaris-nyaris mirip di surga urusan lapar dan makan.”
Dari sudut pandang perempuan sebagai pembaca, penggunaan kata “saya” membuat kegelisahan tokoh terasa dekat dan nyata. Pembaca perempuan diajak masuk ke dalam pikiran tokoh yang mempertanyakan kembali relevansi peran memasak di tengah perubahan zaman.
Sebaliknya, dalam Lidah Masakan Ibu, suara perempuan lebih banyak hadir secara tidak langsung melalui ingatan dan sudut pandang tokoh laki-laki. Hal ini tampak dalam kalimat,
“Betapa ia mencintai dapur, seperti mencintai mamaknya sendiri.”
Meskipun perempuan tidak menjadi pencerita utama, dari perspektif perempuan sebagai pembaca, keberadaannya justru menjadi pusat emosional cerita. Perempuan hadir sebagai sosok yang dikenang, dirindukan, dan memberi makna mendalam bagi kehidupan tokoh lain.
Perbedaan cara menghadirkan suara ini berpengaruh pada bagaimana dapur dimaknai. Dalam cerpen Miranda, dapur diposisikan sebagai ruang yang problematis dan perlu dinegosiasikan ulang. Tokoh perempuan mempertanyakan keberadaannya ketika berkata,
“Begitu mudah hidup sekarang, mengapa harus kembali mengakrabi wajan dan api?”
Dari sudut pandang perempuan sebagai pembaca, kalimat ini mencerminkan pengalaman perempuan modern yang tidak lagi menerima peran domestik secara otomatis. Dapur bukan ruang yang ditolak sepenuhnya, tetapi ruang yang maknanya dipikirkan ulang.
Sebaliknya, dapur dalam cerpen Edwin tidak hadir sebagai ruang konflik. Hal ini terlihat dalam pernyataan,
“Memasak adalah suatu kemampuan untuk bertahan hidup, memasak tidak berkaitan dengan jenis kelamin atau bahkan gender tertentu.”
Dari sudut pandang perempuan sebagai pembaca, pernyataan ini membuka kemungkinan pembacaan bahwa dapur dapat menjadi ruang netral dan bahkan ruang penyembuhan. Aktivitas memasak tidak lagi dibebankan pada perempuan semata, melainkan dipahami sebagai keterampilan hidup yang bersifat universal.
Relasi perempuan dengan generasi sebelumnya juga memperlihatkan perbedaan yang signifikan. Dalam Semangkuk Perpisahan di Meja Makan, hubungan ibu dan anak perempuan diwarnai ketegangan emosional. Hal ini tampak dalam ungkapan,
“Perempuan itu seperti sekotak bumbu dapur.”
Bagi pembaca perempuan, metafora ini bersifat ambivalen. Di satu sisi, perempuan kembali dilekatkan pada wilayah domestik, tetapi di sisi lain, perempuan diposisikan sebagai penentu rasa dan keseimbangan kehidupan keluarga. Pengalaman perempuan di sini tidak hitam-putih, melainkan penuh negosiasi antara tuntutan dan kesadaran diri.
Sementara itu, dalam Lidah Masakan Ibu, perempuan tua lebih dimaknai sebagai warisan dan kesinambungan nilai. Hal ini terlihat dalam kalimat,
“Resep Mamak matang dan ideal untuk dijajakan, masakan yang besar di dapur-dapur rumahan.”
Dari sudut pandang perempuan sebagai pembaca, pengalaman dan pengetahuan perempuan tidak dianggap remeh, tetapi justru dihargai dan diwariskan. Perempuan tidak hadir sebagai pemberi tekanan, melainkan sebagai sumber pengetahuan dan cinta.
Perbedaan sikap perempuan terhadap perannya juga tampak jelas. Dalam cerpen Miranda, perempuan berada dalam posisi antara tidak sepenuhnya menolak, tetapi juga tidak sepenuhnya menerima. Keputusan tokoh perempuan di akhir cerita,
“Saya hanya mau Ibu bahagia karena putrinya bisa memasak,”
menunjukkan bahwa memasak akhirnya dimaknai sebagai pilihan sadar. Dari sudut pandang perempuan sebagai pembaca, keputusan ini memperlihatkan bahwa tokoh perempuan memiliki kendali atas tindakannya sendiri dan mampu memberi makna atas peran yang ia jalani, bukan sekadar menjalankan tuntutan orang lain.
Sebaliknya, dalam cerpen Edwin, tokoh perempuan seperti Raila digambarkan menerima perannya tanpa konflik batin yang menonjol, sebagaimana terlihat dalam kalimat,
“Istrinya, Raila, tak keberatan, juga tak pernah mengajukan tanya mengenai syarat itu.”
Sikap ini, dari perspektif perempuan sebagai pembaca, tidak serta-merta menunjukkan ketidakberdayaan, melainkan penerimaan yang lahir dari rasa percaya dan kenyamanan dalam relasi rumah tangga.
Dengan demikian, melalui pembacaan komparatif menggunakan kritik sastra feminis aliran perempuan sebagai pembaca, kedua cerpen ini sama-sama menempatkan perempuan di pusat makna, tetapi dengan pendekatan yang berbeda. Semangkuk Perpisahan di Meja Makan menampilkan pengalaman perempuan sebagai proses perenungan dan negosiasi diri di tengah perubahan zaman, sementara Lidah Masakan Ibu menghadirkan perempuan sebagai sumber kehangatan, memori, dan kesinambungan nilai keluarga. Perbandingan ini menunjukkan bahwa pengalaman perempuan dalam sastra tidak tunggal, melainkan berlapis, beragam, dan sangat bergantung pada cara perempuan sebagai pembaca memaknainya.
DAFTAR PUSTAKA
Showalter, Elaine. Ed. 1985. The New Feminist Criticism: Essays on Women, Literature, and Theory. New York: Pantheon.
Wiyatmi. 2012. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.
