Mie Ayam yang Tak Pernah Kupesan, Jadi Favorit Karena Kenangan Bersama Teman

Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Zahra Nur'aini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada makanan yang kita cintai karena rasanya. Ada pula yang kita simpan karena kenangannya. Mie ayam, bagiku, masuk ke kategori yang kedua.
Dulu, aku selalu menolak tawaran orang tuaku ketika mereka menyodorkan semangkuk mie ayam. Terasa biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari mie kuning dengan ayam kecap dan sedikit kuah itu. Rasanya terlalu umum untuk disebut favorit.
Hingga suatu sore di bulan puasa, semuanya berubah.
Aku berbuka puasa di rumah salah satu teman. Kami masih berseragam sekolah, rambut sedikit berantakan, perut berteriak meminta makan. “Yuk, beli mie ayam saja,” ajak salah satu teman, sambil tersenyum dan menepuk punggungku. Aku mengangguk, ikut tanpa harapan apa pun.
Warungnya sederhana: meja kayu, kursi plastik, aroma minyak goreng dan kuah ayam hangat mengepul di udara. Motor dan suara klakson melintas di luar, tapi di dalam, tawa teman-teman memenuhi ruang kecil itu. Saat mangkuk-mangkuk itu datang, uapnya menari di udara, mengaburkan sebentar wajah kami yang berseri-seri.
Aku mengambil sendok pertama. Kuah hangat menempel di bibir, mie lembut meluncur ke mulut. Rasanya? Sama seperti mie ayam yang dulu kuabaikan. Tapi kali ini berbeda. Aku menatap teman-teman di sekeliling meja, mereka tertawa, saling bercanda, mendorong kursi, dan menceritakan hal-hal kecil yang tiba-tiba terasa hidup. Suara tawa mereka pecah di udara, dan aku merasa hangat, bukan dari kuahnya, tapi dari suasana di sekitar.
Sejak hari itu, setiap kali berkumpul, mie ayam selalu ada. Seusai ujian, setelah les, atau sekadar ingin duduk lebih lama, mangkuk-mangkuk itu selalu memenuhi meja kami. Tidak ada kata perpisahan yang muluk, tidak ada seremoni. Hanya kuah mengepul, sendok yang bergerak, dan tawa yang menempel di memori.
Di hari terakhir sebelum lulus, kami duduk di warung yang sama. Matahari perlahan turun, langit oranye menyelimuti jalan. Aku mengambil mangkuk mie ayam dan tersenyum melihat teman-teman. “Ini terakhir kita makan di sini bareng-bareng,” bisik salah satu teman. Tidak ada yang menanggapi secara dramatis, hanya tawa kecil dan percakapan ringan yang terasa begitu berat karena kami tahu, momen ini mungkin tidak akan terulang.
Sejak itu, mie ayam menjadi makanan favoritku. Bukan karena rasanya yang istimewa, tapi karena setiap mangkuk membawa kembali tawa, percakapan ringan, dan kebersamaan yang sederhana.
Pengalaman seperti ini ternyata bukan hanya milikku. Dari media sosial, aku menemukan banyak cerita serupa. Seorang pengguna TikTok bercerita bahwa dulu ia hampir setiap hari makan mie ayam bersama istrinya. Setelah sang istri meninggal, ia berhenti memesan mie ayam. Ketika akhirnya mencoba lagi, rasanya biasa saja. Tapi tatapan kosong ke kursi yang dulu ditempati sang istri membawa kembali kehangatan kenangan. “Bukan rasanya yang aku rindukan,” tulisnya, “tapi momen yang kami habiskan bersama.”
Cerita lain datang dari seorang anak yang kini menjadikan bubur tanpa kaldu ayam sebagai favorit karena itu adalah makanan terakhir yang diminta ayahnya sebelum meninggal. Setiap suapan membawa kembali aroma dapur pagi hari, suara lembut ayahnya, dan kebiasaan sederhana yang kini tak terganti.
Dari mie ayam hingga bubur sederhana, satu hal terlihat jelas: rasa makanan tidak selalu lahir dari lidah. Ia lahir dari momen, dari kebersamaan, dari kenangan yang tersimpan.
Kini, meski aku dan teman-teman jarang bertemu, aku sesekali memesan mie ayam. Duduk di warung kecil, sendok di tangan, uap mengepul, aku tersenyum sendiri. Suara motor lewat, aroma kuah hangat, tawa di memori, semuanya hadir kembali. Mie ayam, yang dulu kuabaikan, kini menjadi penanda waktu, kenangan, dan persahabatan.
Kenangan yang tersimpan dalam semangkuk mie ayam ini membuktikan satu hal: makanan bisa lebih dari sekadar rasa. Ia bisa menjadi pintu ke masa lalu, saksi bisu kebersamaan, dan pengingat bahwa momen sederhana seringkali lebih berharga daripada yang terlihat di permukaan.
Dari semangkuk mie ayam, aku belajar: rasa yang paling bermakna lahir dari momen dan orang-orang yang kita bagi bersama, bukan dari rasa makanan itu sendiri.
